EPILOG – Pertukaran
Tiga Minggu Sebelumnya – Gudang Nomor 8
Gudang Nomor 8 jauh lebih sunyi dibanding Gudang Nomor 7. Tidak ada teriakan. Tidak ada percakapan. Hanya suara rantai besi yang sesekali bergesekan dengan lantai semen. Mereka yang ditempatkan di gudang itu bukan lagi pekerja scam. Mereka adalah orang-orang yang dianggap berbahaya. Orang yang pernah mencoba melawan. Pernah kabur. Pernah menyerang penjaga. Atau terlalu banyak mengetahui rahasia organisasi. Di gudang itu...setiap orang hanya menunggu dua kemungkinan. Dijual. Atau menghilang.
Songhla duduk bersandar pada dinding. Usianya baru dua puluh delapan tahun. Tubuhnya kurus. tetapi matanya belum kehilangan cahaya. Ia sudah tiga kali mencoba melarikan diri. Tiga kali tertangkap. Setiap kali tertangkap... hukumannya selalu sama. Tidak diberi makan. Dipukuli. Lalu dipindahkan ke gudang yang lebih gelap. Ia tahu...tidak akan ada kesempatan keempat.
Pintu gudang terbuka. Dua penjaga masuk sambil berbicara dalam bahasa Khmer. Songhla pura-pura tidur. Padahal telinganya menangkap setiap kata.
"...orang Indonesia..."
"...golongan darah AB..."
"...harga lima juta dolar..."
"...besok dipindahkan..."
Songhla perlahan membuka mata. Golongan darah AB...Ia langsung tahu siapa yang mereka maksud. Orang Indonesia itu. Lelaki yang beberapa minggu terakhir ditempatkan di Gudang Nomor 7. Namanya...Karmin.
Malam harinya...Songhla memanggil salah seorang penjaga. Penjaga itu sebenarnya masih sepupu jauhnya dari desa lain. Orang miskin. Masuk bekerja di tempat itu hanya karena tidak memiliki pilihan.
"Aku punya uang."
Penjaga itu tertawa.
"Uangmu?"
"Kamu bahkan tidak punya sandal."
Songhla menggeleng.
"Bukan uangku."
"Tapi rumahku."
"Tanahku."
"Sawah ayahku."
Penjaga itu mulai diam. Songhla melanjutkan.
"Kalau aku mati..."
"Semua itu akan menjadi milikmu."
"Tapi..."
"...gantikan aku dengan orang Indonesia itu."
Penjaga tersebut menatap Songhla cukup lama. "Kamu gila." Songhla tersenyum kecil.
"Kalau aku tetap di sini..."