Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #28

BAB 28 - Bertemu Ayah?

BAB 28 - Bertemu Ayah?

Poipet - Kamboja

Matahari sudah cukup tinggi ketika minivan yang ditumpangi Cahya meninggalkan jalan raya utama perbatasan. Paspornya sudah bercap Kamboja. Semakin jauh kendaraan melaju, semakin berubah pula pemandangan di luar jendela. Kini ia sudah meninggalkan perbatasan Thailand dan benar-benar sudah tiba di negara tujuannya, Kamboja. Pemandangan diluar benar-benar berbeda dengan suasana perjalanan dari Bangkok sampai di perbatasan Kamboja, dan kini ia berada di kota perbatasan, Poipet.

Poipet jauh berbeda dari bayangan Cahya. Ia mengira perbatasan hanyalah sebuah pos pemeriksaan sederhana. Ternyata yang berdiri di hadapannya menyerupai sebuah kota kecil. Truk-truk kontainer berbaris tanpa ujung. Bus wisata dari Bangkok berhenti silih berganti. Ratusan pejalan kaki membawa koper dan tas besar memenuhi trotoar. Suara klakson bertumpuk dengan pengumuman dalam bahasa Thai, Khmer, dan Inggris. Di kejauhan berdiri bangunan-bangunan kasino yang menjulang tinggi. Lampu-lampunya masih menyala meski hari belum gelap. Kabel-kabel yang tergulung menyerupai ekor naga raksasa menggumpal terkumpul disetiap tiang listrik. Seolah kota itu memang tidak pernah tidur.

Cahya memandang semuanya tanpa benar-benar melihat. Pikirannya masih berada pada satu tempat. Foto ayahnya. Ia kembali membuka galeri telepon genggamnya. Foto terakhir yang dikirim dari nomor Kamboja itu kembali memenuhi layar. Karmin tersenyum. Tetapi Cahya tahu betul. Itu bukan senyum orang yang bahagia. Sudut matanya tampak lelah. Pipinya sedikit lebih tirus dibanding enam bulan lalu. Yang membuat Cahya terus memandang foto itu bukan lagi wajah ayahnya. Melainkan tulisan-tulisan berhuruf Khmer di dinding belakang. Ia sudah mencoba menerjemahkannya menggunakan aplikasi penerjemah. Hasilnya berantakan. Tidak jelas. Mungkin karena pencahayaan yang buruk. Atau memang sebagian tulisan tertutup tubuh ayah

Cahya turun dari kendaraan. Ranselnya segera ia kenakan. Ia berdiri beberapa detik lalu mengamati semuanya, disekelilingnya. Orang-orang berlalu begitu cepat. Tidak ada yang saling mengenal. Tidak ada yang memperhatikan siapa datang dan siapa menghilang. Mendadak ia teringat kalimat Yanto. "Kalau seseorang hilang di sini... orang lain akan mengira ia hanya sedang bepergian."

Baru sekarang Cahya memahami maksudnya. Di tempat seramai ini...manusia benar-benar bisa lenyap tanpa meninggalkan jejak. Ia melangkah melewati garis batas negara. Beberapa meter di depannya berdiri gerbang besar bertuliskan dalam tiga bahasa. Kingdom of Cambodia.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...Cahya menginjakkan kaki di Kamboja. Negeri yang selama beberapa bulan terakhir hanya ia kenal dari berita. Negeri yang mungkin menjadi tempat terakhir ayahnya terlihat.

Di sisi Kamboja, suasananya berbeda dari pada di Thailand. Jauh lebih riuh. Puluhan agen perjalanan menawarkan jasa.

"Phnom Penh!"

"Siem Reap!"

"Taxi!"

"Van!"

"Dollar change!"

Lihat selengkapnya