Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #26

BAB 26 - Peta yang Belum Lengkap

BAB 26 – Peta yang Belum Lengkap

Kedutaan Besar Indonesia Phnom Penh - Kamboja

Pesawat yang membawa Rinto dari Bangkok mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh menjelang pukul dua siang. Ia sengaja mengambil penerbangan terusan sejak dari Surabaya menuju Bangkok lalu ke Kamboja, agar lebih cepat tiba. Ia Hanya transit dua jam di bandara Don Mueang Bangkok Thailand lalu melanjutkan penerbangan ke Kamboja. Meski perjalanannya tidak mendapat tugas resmi dari atasannya, tapi informasi keberangkatan dan tujuannya, sudah jelas. Dan ia sudah lebih dulu mengabari pihak kedutaan di Phnom Penh.

Dari balik jendela kabin, ia melihat hamparan landasan yang basah oleh hujan semalam. Langit masih kelabu. Awan rendah menggantung di atas kota.

Begitu keluar dari terminal kedatangan, udara lembap langsung menyambutnya. Tidak sejauh Bangkok, tetapi cukup membuat seragam sipil yang dikenakannya terasa melekat di tubuh. Rinto memang sengaja tidak menggunakan atribut kepolisian. Komandannya sudah mengingatkan sebelum keberangkatan.

"Mulai sekarang kamu bukan polisi. Kamu hanya warga negara Indonesia yang sedang membantu pencarian seorang korban." Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Di area penjemputan, sebuah mobil berpelat diplomatik telah menunggu. Seorang pria berkemeja putih turun, memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia yang fasih.

"Selamat datang, Mas Rinto. Saya Andika, staf Kedutaan."

Perjalanan menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia tidak memakan waktu lama. Phnom Penh berbeda dengan Bangkok. Jalan-jalannya lebih lengang. Gedung-gedung tinggi hanya terlihat di beberapa kawasan. Selebihnya adalah deretan ruko, kuil Buddha, pasar tradisional, dan bangunan kolonial peninggalan Prancis. Namun perhatian Rinto bukan pada kota itu. Matanya justru menangkap sesuatu yang lain. Di hampir setiap persimpangan, tampak bangunan bertingkat dengan papan nama perusahaan digital. Sebagian menggunakan tulisan Mandarin. Sebagian lagi hanya menampilkan logo.

Andika seolah mengerti isi pikirannya.

"Itu banyak yang berkedok perusahaan teknologi."

"Sebagian legal."

"Sebagian lagi..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Rinto hanya mengangguk. Ia sudah memahami maksudnya.

Letnan Kolonel Maruli Simatupang menerima Rinto di sebuah ruang rapat sederhana di lantai dua gedung kedutaan. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Tubuhnya tegap. Cara bicaranya tenang, tetapi matanya menunjukkan seseorang yang sudah terlalu lama kurang tidur. Setelah berjabat tangan, Maruli langsung membuka sebuah map tebal.

"Aku sudah membaca laporanmu."

Rinto duduk.

"Terima kasih sudah menerima saya."

Maruli tersenyum tipis.

"Kalau urusannya menyangkut warga negara kita..."

"...tidak perlu berterima kasih."

Ia kemudian mengeluarkan sebuah peta besar Kamboja. Puluhan jarum berwarna merah tertancap di berbagai lokasi. Rinto memperhatikannya lama.

"Semua ini..."

Maruli mengangguk.

"Lokasi yang pernah kami curigai."

"Sebagian sudah digerebek."

"Sebagian kosong."

"Sebagian lagi sudah lebih dulu dipindahkan."

Rinto menghela napas.

Lihat selengkapnya