BAB 30 – Penyerbuan Gudang Nomor Tujuh
Kamboja Utara - Thailand Utara
Fajar belum benar-benar menyingsing ketika tiga kendaraan militer tanpa tanda pengenal meninggalkan Kota Phnom Penh. Lampu rotator sengaja dimatikan. Tidak ada sirene. Tidak ada suara yang mengundang perhatian. Di dalam kendaraan paling depan, Letnan Kolonel Maruli Simatupang duduk memandangi peta digital di layar tablet. Di sebelahnya, Rinto memegang foto Karmin yang beberapa kali telah ia lihat selama perjalanan. Di belakang mereka, dua kendaraan lain membawa pasukan khusus militer Kamboja.
Operasi itu bahkan tidak memiliki nama resmi. Semakin sedikit orang yang mengetahui, semakin besar peluang mereka menemukan dua puluh tiga warga Indonesia yang hilang. Maruli menoleh kepada Rinto.
"Ada satu hal yang harus kamu ingat."
Rinto mengangguk.
"Kalau gudang itu benar masih dipakai..."
"...kita mungkin tidak hanya menemukan orang Indonesia."
Rinto memahami maksudnya. Korban TPPO berasal dari banyak negara. Myanmar. Nepal. Bangladesh. India. Pakistan. Vietnam. Filipina. Bahkan beberapa negara Afrika. Tidak semua dipaksa menjadi operator penipuan daring. Sebagian lagi menghilang tanpa pernah diketahui nasibnya. Rinto juga mulai menyadari rute yang tidak lazim dilewati para mafia TPPO, tapi relatif aman bagi mereka yaitu masuk ke Kamboja lewat perbatasan Myanmar - Thailand Utara, lalu ke Kamboja bagian utara. Mereka memilih masuk ke Myanmar dari China lalu dari Maynmar ke Thailand, dan berakhir di Kamboja, karena militer Kamboja tidak bisa masuk ke Myanmar. Kamboja dan Myanmar tidak berbatasan langsung.
…………………….
Sementara itu... Ratusan kilometer di utara. Sebuah telepon satelit berdering. Rudi mengangkatnya.
"Ya."
Suara di seberang hanya berkata singkat.
"Mereka bergerak."
"Siapa?"
"Militer."
Rudi tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum kecil.
"Akhirnya."
Ia menutup layar tabletnya. Kemudian mengambil telepon lain. Bukan telepon yang biasa ia gunakan. Telepon itu hanya berisi beberapa nomor. Tidak lebih dari sepuluh. Ia memilih satu nomor. Tidak ada nama. Hanya kode. G-8
Telepon tersambung. Suara lelaki paruh baya menjawab dalam bahasa Khmer. Rudi berbicara pelan. "Sudah waktunya."
Jawaban di seberang terdengar ragu. "Masih terlalu cepat."
"Perintah berubah."