Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #20

BAB 20 - Perburuan Dimulai

BAB 20 – Perburuan Dimulai

Sungai Chao Phraya - Bangkok, Thailand

Malam turun perlahan di atas Sungai Chao Phraya. Sungai ini membentang sepanjang 372 kilometer yang mengalir melewati kota Bangkok hingga bermuara ke Teluk Thailand. Sumber airnya berasal dari empat sungai yaitu sungai Nan, Wang, Yom dan Ping. Disepanjang sungai ini para wisatawan bisa menikmati tempat-tempat wisata yang populer di Thailand. Ada Kuil Buddha yang terkenal dengan sebutan Wat Arun, tepat berdiri ditepi barat sungai. Ada Grand Palace yang merupakan kompleks istana raja. Dan bagi yang hoby berbelanja, ada Mal terbesar di Bangkok, Iconsiam.

Cahaya lampu kapal wisata memantul di permukaan air yang tenang, sementara di balik gemerlap kota, kehidupan lain bergerak tanpa pernah muncul di brosur-brosur pariwisata.

Di sebuah gedung tua berlantai tiga yang tampak seperti gudang ekspedisi biasa, sebuah ruangan sempit masih menyala. Di dalamnya hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi besi, sebuah pendingin ruangan yang berdengung pelan, dan beberapa telepon genggam yang diletakkan berjajar. Rudi Sitepu duduk sendirian. Tangannya memutar-mutar sebuah pena, sementara matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta Asia Tenggara. Beberapa titik berwarna merah tampak berkedip di wilayah Thailand, Malaysia, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Setiap titik mewakili jalur yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi bisnis mereka. Sebagian besar titik itu, kini telah mati.

Operasi militer Kamboja sebulan lalu membuat banyak jalur terputus. Gudang-gudang ditinggalkan. Sopir-sopir menghilang. Beberapa orang kepercayaan mereka tertangkap. Sebagian lain... memilih berbicara kepada aparat demi menyelamatkan diri. Rudi mengembuskan napas panjang. Ia tahu jaringan sebesar ini tidak akan runtuh hanya karena satu operasi. Tetapi untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.

Seseorang sedang memburu mereka. Telepon satelit di sudut meja bergetar pelan. Layar kecilnya hanya menampilkan satu kode. GZ-09. Rudi segera mengangkatnya.

"Ya." Suara di seberang terdengar berat. Berbahasa Inggris dengan logat Mandarin yang kental.

"Kami membutuhkan satu donor."

Rudi diam.

"Golongan darah AB."

Rudi masih tidak menjawab.

"Laki-laki."

"Usia empat puluh lima sampai lima puluh lima."

"Tidak memiliki penyakit kronis."

"Kondisi fisik masih baik."

Rudi mengambil buku kecil dari laci. Ia membuka beberapa halaman yang mulai kusam. Buku itu tidak memiliki nama perusahaan. Tidak ada logo. Hanya daftar orang-orang yang pernah diberangkatkan melalui jalur mereka. Nama. Usia. Asal daerah. Pekerjaan. Golongan darah. Semuanya ditulis rapi. Ia membalik halaman demi halaman. Matanya berhenti pada satu nama. Karmin bin Sulaiman. Usia empat puluh tujuh tahun. Asal Surabaya. Golongan darah...AB. Rudi menatap nama itu beberapa detik lebih lama.

"Masih hidup?" tanya suara di seberang.

Rudi tidak langsung menjawab. Ia teringat laporan terakhir dari perbatasan utara Kamboja. Saat penggerebekan di Svay Rieng terjadi, ada dua puluh tiga pekerja yang berhasil dipindahkan keluar sebelum tentara datang. Salah satunya...Karmin.

"Itu berarti..." gumamnya pelan.

"...dia belum ditemukan."

Suara di seberang kembali terdengar.

Lihat selengkapnya