"Mau pulang bareng?" Suara Aldi membuatku tersentak.
"Eh?" jawabku, sedikit terkejut.
Aldi yang menyadari itu langsung duduk di sebelahku kemudian meletakkan punggung tangannya di keningku, mencoba mengecek suhu tubuhku.
"Aku gapapa, Al. Nggak lagi sakit juga," jawabku lirih.
"Lagi mikirin apa, hm?" tanyanya lembut sambil mengelus puncak kepalaku.
"Al?" panggilku, suaraku sedikit bergetar.
"Kenapa sayang?" Raut wajahnya terlihat cemas. "Ra, jangan gini, ih. Kalau ada apa-apa cerita sama aku."
"Wildan."
"Wildan kenapa?" tanyanya, suaranya menunjukkan ketertarikan dan keinginan untuk mendengarkan ceritaku.
Aku menceritakan semua tentang Wildan kepada Aldi. Awalnya kupikir dia akan diam seperti biasa atau cemburu, ternyata tidak. Dia tetap bersikap lembut dan sabar menenangkanku.
Hal itu yang membuat aku bisa senyaman itu sama Aldi. Pikirannya yang dewasa dan kesabarannya begitu luas. Dia adalah orang yang selalu ada kapanpun aku membutuhkannya.
Dia tempatku marah karena pilihanku ditentang orang tua, dia tempatku kecewa karena melulu ditolak oleh kenyataan, Dia tempatku menangis karena lagi-lagi aku harus berlari mengejar impianku, dia tempatku senang karena akhirnya apa yang aku mau dapat aku genggam. Bagiku, Aldi sudah seperti rumah kedua.
Aldi memang sudah mengenal Wildan semenjak SMP, karena waktu SMP kami berempat satu sekolah tetapi beda kelas.
"Kamu tenangin diri dulu ya, kalau udah tenang baru ngomong baik-baik ke Wildan lagi. Dia nggak bakalan marah kok, percaya deh sama aku," ucapnya lembut.
"Dia marah, Al. Buktinya dia nggak datang ke sekolah hari ini."
"Ara lihat aku," ucapnya sambil menangkup kedua pipiku. "Kamu percaya kan sama aku?"
Aku hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.
"Wildan nggak akan marah sama kamu karna dia sayang sama kamu," ucapnya lembut.
Dia memang ahli sekali membuat perasaan ku menjadi lebih baik.
_____
"Disini, Ci."
"Ih, bukan. Kak Wildan nggak tau cara mainnya, sesuaikan warna dan bentuknya dulu kak, baru di tempelin."
Samar-samar terdengar suara Chiwa dari ruangan TV. Tadi dia memanggil nama Wildan? Aku yang penasaran langsung mendekati ruangan itu.
Setelah pintu terbuka benar saja ada Chiwa dan Wildan tengah asyik bermain puzzle walaupun selalu diiringi oleh perdebatan.
Mendengar pintu terbuka mereka berdua langsung menoleh. "Eh, Ra," sapanya dengan santai, sesantai wajahnya yang seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam, seolah pertengkaran itu tidak pernah terjadi.
Sementara aku, aku yang dari tadi malam tidak bisa tenang sama sekali karena merasa bersalah. Apa benar yang dikatakan Aldi, dia nggak marah? Kalau nggak marah kenapa tadi malam dia langsung pergi gitu aja?
"Wil?" panggilku pelan.