BAB 19 — Khao San Road – Pusat Transaksi
Bangkok, Thailand.
Bus malam yang ditumpangi Cahya akhirnya memasuki Terminal Mo Chit ketika matahari baru naik setinggi pucuk gedung-gedung di Bangkok. Delapan belas jam perjalanan dari Hat Yai terasa seperti sebulan. Lehernya pegal. Bahunya terasa berat karena hampir sepanjang perjalanan ia tidak benar-benar bisa tidur. Namun begitu menginjakkan kaki di terminal, Cahya justru merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak lagi merasa seperti orang asing. Mungkin karena selama beberapa hari terakhir ia telah melewati tiga negara. Malaysia. Thailand. Dan sebentar lagi Kamboja. Rasa takut yang dulu memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi kewaspadaan. Ia mulai belajar memperhatikan orang. Belajar membaca arah. Belajar mengenali siapa yang terlalu ramah. Siapa yang terlalu banyak bertanya. Dan siapa yang sengaja menghindari tatapan mata.
Dari terminal, Cahya menaiki bus kota menuju kawasan Banglamphu. Nama itu tidak terlalu terkenal bagi wisatawan Indonesia. Tetapi satu jalan kecil di dalamnya dikenal hampir seluruh backpacker dunia. Khao San Road. Jalan yang tidak pernah benar-benar tidur. Di kanan kirinya berjajar hostel murah. Warung Thailand. Kedai kopi. Penjual buah. Penjual pisang bakar. Toko perlengkapan perjalanan. Laundry. Money changer. Agen bus internasional. Dan tidak ketinggalan pemandangan sehari-hari orang-orang tua dan ibu-ibu yang sibuk menghitung lembar undian lotre disepanjang gang-gang kecil di Bangkok. Ya, di bangkok lotre adalah semacam hiburan, dan juga bisinis yang menggiurkan.
Hampir semua orang yang ingin berkeliling Asia Tenggara pernah melewati jalan itu. Ada yang datang untuk berpesta. Ada yang datang mencari teman seperjalanan. Ada pula yang datang......untuk menghilang.
Cahya memilih sebuah hostel dormitory sederhana. Satu kamar berisi delapan tempat tidur. Kasurnya kecil. Lemarinya hanya cukup untuk sebuah ransel. Tetapi tarifnya hanya tiga ratus baht. Ia tersenyum kecil. "Ayah pasti memilih tempat seperti ini juga..."Entah mengapa, setiap keputusan yang diambilnya selalu dihubungkan dengan ayahnya. Seolah-olah ia sedang berjalan mengikuti jejak seseorang yang baru saja meninggalkan bekas langkah.
Setelah mandi dan beristirahat hampir dua jam, Cahya membuka kembali amplop kecil pemberian Yanto. Di dalamnya terdapat peta sederhana. Bukan peta wisata. Melainkan peta jalur, dengan pulpen merah. Panah-panah kecil. Nama kota. Terminal. Pelabuhan. Gudang. Dan beberapa lingkaran yang diberi tanda silang. Di bagian bawah hanya ada satu kalimat. "Kalau jalur selatan sudah diketahui aparat... mereka akan memakai jalur yang lebih sepi." Cahya menelusuri garis merah itu. Hat Yai. Bangkok. Aranyaprathet. Poipet. Sisophon. Thailand Utara. Lalu...hilang. Tidak ada lagi petunjuk dari peta buatan Yanto. Seolah setelah memasuki Kamboja...semua orang lenyap.
Menjelang sore, Cahya berjalan menyusuri Khao San Road. Ia sengaja tidak membawa seluruh uangnya. Paspor tetap ia simpan dalam money belt yang tersembunyi di balik pakaian. Pelajaran itu ia dapat dari grup Backpacker Indonesia. Ia mulai memahami bahwa bepergian bukan hanya soal berpindah tempat. Tetapi juga belajar menjaga diri. Di sepanjang jalan terdengar berbagai bahasa. Inggris. Prancis. Jerman. Mandarin. Jepang. Sesekali terdengar bahasa Melayu. Bahkan bahasa Indonesia.
Seorang pedagang mangga tersenyum ketika melihat Cahya. "Indonesia?" Cahya mengangguk. Pedagang itu tertawa. "Ramai orang Indonesia di sini." Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi justru membuat Cahya berpikir. Ramai...Indonesia. Wisatawan? Atau...pekerja? Cahya berhenti sejenak, matanya tertarik pada penjual disamping bapak yang menyapanya. Diatas gerobak kecilnya, seorang ibu setengah baya menjual bunga segar. Sebagai penjaga toko bunga, Cahya tentu saja sangat tertarik dengan cara ibu itu memasarkan bunga. Tak ada yang seperti itu di Indonesia. Ibu itu dengan ramah mengajak Cahya singgah dan memperkenalkan jenis-jenis bunga yang Cahya sudah tahu. Tapi Cahya memilih untuk tidak menunjukkan pengetahuannya tentang bunga. Yang menarik bagi Cahya, ibu itu mengerti sedikit-sedikit bahasa Indonesia. Ibu dengan ramah bercerita panjang lebar bahwa dulu pemilik dagangannya adalah orang Indonesia, ia hanya datang membantu menjual dipagi hari sampai siang. Tetapi sejak setahun lalu, pemiliknya menerima tawaran bekerja di luar Bangkok. Dan ibu itu tidak mengerti pekerjaannya apa dan dimana.
“ Ini mawar jenis shurb” Cahya tahu maksud ibu didepannya adalah mawar jenis semak, karena bentuknya yang rimbun. Mawar semak tahan terhadap berbagai cuaca dan penyakit. Tumbuh di daerah tropis. Ibu itu melanjutkan memperkenalkan jenis mawar yang lainnya, mawar climbing dan flori. Selain mawar ibu itu juga menjual berbagai jenis anggrek. Saat bercakap-cakap dengan ibu itu, Cahya berpikiran untuk menanyakan tentang tempat-tempat yang sering dikunjungi orang-orang Indonesia.
“Apakah orang Indonesia sering datang kesini Bu?” Cahya memulai membuka topik lain selain bunga. Saat itulah Cahya merasa ada sesuatu yang aneh di ibu itu. Raut wajah ibu itu tiba-tiba berubah. Ia melihat sekeliling, lalu mendekat ke Cahya.
“Sebenarnya kamu berwisata atau mencari seseorang?”
“Memang kenapa bu?” tanya Cahya penuh curiga
“Bulan lalu, beberapa orang juga datang kesini mencari keluarganya. Katanya sudah berbulan-bulan tidak pulang ke Indonesia”
Cahya menarik nafas panjang mendengar jawaban ibu penjual bunga. Pikiran Cahya mulai semakin penasaran. Ia lalu membuka galery HP-nya