BAB 25 – Gerbang yang Tak Pernah Tidur
Poipet - Perbatasan Kamboja - Thailand
Perjalanan dari Bangkok menuju perbatasan Thailand–Kamboja memakan waktu hampir lima jam. Cahya duduk di dekat jendela. Ranselnya masih ia peluk seperti kebiasaan sejak meninggalkan Surabaya. Boneka bantal dari Rinto masih setia menemaninya. Ia jarang benar-benar memejamkan mata. Setiap kali rasa kantuk datang, wajah ayahnya kembali muncul di benaknya. Senyum tipis dalam foto yang dikirim dari nomor Kamboja itu terasa dipaksakan. Semakin lama ia memandang foto itu, semakin yakin ia bahwa ayahnya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Menjelang tengah hari, bus mulai melambat. Sopir mengumumkan sesuatu dalam bahasa Thai, lalu mengulanginya dalam bahasa Inggris.
"Poipet Border."
Beberapa penumpang langsung berdiri. Mereka mengambil koper dan tas besar dari rak di atas kepala. Cahya ikut berdiri sambil merapikan jilbabnya. Begitu turun dari bus, udara terasa berbeda. Lebih panas. Lebih kering. Debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas. Di kejauhan tampak gerbang perbatasan dengan arsitektur khas Khmer yang menjulang tinggi. Bendera Thailand dan Kamboja berkibar berdampingan, dipisahkan beberapa puluh meter jalan yang dipenuhi manusia.
Cahya berhenti sejenak. Di hadapannya, dua negara bertemu hanya oleh sepotong aspal. Tetapi ia merasa sedang berdiri di ambang dua kehidupan. Ia menarik napas panjang.
"Ini dia... "
Langkahnya kembali bergerak. Semakin dekat ke gerbang imigrasi, suasana semakin padat. Wisatawan asing menyeret koper besar. Para pekerja migran membawa karung dan tas lusuh di punggung mereka. Pedagang kaki lima menawarkan air mineral, topi, kartu SIM, hingga jasa pengisian formulir imigrasi. Berbagai bahasa bersahutan di udara. Bahasa Thai. Khmer. Inggris. Mandarin. Sesekali terdengar bahasa Melayu dari rombongan wisatawan Malaysia.
Cahya merasa seperti sedang berdiri di persimpangan seluruh Asia Tenggara. Ia membuka paspornya sekali lagi. Memastikan semuanya masih tersimpan rapi. Tiket bus berikutnya menuju Poipet ia selipkan di halaman belakang buku catatan kecil pemberian Yanto. Antrian menuju loket keberangkatan mengular cukup panjang. Di depannya berdiri seorang perempuan Filipina bersama dua anak kecil. Di belakangnya, seorang pria tua berkebangsaan Jepang sibuk memeriksa dokumen.
Seorang petugas Thailand memeriksa paspor Cahya dengan wajah datar. Stempel keberangkatan dibubuhkan tanpa banyak pertanyaan.
"Have a good trip."
Cahya mengangguk.
"Thank you."
Beberapa langkah kemudian, ia melewati zona netral yang memisahkan kedua negara. Jaraknya tidak sampai dua ratus meter. Namun baginya, rasanya seperti meninggalkan dunia yang selama ini ia kenal. Gerbang Kamboja tampak jauh lebih megah. Atap-atapnya bertingkat dengan ukiran khas Khmer berwarna keemasan. Tetapi di bawah kemegahan itu, antrean manusia bergerak lambat. Seorang ibu muda menggendong bayi yang terus menangis. Dua lelaki membawa kardus besar dengan tali rafia. Sekelompok pemuda berwajah Asia Selatan berdiri rapat sambil menggenggam map plastik berisi dokumen. Cahya memperhatikan wajah-wajah mereka. Lelah. Cemas. Berharap.