BAB 29 – Persiapan Operasi Senyap
Kedutaan Indonesia Phnom Penh - Kamboja
Setelah beristirahat beberapa jam setelah dari Kedutaan. Rinto berusaha merapikan seluruh dokumen yang diterimanya dari hasil pertemuan dengan Letkol Maruli. Manggabungkan tiap puzzle potongan kisah dan alur pergerakan Rudi dan juga Cahya. Ia sudah berjanji bahwa malam ini akan kembali ikut rapat gabungan dengan Letkol Maruli dan Tim gabungan yang sudah dibentuk sejak sebulan lalu. Letkol Maruli juga mengatakan bahwa ada pihak militer dan kepolisian yang akan bergabung pada rapat malam ini, sebelum memutuskan langkah terakhir yang akan diambil.
Tiga puluh menit kemudian, telpon dari Andika, staf kedutaan, masuk.
“Saya menunggu didepan pak!”
Andika sudah ditempat parkir, bersiap mengantarnya menghadiri rapat gabungan. Jam ditangannya menunjukkan pukul 20.00. “Hmm…tepat waktu, orang-orang kedutaan hebat.” Rinto memuji dalam hati. Ia ingat kalimat Andika saat mengantarnya ke hotel tempatnya menginap sore tadi setelah pertemuan di kedutaan, bahwa Andika akan menjemputnya tepat pukul 20.00 malam.
Rinto menuju ruangan rapat di lantai dua. Di ruang operasi kecil itu, beberapa perwira TNI, petugas keamanan Kamboja, dan perwakilan kepolisian mulai berdatangan. Peta diperbesar. Rute-rute diperiksa. Jalur sungai ditandai. Pos pemeriksaan dicatat. Maruli mulai menyampaikan rencana.
"Kita bergerak sebelum matahari terbit."
"Tidak boleh ada kebocoran."
"Informasi hanya berhenti di ruangan ini."
Semua mengangguk.
"Lupakan formalitas."
"Malam ini kita tidak punya banyak waktu."
Ruangan itu dipenuhi peta. Peta Kamboja. Thailand. Myanmar. Laos. Sampai Vietnam. Di salah satu dinding terpampang puluhan foto wajah. Sebagian diberi tanda merah. Sebagian lagi diberi tanda hitam. Di tengah ruangan berdiri sebuah layar besar. Maruli menekan tombol pengendali. Muncullah foto-foto penggerebekan sebulan lalu. Gedung-gedung operasional perusahaan scam. Komputer. Ratusan telepon genggam. Ruang penyekapan. Lalu...foto ratusan warga Indonesia yang berhasil diselamatkan.
Maruli berbicara pelan.
"Sebulan lalu militer Kamboja menyerbu beberapa kompleks scam terbesar."
"Kami berhasil mengevakuasi ratusan warga negara Indonesia."
"Tetapi..."
Ia mengganti gambar. Kini muncul angka besar di layar. 23
"Dua puluh tiga orang tidak pernah ditemukan."
Rinto menatap layar. "Mereka melarikan diri? Maruli menggeleng.
"Itulah yang awalnya kami kira." Mata Maruli diarahkan ke perwakilan militer dan kepolisian Kamboja. Lalu ia mulai menjelaskan dalam bahasa inggris dan bahasa Indonesia secara bergantian
"Tetapi..."
Ia kembali menekan tombol. Muncul citra satelit pergerkakan kendaraan. Beberapa truk meninggalkan kompleks hanya beberapa jam sebelum operasi dimulai.
"Mereka dipindahkan."
Rinto mengernyit.