BAB 24 - Jalan yang Semakin Berliku
Perbatasan Thailand - Kamboja
Matahari baru saja naik ketika bis tiga perempat yang ditumpangi Cahya meninggalkan Terminal Mo Chit, Bangkok. Kendaraan itu melaju ke arah timur, membelah jalan raya menuju perbatasan Thailand–Kamboja. Bangkok perlahan menghilang di belakang. Gedung-gedung tinggi berganti hamparan sawah. Lalu perkebunan singkong. Kemudian desa-desa kecil yang jarang dilewati wisatawan. Dari jendela bis kecil yang ia tumpangi, sejauh mata memandang, Cahya bisa melihat keindahan sungai Mekong yang indah. Sungai sepanjang 4.900 kilometer yang membelah dan mengalir di enam negara, Tiongkok, Myanmar, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos. Cahaya senja memantulkan kebeningan airnya. Cahya duduk di dekat jendela. Ranselnya ia peluk seperti biasa. Ia belum benar-benar tidur sejak semalam. Bukan karena takut. Tetapi karena pikirannya terus dipenuhi wajah ayahnya. Foto terakhir yang dikirim dari nomor Kamboja itu terus ia buka berulang-ulang. Ia memperbesar gambar. Bukan wajah ayahnya yang kini ia perhatikan. Melainkan dinding di belakang. Tulisan dengan huruf Khmer itu.
Entah mengapa...Ia merasa tulisan itu suatu hari akan menjadi petunjuk. Ia lalu membuka buku catatan kecil pemberian Yanto. Di salah satu halaman tertulis tangan:
"Jangan percaya jalur yang terlalu mudah.…Kalau semua orang diarahkan ke satu jalan...berarti ada seseorang yang sedang menunggu di ujung jalan itu."*
Cahya menutup buku itu perlahan. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Beberapa jam kemudian...bis yang ditumpanginya berhenti di sebuah pom bensin kecil. Para penumpang turun. Ada yang membeli kopi. Ada yang membeli makanan. Cahya ikut turun. Ia membeli sebotol air mineral dan roti. Saat sedang membayar...teleponnya bergetar. Nama yang muncul membuat wajahnya berubah. Rinto. Ia segera mengangkat.
"Halo..."
Suara Rinto terdengar lelah.
"Cahya..."
"Kamu sudah di mana?"
"Masih di jalan menuju Poipet."
Rinto menarik napas panjang.
"Dengarkan aku baik-baik."
"Jangan terlalu percaya siapa pun."
Cahya tersenyum kecil.
"Itu lagi."
"Aku baik-baik saja."
"Tidak."
Suara Rinto kali ini berbeda. Lebih serius. "Aku sedang menuju Bangkok." Cahya terdiam.
"Apa?"
"Aku sudah mendapat izin."
"Kok bisa?"
Rinto tidak langsung menjawab.
"Aku akan jelaskan nanti."
"Tapi dengarkan aku."
"Kalau kamu merasa ada yang mengikuti..."
"Jangan berhenti."