"Ra? Ya ampun, kenapa bisa jadi gini?" Aldi bertanya dengan raut wajahnya yang kelihatan cemas, melihat mataku yang sembab dan rambutku yang acak-acakan.
Bukannya menjawab pertanyaannya, aku justru kembali bertanya. "Kok kamu bisa tahu aku disini?" tanyaku heran, karena aku tidak bilang ke siapa-siapa kalau aku ingin istirahat di UKS.
"Wildan yang ngasih tau aku," jawabnya singkat, kemudian duduk ditepi ranjang disampingku.
"Al ...," panggil ku lirih, air mataku kembali mengalir. Perkataan bunda tadi malam kembali terngiang di pikiranku.
Aldi langsung membawaku kedalam dekapannya. "Aku udah tahu dari Sherly," jawabnya pelan, sambil terus mengelus rambutku mencoba memberiku kenyamanan.
"Nggak papa, Ra. Bunda nggak jahat. Bunda sama sekali nggak punya maksud jahat. Selagi yang namanya orang tua, mereka pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Bunda bilang gitu karna bunda peduli sama kamu, bunda sayang sama kamu, bunda pengin yang terbaik buat kamu," ucapnya panjang lebar, mencoba menjelaskan perasaan bunda.
Bahkan setelah mendapatkan perkataan yang sangat kasar dari bunda, Aldi tetap menenangkan ku dengan sabar.
Aku menatap Aldi dengan senyum pedar. "Kamu nggak bakalan nyerah, kan?" tanyaku, berharap mendapatkan jawaban yang ingin aku dengar.
Aldi tidak menjawab. Dia hanya diam. Tatapannya nanar kearah lain, bisa ku bayangkan betapa penuh isi kepalanya sekarang.
"Al, jawab. Kamu udah janji sama aku kalau kita bakalan bareng terus sampai nikah. Kamu nggak akan nyerah kan? Kamu bakalan nikah sama aku kan, Al?" tanyaku mendesaknya. Terdengar egois memang, tapi aku hanya takut kalau dia akan menyerah.
Aku sudah terlanjur menggantungkan semua kebahagiaanku kepadanya. Makanya aku tidak bisa bayangkan bagaimana kehidupanku kalau tidak ada dia.
Aldi kemudian menghela nafas pelan, kadua tangannya menangkup pipiku. Bisa ku rasakan kedua ibu jarinya bergerak lembut menghapus jejak air mataku.
Wajahnya tenang sekali, seperti tidak ada beban sama sekali. Padahal aku tahu, Aldi pasti lebih sakit hati dengan perkataan bunda daripada aku. "Ra, soal hari besok kita nggak tahu pasti."
"Tapi kamu harus janji nggak bakalan ninggalin aku." sahutku cepat. "Al, aku cuman butuh waktu untuk ngeyakinin bunda kalau kamu beda dari apa yang bunda pikirkan." Aku berusaha meyakinkannya. "Jadi tolong jangan nyerah dulu, aku nggak bisa kalau nggak ada kamu, Al," ucapku lirih.
"Iya, sayang, iya. Aku memang nggak berani janji, tapi untuk sekarang, aku disini. Aku bakalan berusaha selalu ada buat kamu kapanpun kamu butuh aku, jangan nangis lagi, ya. Aku nggak suka liat kamu sedih kayak gini," ucapnya lagi membuat perasaanku sedikit tenang.
Aku kembali memeluknya. "Maafin bunda ya, Al. Bunda asal bilang gitu karna bunda belum kenal aja sama kamu," ucapku masih merasa bersalah.
"Bunda nggak salah, bunda cuman pengin yang terbaik buat kamu."
_______