(B) UTUH

Basmalahku
Chapter #5

Quality time


Bel pulang berbunyi, menandakan proses belajar mengajar telah berakhir. Namun, seolah tidak sabar, kulihat Aldi sudah menunggu didepan kelasku, padahal guru yang mengajar saja baru mau keluar dari ruangan kami.

Aku langsung buru-buru keluar dan menemuinya, "Kok cepat banget?" tanyaku heran.

"Nggak tau juga, semangat aja. Kebetulan mata pelajaran terakhir kosong, jadi bisa pulang lebih awal. Yaudah, aku pulang duluan, sekalian beliin Thai tea kesukaan kamu," katanya sambil membukakan Thai tea rasa original kesukaanku dan memberikannya kepadaku.

"Makasih," kataku kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Sama-sama sayang. Yuk!" katanya sambil menggandeng tanganku menuju parkiran.

"Clara pulang bareng gue!" Suara Wildan yang tegas membuat langkahku dan Aldi berhenti seketika.

Aku langsung memutar bola mata malas. "Nggak, aku pulang bareng Aldi, lo pulang sendiri aja," ucapku tegas tidak mau di bantah.

"Lo berangkat bareng gue, pulang juga harus bareng gue," ucapnya menimpali tidak mau kalah.

"Nggak pernah ada peraturan kayak gitu, lo udah denger kan, Clara pengen pulang bareng siapa?" tanya Aldi, suaranya sedikit meninggi. Wildan langsung terdiam seolah mati kutu.

Cengkraman tangan Aldi di tanganku terasa semakin kencang. Sepertinya dia sedang kesal. Dia memang selalu kesal tiap kali berurusan dengan Wildan.

Wildan akhirnya mengalah, tapi sebelum pergi, dia berkata, "Gue tunggu lo dirumah ya, Ra. Gue udah izin sama Bunda buat ngajakin lo keluar lagi."

Wildan akhirnya pergi, meninggalkan kami berdua. Seketika, raut wajah Aldi berubah. Ia tidak lagi se-excited tadi, senyumnya sirna digantikan oleh sebuah kerutan di dahinya. ia terlihat kesal dan melepaskan genggaman tangannya.

Menyadari perubahannya, aku langsung mendongak menatapnya karena memang Aldi lebih tinggi dariku, jadi aku harus sedikit menengadah untuk menatap matanya.

"Al?" panggilku pelan.

"Lagi?" tanyanya, suaranya sedikit dingin, sambil membalas tatapanku.

"Tadi malam dia datang lagi, ngajakin keluar, tapi aku nggak ikut kok. Cuma dia yang pergi bareng Chiwa," sahutku berusaha menjelaskan dengan jujur.

Aldi hanya berdehem kemudian melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tanganku.

Aku hanya mengikutinya jalan dari belakang. Tidak lama setelah itu dia berhenti di depan motor scoopy kesayangannya. Sekolah sudah sepi, parkiran juga sudah sepi, tinggal beberapa motor murid yang masih tertinggal disana.

Aldi memberikan helmnya. Kami masih saling diam. Sejenak aku tidak tahu helmnya digunakan untuk apa, otakku jadi kesulitan berfikir.

Aku hanya berdiri sambil memandangi helm di tanganku. "Dipake, Ra," ucapnya. Suaranya masih terdengar dingin.

Aku perlahan memberanikan diri mendongak dan menatapnya, auranya kelihatan sekali sedang marah. "Em ... Al?" panggilku pelan, takut dia semakin marah, karena dia tidak pernah diam seperti ini sebelumnya.

"Iya," jawabnya sambil berbalik menghadap ku.

"Lain kali aja, ya," kataku lalu menyerahkan kembali helmnya.

"Kenapa?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lembut.

"Gimana mau pergi kalau kamunya lagi marah," ucapku pelan mencoba menjelaskan.

Aldi memejamkan mata sambil menghela nafasnya sejenak, kemudian berjalan mendekatiku. "Aku nggak marah kok," ucapnya meyakinkanku.

"Nggak marah, tapi jutek gitu, diem lagi daritadi," kataku, mataku pasti sudah berkaca-kaca disana. Aku sangat sensitif, lagi pula siapa yang tidak kepikiran didiamkan seperti itu?

Aldi kemudian menangkup kedua pipiku dengan tangan kekarnya, "Aku nggak marah sayang ...," ucapnya lembut, sambil menghapus air mataku yang sudah luruh dengan ibu jarinya.

"Maafin Aldi ya sayang ...," ucapnya kemudian membawaku kedalam pelukannya.

Lihat selengkapnya