BAB 18 – Dua Peta, Dua Jalan
Lee Garden Plaza – HaT Yai -Thailand
Pagi di Hat Yai datang lebih cepat daripada yang dibayangkan Cahya. Dari jendela kamarnya di lantai dua Silla House, sinar matahari telah menyentuh atap-atap ruko di sepanjang Niphat Uthit Road. Warung-warung mulai membuka pintu. Aroma roti panggang dan teh susu menguar dari kedai di sudut jalan. Para wisatawan Malaysia dan juga wajah-wajah pelancong Indonesia, berjalan santai sambil membawa kantong belanja. Kota itu tampak damai. Sulit membayangkan bahwa di balik keramahan itu, begitu banyak perjalanan gelap pernah dimulai.
Cahya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana jins hitam. Ia sengaja memilih pakaian sederhana agar tidak menarik perhatian. Ranselnya ditinggalkan di hostel. Yang ia bawa hanya tas selempang kecil berisi paspor, uang, telepon genggam, buku catatan, dan sebuah pulpen.
Sebelum keluar kamar, ia membuka kembali pesan Rinto. "Jangan percaya siapa pun yang menawarkan bantuan." Pesan itu dibacanya dua kali. Lalu ia memasukkan telepon genggam ke dalam saku.
"Aku tidak mencari bantuan," gumamnya pelan.
"Aku hanya mencari informasi."
Lee Garden Plaza mulai ramai ketika Cahya tiba. Ia datang hampir tiga puluh menit lebih awal. Bukan karena takut terlambat. Tetapi karena ia ingin mengenali tempat itu lebih dulu. Ia memilih duduk di sebuah kedai kopi yang menghadap pintu masuk utama. Dari tempat itu hampir seluruh area plaza dapat terlihat. Kebiasaan memperhatikan orang-orang, yang dahulu sering dijelaskan dosen psikologi sebagai latihan observasi perilaku, kini muncul dengan sendirinya. Seorang anak kecil berlari mengejar balon. Pasangan lansia asal Malaysia saling bergandengan tangan. Seorang pemuda Thailand membawa dua koper besar. Dua perempuan Jepang sibuk memotret. Semua tampak biasa.
Tepat pukul sepuluh. Seorang lelaki menghentikan langkahnya beberapa meter dari meja Cahya.
"Maaf..."
"Mbak Cahya?"
Cahya mengangkat wajah. Lelaki itu tersenyum tipis. "Nama saya Yanto."
Usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya kurus. Kulitnya sedikit lebih gelap dibanding foto profil yang semalam sempat ia lihat. Ia mengenakan jaket gunung abu-abu dan celana kargo yang sudah mulai pudar warnanya. Yang membuat Cahya sedikit tenang...Wajah lelaki itu memang sama dengan foto profil yang sempat dilihatnya. Berarti semalam ia tidak salah melihat.
"Saya duduk di sini saja?" tanya Yanto.
"Boleh."
Yanto tidak langsung berbicara. Ia justru memanggil pelayan. "Dua Thai Tea." Cahya buru-buru menggeleng. "Saya bayar sendiri." Yanto tersenyum. "Saya juga." Kalimat sederhana itu membuat kecanggungan sedikit mencair.
Beberapa menit mereka hanya saling diam. Yanto memandang keramaian plaza.
Kemudian berkata pelan.
"Kalau Mbak merasa saya mencurigakan..."
"...setelah lima menit silakan pergi."
"Saya tidak akan mengikuti."
Cahya memperhatikan wajahnya. Nada bicaranya datar. Tidak memaksa. Tidak pula berusaha terlihat ramah secara berlebihan. Justru itu yang membuat Cahya sedikit percaya.
"Apa benar Mas mencari kakak?"
Yanto mengangguk. Ia membuka dompetnya. Mengeluarkan sebuah foto yang sudah mulai kusut. Di foto itu tampak seorang lelaki tersenyum mengenakan seragam perusahaan berwarna biru tua. Di belakangnya terdapat tulisan dalam aksara Khmer.
"Itu kakak saya."
"Foto terakhir."
"Delapan bulan lalu."