Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #22

BAB 22 - Bayangan di Tepi Chao Phraya

BAB 22 – Bayangan di Tepi Chao Phraya

Chao Phraya - Bangkok

Pagi itu Bangkok sudah hidup sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Dari jendela kamar dormitory sederhana di kawasan Khao San Road, Cahya melihat para pedagang mulai membuka kios. Aroma kopi, roti panggang, dan sup hangat bercampur dengan udara lembap yang naik dari Sungai Chao Phraya. Tetapi semalaman Cahya hampir tidak tidur. Matanya kembali menatap layar telepon genggam. Pesan tanpa nama itu masih tersimpan.

"Kalau benar ingin menemukan ayahmu... datang besok pukul 09.00. Datang sendiri." Tidak ada nama pengirim. Tidak ada foto profil. Hanya sebuah titik koordinat. Cahya membuka aplikasi peta. Ia memperbesar lokasi itu berkali-kali. Bukan terminal. Bukan stasiun. Bukan hotel. Bukan pula kawasan wisata.

Lokasi itu berada di kawasan pergudangan tua di pinggir Sungai Chao Phraya. Ia menarik napas panjang.

"Kalau ini jebakan..."

"...mengapa mereka justru memanggilku?"

Ia lalu mengambil buku catatan kecilnya. Dengan hati-hati ia menyalin seluruh koordinat ke dalam buku itu. Setelah memastikan semuanya benar, ia menghapus pesan tersebut dari teleponnya. Entah mengapa, sejak semalam ia merasa teleponnya bukan lagi tempat yang aman menyimpan sesuatu

Pukul delapan kurang seperempat. Cahya keluar dari hostel seperti wisatawan biasa. Ia sengaja berjalan santai. Masuk ke sebuah minimarket. Membeli air mineral. Sebungkus roti. Lalu berhenti beberapa menit di kios kecil yang menjual kartu pos Bangkok. Ia bahkan membeli satu lembar bergambar Wat Arun. Bukan karena membutuhkannya. Tetapi karena ia ingin memastikan... ...apakah benar ada seseorang yang sedang mengikutinya.

Cahya mengikuti peta dari penelusuran Google Maps yang oleh orang yang memintanya bertemu di Sunga Chao Phraya. Naluri perempuannya mengatakan agar jangan pergi. Tapi pelajaran mata kuliah psikologi kriminal yang bertahun-tahun dipelajarinya dikampus membuatnya yakin dan berani. Ia tahu, manusia hanya bisa kalah pada pikirannya. Bukan oleh tubuhnya. Selama pikirannya hidup dan meminta tubuh bergerak, maka tubuh akan mengikuti. Bagitu teori yang sering ia baca dalam beberapa mata kuliahnya.           

Di tempat lain...

Seorang lelaki duduk di dalam mobil berwarna abu-abu yang terparkir sekitar seratus meter dari hostel Cahya. Matanya tidak pernah lepas dari layar telepon. Sebuah pesan masuk.

"Target keluar."

Ia hanya membalas singkat.

"Ikuti."

Tak lama kemudian balasan lain muncul.

"Perlu diamankan?"

Jawaban itu datang lebih cepat.

"Belum."

"Biarkan dia berjalan."

"Kita ingin tahu siapa yang akan menemuinya."

Lelaki itu lalu mematikan layar telepon. Namanya tidak pernah disebut. Wajahnya pun belum terlihat jelas.

Lihat selengkapnya