BAB 21 – Perjuangan Seorang Sahabat
Surabaya - Indonesia
Pagi itu, halaman Polsek Waru mulai ramai. Beberapa kendaraan dinas keluar masuk halaman. Para anggota sibuk berganti giliran piket. Di ruang pelayanan, masyarakat mulai berdatangan mengurus laporan kehilangan dan surat-surat. Tetapi sejak semalam, pikiran Rinto tidak pernah benar-benar berada di kantor itu. Matanya memang menatap layar komputer. Tangannya memang mengetik laporan. Namun pikirannya terus berada ribuan kilometer jauhnya. Bangkok.
Rinto membuka kembali peta digital di layar telepon genggamnya. Titik terakhir yang dibagikan Cahya melalui fitur lokasi masih tersimpan. Khao San Road. Sudah dua hari tidak ada pembaruan. Semakin lama ia memandang layar itu, semakin besar perasaan tidak tenang yang memenuhi dadanya. Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.
"Rinto."
Ia segera berdiri.
"Siap, Komandan."
Kapolsek menatapnya beberapa saat. Beliau sudah mengenal Rinto sejak pertama kali bertugas di Banyuwangi. Polisi muda itu dikenal disiplin. Tidak banyak bicara. Hampir tidak pernah mengambil cuti kecuali ketika ibunya sakit dua tahun lalu.
"Masuk ke ruangan saya."
Ruangan Kapolsek sederhana. Di dinding tergantung foto Presiden dan Wakil Presiden, lambang Garuda, serta peta wilayah hukum Polsek Waru. Dibelakangnya ada lemari berebentuk rak berisi berkas-berkas. Kapolsek mempersilakan Rinto duduk.
"Ada apa, Pak?"
Kapolsek tidak langsung menjawab. Ia membuka sebuah map berwarna biru.
"Ini laporan dari Direktorat."
Rinto memperhatikan.
"Laporan mengenai jaringan TPPO."
Kapolsek menghela napas. "Ada perkembangan baru." Beliau mendorong map itu ke arah Rinto.
"Orang yang kamu cari..."
"...Rudi Sitepu."
"...terdeteksi berada di Thailand."
Jantung Rinto berdegup.
"Bangkok?"
Kapolsek mengangguk.
"Diduga."
Rinto menundukkan kepala. Semua potongan informasi kini mulai menyatu. Cahya berada di Bangkok. Rudi juga berada di kota yang sama. Dan Cahya...tidak tahu siapa yang sedang memburunya.
"Pak..."
Rinto akhirnya memberanikan diri. "Saya ingin mengajukan cuti." Kapolsek mengangkat wajah.
"Cuti?"
"Ya, Pak."