"Kenapa harus dia, Ra?" tanyanya, suaranya bergetar, mengungkapkan kekecewaan yang dalam.
Nada kecewanya terdengar jelas, seolah menghantam telingaku. Aku hanya menatapnya sekilas kemudian kembali mengalihkan pandanganku ke arah lain. Bukannya tidak peduli dengan perasaannya, aku hanya tidak tega melihat sorot kecewa dari tatapan matanya.
Melihat aku yang masih tetap diam, dia kembali melanjutkan, "Lo berubah banget semenjak ada dia, Ra." Suaranya sedikit tersendat. Seolah mencoba menahan sedihnya.
"Padahal dulu lo selalu ada buat gue," lanjutnya, sambil menatap mataku dengan tatapan yang mendalam.
Dia mulai mengulang kembali masa lalu itu, padahal aku dan dia jelas tahu, masa itu tidak akan pernah lagi terulang. Masa ketika kita masih kecil, masa ketika kita masih berpegangan erat satu sama lain.
"Kita yang dulu ngelakuin banyak hal bareng, sekarang kenapa jadi asing begini, Ra?" tanyanya berusaha mencari alasan dibalik perubahan yang terjadi padahal dia sendiri sudah jelas tahu jawabannya.
"Dimana Ara yang dulu selalu butuh Wildan? Dimana Ara yang selalu bergantung sama Wildan? Dimana Ara yang selalu manja sama Wildan? Dimana Ara yang selalu merengek minta ditemenin tidur kalau ayah dan bunda lagi bertugas diluar kota?" Pertanyaannya menghujani aku, seolah ingin mengungkap segala kenangan yang terpendam.
Beberapa pertanyaannya barusan membuat ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu. Wildan memang benar. Semua yang dia katakan benar. Tetapi bukankah semua hal akan berubah seiring berjalannya waktu?
"Kenapa, Ra?" pernyataannya memecahkan lamunanku.
"Pertanyaan kamu sebenernya nggak perlu aku jawab sih," kataku. "Dari awal aku udah bilang kalau kita nggak akan pernah pacaran dan kamu mengiyakan. Kamu nggak masalah dengan keputusan ku itu. Sekarang kamu masih nanya kenapa? Sepertinya, udah waktunya kamu sadar kalau aku bukan orang yang bisa memenuhi kebutuhan dan kemauan mu itu," jawabku tegas.
"Alasannya apa?"
"Karna kamu teman ku," jawabku dengan cepat. "Sepertinya itu udah cukup menjadi masalah sekaligus jawaban dari semua pertanyaan kamu itu."
Wajahnya memerah, dia menggeram.
"Terlepas dari kata teman yang selalu lo ucapin, kenapa lo nggak pernah bisa lihat gue sebagai cowok pada umumnya, Ra? Kenapa lo nggak bisa ngelihat gue sebagaimana gue ngelihat elo? Kenapa Ra? Apa yang salah dari gue?"
Melihat aku yang masih bergeming, dia kemudian tertawa hambar. "Oh iya. Di antara kita berdua kan cuman lo doang yang harus selalu di ngertiin, cuman lo yang harus di dengerin, danĀ cuman lo yang punya perasaan," ucapnya tanpa peduli omongannya membuatku sakit atau tidak.
"Asal lo tau, gue sengaja pindah sekolah kesini karena elo. Gue pikir dulu setelah gue menjauh gue bakalan bisa ngelupain lo dan nerima kenyataan kalau udah ada orang lain yang bisa buat lo lebih bahagia daripada sama gue dulu. Ternyata nggak, Ra."
"Tiap hari gue selalu kangen sama lo, keputusan menjauh ternyata cuman nyiksa diri gue sendiri."
"Awalnya gue menyangkal sama perasaan gue sendiri, awalnya gue juga punya pikiran yang sama kaya elo, kalau perasaan sayang gue ke elo nggak lebih dari perasaan sayang seorang kakak sama adiknya."
"Tetapi semakin gue menyangkal perasaan ini semakin besar. Ra, kalau gue bisa memilih, gue nggak akan pernah memilih untuk jatuh cinta sama lo, apalagi gue nyadar nya setelah lo ketemu sama Aldi waktu itu."