Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Kara selalu mengawali hari dengan kalimat itu. Bukan dengan suara keras. Hanya di dalam hati. Seperti kebiasaan kecil yang diwariskan ibunya. Seperti rem tangan sebelum kendaraan melaju.
Ia sering bertanya dalam diam: jika benar kita memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa jalan raya terasa begitu kejam?
Kasus itu datang di awal musim mudik.
Bus antarkota terguling di tikungan panjang menjelang subuh. Tidak ada korban jiwa, tapi belasan penumpang luka berat. Beberapa tulang patah. Seorang anak kecil mengalami trauma dan tidak mau berbicara.
Headline sudah siap bahkan sebelum matahari benar-benar terbit.
“Diduga sopir mengantuk.”
Kara membaca kalimat itu seperti membaca doa yang salah tempat.
Diduga.
Kata yang sangat religius dalam dunia transportasi. Ia membebaskan semua orang dari kewajiban berpikir lebih jauh.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
Segala puji bagi Tuhan semesta alam.
Kara berdiri di depan bus yang miring seperti argumen yang dipaksakan. Bekas rem panjang tergores di aspal. Bau karet terbakar masih menggantung di udara.
Orang-orang berkumpul. Kamera merekam. Mikrofon mendekat.
Beberapa bahkan berkata, “Alhamdulillah tidak ada yang meninggal.”
Ya. Syukur itu penting.
Tapi Kara selalu gelisah dengan syukur yang terlalu cepat. Seolah-olah selama tidak ada kematian, kita tidak perlu membedah penyebabnya.
Semesta alam tidak diciptakan untuk sekadar selamat dari kematian. Ia diciptakan dengan hukum keseimbangan. Dan ketika keseimbangan itu diabaikan, pujian berubah menjadi pembenaran.
Ar-Rahmanir-Rahim
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Kara mendekati sopir yang duduk di pinggir jalan. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
“Jam berapa mulai mengemudi?” tanya Kara lembut.
“Jam dua siang kemarin.”
“Istirahat?”
“Dua kali. Sepuluh menit.”
Sepuluh menit.
Pengasih. Penyayang.
Kara menahan ironi di dalam dadanya. Dalam dunia yang memuja efisiensi, belas kasih sering kalah oleh target.
Arya berdiri di sampingnya. Seragamnya rapi. Wajahnya tegas.
“Jam kerja melebihi batas,” katanya. “Dia tetap memutuskan untuk lanjut.”
Memutuskan.
Kara tahu kata itu berbahaya. Seolah-olah semua keputusan lahir dari kebebasan penuh, bukan dari tekanan yang terstruktur.
“Rahman dan Rahim,” gumamnya pelan. “Kalau sistem tidak memberi ruang istirahat yang layak, itu keputusan atau paksaan?”
Arya menatapnya. “Kita tidak bisa berasumsi.”
Tentu saja. Asumsi tidak tercantum dalam berita acara.
Maliki Yaumiddin
Pemilik Hari Pembalasan.
Di ruang rapat sementara, manajer operasional perusahaan duduk dengan wajah yang sudah terlatih menghadapi krisis.
“Kami sudah sesuai prosedur,” katanya cepat.
Prosedur.
Kata yang sering dipakai untuk membungkus ketidakpedulian.
Kara membaca dokumen jadwal rotasi. Armada terbatas. Rute padat. Target meningkat menjelang Lebaran.
Semua terlihat sah. Semua ada tanda tangan.
Tidak ada yang tampak melanggar secara kasat mata.
Hari pembalasan tidak selalu berupa kiamat. Kadang ia datang dalam bentuk tikungan licin dan mata yang tidak sanggup terbuka.
Arya menyusun laporan awal.
“Kelalaian pengemudi akibat kelelahan.”