BAB 23 – Gudang Nomor Tujuh
Perbatasan Utara Kamboja
Kabut pagi masih menggantung rendah di antara pepohonan hutan ketika suara rantai besi bergesekan memecah kesunyian. Di balik jalan tanah yang nyaris tak terlihat di peta, berdiri beberapa bangunan beratap seng tua yang catnya telah lama mengelupas. Dindingnya terbuat dari papan-papan kasar yang mulai lapuk dimakan hujan dan panas. Di sekelilingnya terbentang pagar kawat berduri setinggi dua meter, dijaga beberapa lelaki bersenjata. Tidak ada papan nama. Tidak ada alamat. Tempat itu seolah sengaja dihapus dari dunia. Hanya suara burung hutan dan deru generator tua yang terdengar bergantian.
Di dalam salah satu gudang, puluhan lelaki duduk bersandar di lantai semen yang dingin. Sebagian masih muda. Sebagian telah beruban. Wajah mereka menyimpan kelelahan yang sama.
Di sudut ruangan, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tujuh tahun sedang menuangkan air dari ember plastik ke dalam gelas-gelas bekas.
"Pelan-pelan... semua kebagian," katanya lirih.
Tangannya kurus. Kulit lengannya dipenuhi bekas luka dan memar yang mulai menghitam. Namun sorot matanya tetap tenang. Ia menyodorkan segelas air kepada seorang pemuda yang sejak semalam demam.
"Minum dulu."
"Nanti badanmu lebih enakan."
Pemuda itu menerimanya dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Pak..."
Lelaki itu hanya tersenyum. Di tempat seperti itu...senyum adalah kemewahan. Sudah lebih dari sebulan mereka dipindahkan dari kompleks perusahaan scam di Svay Rieng. Malam ketika militer Kamboja menyerbu, sebagian besar pekerja memang berhasil diselamatkan. Tetapi tidak semua. Dua puluh tiga orang dipaksa naik ke dalam truk sebelum pasukan tiba. Mereka dibawa semalaman melewati jalan-jalan hutan. Sejak itu...tak seorang pun mengetahui keberadaan mereka.
Menjelang siang, jatah makan dibagikan. Hanya nasi putih. Sedikit sayur. Dan sepotong ikan asin. Lelaki berusia empat puluh tujuh tahun itu justru membagi sebagian makanannya kepada pemuda yang demam tadi.
"Bapak sendiri belum makan." Tanya lelaki muda yang sudah lama bersama lelaki yang menyodorkan makan. Mereka satu grup di perusahaan milik orang China di kamboja. Mandor mereka lebih sering menyebutnya pabrik. Tugasnya sederhana. Mengetik dan mengirim pesan yang sudah ter-enskripsi. Mereka mengirim keseluruh penjuru Asia Tenggara. Terutama Indonesia. Indonesia menjadi pasar yang paling menguntungkan untuk produk-produk judi online. Kadang lelaki muda itu kasihan dengan bapak itu. Satu bulan pertama ia mengenalnya, dialah yang mengajarinya menggunakan komputer. Bapak itu mengaku hanya supir selama belasan tahun saat pertama kali bertemu dan ditempatkan dibawah koordinasinya. Lelaki muda itu menjadi menjadi trainer bagi orang-orang baru yang datang ke pabrik saat itu. Sekarang, ia menjadi asuhan dari bapak itu. Semangatnya mulai rapuh.
"Aku masih kuat."
"Kamu yang butuh tenaga."
Pemuda itu menundukkan kepala.
"Kalau saya enggak selamat..."
"...tolong kalau Bapak pulang duluan..."
"...bilang ke ibu saya..."
"...saya minta maaf."
Lelaki itu menepuk bahunya pelan.
"Kita pulang sama-sama."
"Jangan bicara seolah perjalanan kita selesai di sini."
"Tuhan masih belum selesai menulis cerita kita."
Beberapa tahanan lain menoleh. Mereka sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat seperti itu darinya. Entah mengapa...setiap kali lelaki itu berbicara...mereka merasa masih memiliki harapan. Menjelang sore, beberapa tahanan duduk melingkar. Untuk mengusir rasa takut, mereka saling bercerita tentang keluarga. Ada yang bercerita tentang istrinya. Ada yang bercerita tentang anak yang baru lahir. Ada pula yang diam. Karena terlalu rindu untuk mulai bercerita.