BAB 31 – Titik Terendah Kesabaran
Kamboja - Myanmar
Tiga minggu yang terasa seperti tiga tahun.
Sudah tiga minggu Cahya berada di Poipet. Kalender kecil yang dibelinya di sebuah minimarket dekat pasar sudah ia coreti satu demi satu. Tanggal-tanggal berlalu tanpa membawa jawaban. Uang di rekeningnya terus berkurang.
Delapan setengah juta rupiah yang dulu terasa cukup untuk memulai perjalanan, kini tinggal sedikit. Hanya cukup untuk biaya tiket pulang dua orang, ia dan ayahnya, jika bisa ia temukan. Sebagian habis untuk ongkos kendaraan. Sebagian lagi untuk hostel murah, makanan, kartu data internet, dan ongkos keluar-masuk perbatasan ketika ia mencoba mencari informasi dari orang-orang yang berbeda.
Poipet ternyata bukan kota yang mudah dibaca. Siang hari ia tampak seperti kota perbatasan biasa. Truk-truk keluar masuk membawa barang dari Thailand. Bus wisata menurunkan turis yang hendak menuju kasino. Pedagang kaki lima menjual buah, mi, dan minuman dingin. Tetapi begitu matahari tenggelam...kota itu berubah. Lampu-lampu kasino menyala. Mobil-mobil berpelat asing berdatangan. Orang-orang yang siang tadi tampak biasa saja, menghilang entah ke mana. Seolah Poipet mempunyai kehidupan kedua. Dan justru kehidupan kedua itulah yang sedang dicari Cahya. Setiap pagi ia berjalan. Kadang sampai lima belas kilometer. Kadang lebih. Ia sengaja masuk ke terminal-terminal kecil. Warung kopi. Rumah makan Indonesia. Masjid. Tempat-tempat yang biasanya menjadi persinggahan pekerja migran.
Cahya Memasuki gang-gang dan jalanan kecil, mencari informasi sebanyak mungkin tentang orang-orang yang datang lalu tidak ketahuan dimana berakhirnya. Pertanyaan yang sama terus ia ulang.
"Apakah Bapak - Ibu, pernah melihat orang ini?" Sambil menunjukkan foto Karmin, ayahnya. Sebagian besar hanya menggeleng. Sebagian lagi melihat sebentar lalu mengembalikannya. Beberapa bahkan tidak berani menatap terlalu lama. Seolah foto itu sendiri membawa masalah.
Yanto sudah tidak bisa dihubungi. Rinto, dengan permintaan maaf, yang menurut Cahya tidak perlu dia ucapkan berulang-ulang, akhirnya juga harus meninggalkan Kamboja dan kembali ke Surabaya demi pekerjaannya.
Sebenarnya, mereka berdua nyaris bertemu, saat Rinto memberikan informasi terakhir keberadaan ayahnya. Bahwa Rinto dan seluruh staf dan tenaga potensial di kedutaan sudah dikerahkan untuk menyelamatkan para pekerja Indonesia, termasuk ayah Cahya, tapi hasilnya nihil. Kecuali menyisakan keperihan mendalam dihati Rinto, tentang ayah Cahya, yang mungkin sudah tidak di Kamboja ataupun negara-negara disekitarnya. Kemungkinan sudah di Guangzhou, China. Keputusan untuk menutup kasus kehilangan 23 warga Indonesia pun sudah dirilis secara resmi oleh pihak keduataan dua minggu setelah pihak militer Kamboja membuat pernyataan bahwa, jika Indonesia memaksakan kehendak mengerahkan militernya dalam operasi pencarian besar-besaran, maka hubungan diplomatik antara Kamboja dan Indonesia, dinyatakan selesai.
Pemerintah Indonesia, memang belum menyerah, tapi upaya satu-satunya yang di anggap bisa memberikan peluang ditemukannya 23 warga Indonesia, adalah opsi militer terbatas. Itupun akhirnya gagal disetujui pemerintah Kamboja.
Sementara Yanto, sudah berkali-kali Cahya berusaha menghubunginya. Tapi nomornya mati. Pesan-pesan yang dikirimkan Cahya, hanya centang satu. Cahya mulai takut. Jangan-jangan...Yanto mengalami nasib yang sama dengan kakaknya.
Sore itu Cahya duduk sendirian di tepi rel kereta tua yang sudah lama tidak digunakan. Matahari perlahan turun. Ia membuka dompet. Di dalamnya tinggal beberapa lembar uang Baht. Beberapa Dollar Amerika. Sedikit Riel Kamboja. Ia menghitung lagi. Kalau sangat berhemat...mungkin cukup untuk bertahan seminggu. Setelah itu...ia tidak tahu. Ia memandang foto keluarganya. Sudah lebih sebulan ia meninggalkan rumah.
Ia mulai merindukan suara Yusuf yang selalu meminta dibelikan es krim. Rindu omelan ibunya. Rindu toko bunga. Bahkan rindu bau bunga matahari yang setiap hari ia rangkai.
Untuk pertama kalinya...Cahya bertanya pada dirinya sendiri. "Apa aku sudah terlalu jauh?"
…………………….
Di waktu yang hampir bersamaan...Rinto berdiri di Bandara Juanda. Seragam polisi kembali melekat di tubuhnya. Cuti luar negerinya telah berakhir dua hari lalu. Komandannya sudah memberi toleransi lebih dari cukup. Begitu tiba di kantor, meja kerjanya dipenuhi berkas. Kasus pencurian. Narkotika. Penipuan. Semuanya menunggu. Tetapi pikirannya...masih berada di Kamboja. Sesekali ia membuka ponsel. Melihat foto Cahya. Membuka percakapan mereka. Tidak ada pesan baru. Ia mengetik. "Bagaimana keadaanmu?" Lalu menghapusnya lagi. Ia sadar, saat ini Cahya membutuhkan ketenangan. Bukan kecemasannya.
Namun sebelum menutup ponsel...ia mengirim satu kalimat. "Kalau keadaan semakin sulit...pulanglah. Tidak ada yang salah dengan pulang." Pesan itu terkirim. Tidak pernah dibalas.
…………………
Hari berikutnya. Cahya mendapat pekerjaan kecil. Seorang pemilik restoran Indonesia meminta bantuannya menyusun bunga plastik untuk dekorasi. Upahnya hanya lima belas dolar. Meski kecil, tetapi ia mau menerimanya. Bukan karena uangnya. Melainkan karena untuk beberapa jam...ia bisa berhenti memikirkan ayahnya. Saat jemarinya mulai merangkai bunga...ia tersenyum pahit. Sudah lama ia tidak menyentuh bunga. Tiba-tiba pemilik restoran berkata,
"Mbak orang Indonesia?"
"Iya."
"Mencari kerja?"
Cahya menggeleng.
"Saya mencari ayah."
Lelaki itu terdiam. Tidak bertanya lagi.
Malam harinya...hujan turun. Deras sekali. Atap seng hostel tempat Cahya menginap berbunyi tanpa henti. Ia duduk di tepi ranjang. Matanya menatap foto terakhir ayahnya.