Bab 32 – Desa Kecil – Keluarga Kecil
Ban Rak Thai – Thailand Utara – Perbatasan Myanmar
Sejatinya Desa Ban Rak Thai adalah desa yang sangat terkenal di utara Thailand. Ban Rak Thai artinya desa yang mencintai Thailand. Lebih populer disebut Desa Cinta. Desa ini juga dikenang sebagai desa sejarah karena di bangun oleh keturunan tentara Kuomintang. Mereka adalah tentara revolusioner pelarian dari Yunnan Tiongkok setelah Revolusi Tiongkok tahun 1949. Sebagian besar penduduknya menganut ajaran agama yang memadukan Buddha dan Taoisme. Desa yang juga dikenal oleh para wisatawan sebagai desa cinta karena keindahan dan pesona alamnya ini, kerap dijadikan oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk perjalanan romantis. Suhunya sejuk karena berada di ketinggian 1800 MDPL dan disepanjang jalan dipenuhi kebun teh yang menjadi kuliner utama dan menjadi daya tarik desa ini. Teh yang sangat terkenal di utara Thailand ini disebut Teh Oolong. Sangat enak jika dipadukan dengan menu makanan khas suku Yunnan yang merupakan muasal penduduk asli desa ini.
Panduan wisata berbentuk flyer yang sangat menarik itu di baca oleh Cahya di atas bus yang ditumpanginya dari terminal di perbatasan Kamboja - Thailand. Setelah sehari sebelumnya berusaha memecahkan teka-teki peta milik Yanto, Cahya berkeyakinan bahwa jalur yang dimaksud oleh Yanto di peta adalah wilayah disepanjang perbatasan Thailand Utara dan Myanmar. Semua titik yang dibuat di peta itu mengarah ke desa ini secara tersembunyi. Cahya juga mencocokkan dengan titik GPS berdasarkan pengetahuan yang ia baca di google maps. Rasa gembira di hati Cahya membuatnya tidak peduli pada jadwal tempuh yang di informasikan kondektur bus. Sepuluh sampai dua belas jam perjalanan akan ditempuh untuk sampai ke terminal bis di Provinsi Mae Hong Son. Sementara jarak dari terminal bis ke desa Ban Rhak Thai hanya sekitar 1 jam.
Didalam bis, banyak wisatawan dengan ransel besar di pundaknya. Cahya langsung menebak, mereka adalah para backpacker. Ada dari Malaysia, Jepang, Korea dan juga dari Eropa Tengah, Uzbekistan.
Tak ada informasi apapun yang Cahya miliki terkait keberadaan persis ayahnya, selain peta lusuh dari Yanto. Tetapi pengetahuan dan pengalamannya menjelajahi Poipet selama tiga minggu, dan keberaniannya untuk menanyakan siapapun yang ditemuinya, membuatnya yakin bahwa ia pasti akan menemukan lokasi ayahnya. Selain itu, hati kecil Cahya berbisik
“Segala sesuatu yang sedang kau cari dengan Cinta, disaat yang sama, akan mencari jalan menemukanmu”
Bus yang ditumpangi Cahya akhirnya berhenti di sebuah terminal kecil di Mae Hong Son menjelang sore. Terminal itu tidak ramai. Hanya beberapa minibus, mobil bak terbuka, dan sepeda motor yang terparkir di bawah deretan pohon pinus. Udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan Poipet.
Cahya menarik napas panjang. Udara pegunungan memenuhi dadanya. Sudah lama ia tidak merasakan kesejukan seperti ini. Ia segera mencari kendaraan menuju Ban Rak Thai. Sopir songthaew tua yang mengangguk ketika Cahya menyebut nama desa itu mempersilahkannya naik. Di sepanjang perjalanan, jalan berkelok membelah lereng gunung. Hamparan kebun teh hijau membentang sejauh mata memandang. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti perbukitan.
Sesekali kendaraan berpapasan dengan wisatawan yang mengendarai sepeda motor sewaan. Ada pasangan muda yang berhenti untuk berfoto di kebun teh. Ada pula keluarga yang duduk menikmati teh hangat di beranda rumah-rumah kayu bergaya Yunnan. Cahya memandang semua itu dengan perasaan aneh. Seandainya ia datang sebagai wisatawan...mungkin ia akan menganggap tempat ini sebagai salah satu desa terindah yang pernah ia kunjungi. Tetapi hari itu...ia datang membawa kerinduan.
Menjelang matahari tenggelam, kendaraan berhenti di pintu masuk desa. Ban Rak Thai benar-benar berbeda dengan desa-desa lain yang pernah ia lihat. Rumah-rumah kayu beratap genteng hitam berdiri menghadap danau kecil yang tenang. Lampion merah bergantung di depan setiap rumah. Aroma teh yang sedang diseduh memenuhi udara.
Cahya berjalan perlahan. Sesekali ia mengeluarkan foto ayahnya. Ia menunjukkan foto itu kepada beberapa warga. Seorang ibu tua menggeleng sambil tersenyum. Dua remaja mengaku tidak mengenal lelaki dalam foto itu. Seorang pemilik kedai teh bahkan meminta maaf karena tidak mengerti bahasa Inggris.
Harapan Cahya perlahan mulai turun. Selama hampir satu jam ia berkeliling memasuki beberapa dusun. Hingga ia tiba di dusun terakhir, Mae Aw. Dusun ini berlokasi hanya sekitar satu kilometer saja dari garis batas negara Myanmar. Cahya mulai merasa khawatir salah lokasi. Barangkali...ia kembali salah mengikuti jejak. Namun ketika ia hampir menutup kembali dompetnya, seorang lelaki tua penjual teh memandang foto Karmin lebih lama dibandingkan orang-orang sebelumnya. Lelaki itu mengernyit. Lama ia memandangi wajah Cahya. Saat melihat wajah Cahya, lelaki tua itu seperti ingat wajah seorang lelaki yang pernah menanyakan alamat kepadanya, tapi ia lupa kapan kejadiannya. Lalu ia menunjuk ke arah jalan setapak yang mulai menanjak menuju lereng bukit. Mulutnya mengucapkan satu nama.
"Songhla..."
Cahya tidak mengerti.