Ayat-Ayat di Atas Aspal

Ahmad Wahyudi
Chapter #1

PROLOG

Kara berusia dua puluh lima tahun ketika ia pertama kali memimpin investigasi sendiri. Rambutnya selalu diikat rapi. Wajahnya tenang. Sorot matanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya lagi.

Tapi jauh sebelum ia berdiri di tengah garis polisi, Kara adalah anak kecil yang duduk di kursi tengah truk barang milik ayahnya.

Ayahnya seorang sopir angkutan logistik. Bekerja tanpa mengenal jam. Berangkat sebelum subuh, pulang kadang lewat tengah malam. Upahnya tetap, meski waktu kerjanya tidak pernah tetap. Lelahnya tidak pernah masuk dalam laporan perusahaan.

Kara kecil sering ikut. Duduk sambil memeluk tas sekolahnya. Menghitung lampu jalan. Mendengar ayahnya berkata, “Sebentar lagi sampai,” meski perjalanan masih berjam-jam.

Ia belajar satu hal sejak kecil: kelelahan itu sering dianggap biasa.

Ketika remaja, ia mulai melihat sisi lain. Ibunya pernah mengajaknya mendatangi rumah rekan ayahnya yang mengalami kecelakaan. Ruangan itu sunyi. Ada anak kecil yang terus bertanya, “Ayah kapan pulang?” Padahal ayahnya tidak akan pernah pulang lagi.

Kara tidak menangis hari itu. Ia hanya memperhatikan wajah-wajah yang kehilangan. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati: mengapa semua ini terasa seperti takdir, padahal seperti ada yang salah sejak awal?

Tahun-tahun berlalu. Ayahnya diangkat menjadi manajer operasional. Jabatannya naik. Tanggung jawabnya bertambah. Target lebih tinggi. Telepon tidak pernah berhenti berdering. Kata “over time” tetap ada, hanya berpindah bentuk.

Lalu hari itu datang.

Hujan deras. Jalan licin. Kara masih ingat suara telepon yang terdengar berbeda. Ibunya terdiam terlalu lama sebelum menjawab.

Ketika ia tiba di lokasi, lampu ambulans berputar tanpa suara di kepalanya. Orang-orang bergerak cepat. Dunia seperti lambat.

Ayahnya terbaring. Wajahnya masih sama. Tapi ada sesuatu yang tidak lagi utuh.

Kara memeluknya tanpa berpikir. Dan darah ayahnya memercik ke baju yang ia kenakan.

Hangat. Nyata. Tidak seperti angka statistik. Tidak seperti berita singkat. Tidak seperti kalimat “diduga lalai.”

Malam itu, ia tidak hanya kehilangan ayahnya. Ia kehilangan ilusi bahwa kecelakaan adalah kejadian tunggal. Ia melihatnya sebagai akumulasi: jam kerja panjang, tekanan target, jalan yang tidak ramah, sistem yang longgar, dan manusia yang dipaksa kuat.

Darah di bajunya tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Ia mencucinya berkali-kali, tetapi bayangannya tetap tinggal.

Sejak hari itu, Kara berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan lagi bertanya siapa yang salah terlebih dahulu. Ia akan bertanya mengapa semuanya dibiarkan terjadi.

Dan setiap kali berdiri di tengah aspal yang retak, setiap kali melihat serpihan kaca dan bau logam terbakar, ia selalu teringat satu sensasi: hangatnya darah ayahnya di baju kecilnya.

Keselamatan, baginya, bukan teori.

Ia adalah kenangan yang tidak boleh terulang.

Yang Tidak Pernah Selesai di Dalam Diri Kara

Kara tidak pernah benar-benar selesai dengan hari itu.

Orang-orang berkata waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu hanya membuat kenangan menjadi lebih sunyi, bukan lebih ringan. Setiap kali melihat sopir memarkir truk di bahu jalan untuk tidur sebentar, dadanya sesak. Setiap kali membaca berita kecelakaan dengan kalimat “diduga sopir mengantuk,” tangannya mengepal tanpa sadar.

Ia marah.

Bukan hanya pada jalan.

Bukan hanya pada hujan malam itu.

Tapi pada sistem yang membuat kelelahan terasa wajar.

Lihat selengkapnya