(B) UTUH

Basmalahku
Chapter #9

Bunda


Mobil yang biasa dipakai ayah dan bunda sudah terparkir rapi di garasi. Itu artinya, mereka sudah pulang dari luar kota. Senyum mengembang di bibirku. Aku langsung buru-buru masuk, tidak sabar untuk bertemu dengan ayah. Aku tidak begitu dekat dengan bunda, bisa dibilang, aku lebih dekat dengan ayah, dan Chiwa lebih dekat dengan bunda.

Tetapi setelah pintu terbuka, rumah masih sepi sepertinya biasanya. Mungkin mereka lagi istirahat karena kecapean selama diperjalanan.

Saat kakiku baru saja menyentuh tangga menuju kamarku, Chiwa tiba-tiba memanggil ku dari atas dengan suara yang kencang. "Kak!"

Aku yang tersentak kaget langsung sewot, "Apaan sih, ngagetin aja!"

Melihat aku yang sewot membuat dia tertawa senang. Adek laknat. "Dipanggil bunda ke kamar, ada yang mau di omongin katanya," ucapnya, kemudian langsung pergi sebelum mendengarkan perkataannku selanjutnya.

Aku memutar langkah menuju kamar bunda, karena kamar bunda dan ayah ada di lantai bawah.

Setelah sampai di depan pintu kamar bunda, aku menghela nafas sejenak. Perasaanku tidak enak. Tidak biasanya bunda ingin bicara, apalagi sampai memanggilku ke kamarnya seperti ini.

Aku mulai mengetuk pintu kamar bunda pelan. "Bun ... bunda manggil kakak?" panggilku dari luar.

"Iya, masuk, Kak!" Suara ayah terdengar menyahut dari dalam.

Aku membuka pintu perlahan, kulihat bunda sedang duduk di depan meja riasnya, sementara ayah sedang asyik berkutat dengan laptop di meja kerjanya.

"Kenapa, Bun?" tanyaku dengan takut. Suasananya terasa lebih dingin. Entah karena AC atau aku yang terlalu gelisah.

Bunda mulai berdehem. "Aldizar Wirasatya," ucapnya, menyebutkan nama Aldi dengan lengkap.

Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, darimana bunda mengetahui nama lengkap Aldi?

Setelah hampir lima tahun mengenal Aldi dan menjalani hubungan dengannya, bunda dan ayah memang belum tahu tentang hubungan kami. Aku sudah mengira dari awal kalau bunda akan menentang hubungan kami.

"Siapa, Ra?" Bunda bertanya dengan dingin, membuatku menelan ludah dengan susah payah.

"Ra, jawab bunda." Bunda mendesak membuat aku terbata-bata. Bunda memang jarang sekali marah, makanya menyeramkan sekali ketika melihatnya marah seperti ini.

"Ma-af, bunda," jawabku takut. Aku hanya menundukkan kepala sambil memilin jemariku.

"Apapun alasannya, bunda nggak suka lihat kamu berhubungan sama dia!" Bunda berkata dengan tegas seolah tidak ingin dibantah.

"Kenapa, alasannya apa?" tanyaku bingung.

"Karena dia miskin!" Bunda berkata dengan sangat kasar.

Aku tertegun, masih tidak percaya dengan kata-kata yang sangat jahat yang diucapkan oleh bunda.

"Memangnya apa lagi yang orang miskin itu inginkan selain manfaatin kamu?" tanya bunda dengan nada yang sedikit meninggi membuat ayah yang sepertinya terusik ikut menoleh.

"Bunda udah janji untuk tidak terlalu kasar," ucap ayah memperingati bunda.

"Aldi nggak gitu!" bantahku dengan cepat. "Aldi laki-laki baik, dia jauh dari apa yang bunda pikirkan." Aku menyela perkataan bunda, tentu saja aku tidak terima dengan apa yang bunda katakan.

Aku tidak suka bagaimana bunda menilai Aldi dengan seenaknya begitu, sementara dia yang dengan segala usahanya selalu berusaha membuatku bahagia.

"Kurang apa Wildan sama kamu, Ra? Dia udah nemenin kamu dari kecil, sekarang setelah dewasa kamu malah memilih orang lain?" tanya bunda menentang pilihanku.

"Pokoknya bunda tidak suka kamu pacaran sama anak miskin itu!" ucapnya lagi.

Lihat selengkapnya