Wildan reflek memelukku, "Diem!"
Aku cekikikan melihat reaksinya yang kepalang malu karena ketahuan menangis di depan banyak orang.
Aku terkejut ketika Wildan tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan cepat, "Kenapa?" tanyaku heran.
"Al, sorry Al, gue nggak bermaksud macem-macem," ucapnya, membuatku menoleh ke belakang.
Ternyata ada Aldi di belakang. "Al?" panggilku, aku juga sedikit terkejut melihatnya. Wajahnya terlihat lelah dengan baju seragam kerjanya yang masih dia kenakan. Sepertinya baru pulang kerja.
"Kamu baru pulang kerja, ya. Gabung sini," ajakku sambil menepuk kursi kosong di sebelahku, karena Wildan duduk berseberangan denganku.
"Oh, nggak usah. Aku cuman mampir beli kopi sebentar tadi, langsung pulang aja," ucapnya, lalu berjalan melewati kami menuju meja take away.
Wildan langsung menyikutku, "Kejar, Ra. Aldi pasti salam paham," ucapnya setengah berbisik memberikan isyarat kepadaku.
Aku menatap Wildan sebentar, dia menganggukkan kepalanya meyakinkanku. Aku akhirnya berjalan mengikuti Aldi berjalan keluar.
Dia tidak menggubris keberadaan ku sama sekali, hingga ketika sampai di depan motor kesayangannya, dia tetap diam.
"Al?" panggilku lagi.
"Aku mau pulang, Ra. Capek. Kamu pulang sama Wildan, oke?" sahutnya sambil memakai helm.
"Nggak mau!" jawabku cepat.
Dia menghela nafas sejenak. "Yaudah maunya apa?"
"Pulang sama kamu."
Aldi melirik Wildan sejenak, kemudian turun dari motornya. Dengan gerakan yang cepat, ia membuka jaketnya dan memakaikannya kepadaku.
Setelah jaketnya terpasang kebesaran di badan ku, dia melepaskan helm nya juga dan memasangnya di kepalaku.
"Di pake biar nggak kedinginan." Suaranya lembut, menunjukkan kepeduliannya.
Tidak butuh waktu yang lama hingga akhirnya kami sampai di kontrakannya. Kontrakannya masih gelap, sepertinya dia belum kerumah semenjak pulang sekolah tadi.
"Seram juga ya kontrakannya kalau lagi mati lampu," gumam ku bermonolog.
"Udah, ayok," ucapnya dingin setelah mengunci pagar.
"Dingin amat, Mas," ucapku bergumam.
Setelah lampu dinyalakan, aku langsung duduk di sofa. "Dingin?" tanyanya melihat aku yang melipat kedua tanganku.
"Lebih dingin ... kamu, sih," jawabku menyindir.
"Tadi ngapain sampai pelukan segala?" tanyanya, akhirnya menanyakan hal yang menarik perhatiannya.
"Nggak ngapa-ngapain, kok. Tadi itu Wildan ketahuan nangis, dia malu makanya reflek meluk aku, nggak disengaja kok, beneran," jawabku jujur, berusaha menjelaskan supaya tidak ada kesalahan pahaman lain.
"Wildan suka sama kamu, Ra. Kamu tahu itu." Suaranya mendadak mendalan.
"Tapi kan, aku sukanya sama kamu."