(B) UTUH

Basmalahku
Chapter #11

Pentas seni


Kelasku sedang riuh membicarakan penampilan untuk acara pentas seni besok. Suasana kelas dipenuhi dengan gelak tawa dan ributan.

"Ini pentas seni terakhir kita disekolah ini, jadi gue harap kita semua bisa ngasih yang terbaik," ucap Reza, yang menjabat sebagai ketua kelas.

Walaupun tingkahnya tengil, tetapi dia juga bisa di andalkan. Buktinya, dia sudah menjabat sebagai ketua kelas kami selama hampir satu tahun ini. Kelas kami selalu aman, alaupun terkadang dia sendiri yang mengajak satu kelas tiba-tiba konser mendadak.

"Gimana kalau lo aja yang nyanyi, Za?" tanya Kenzo, salah satu murid sekelas kami.

Hampir semua murid yang ada di kelas mengangguk setuju, "Ide bagus!"

"Iya, Za. Selama setahun ini kan, satu kelas doang tuh yang lo ajak konser, kali ini lo punya kesempatan untuk mengajak satu sekolah konser. Kesempatan kayak gini nggak datang dua kali loh, Za. Jangan sampai nyesal kata gue," ucap Nara yang langsung disetujui satu kelas.

"Tapi jangan lagu bang Jali, ya. a

Agak anu juga kalau lo nyanyi lagu bang Jali di tengah lapangan," ucap Kenzo menimpali, membuat kami semua tertawa heboh.

Pagi ini, suasana sekolah tampak lebih ramai dari biasanya, ada banyak siswa-siswi dari sekolah lain karena sekolah kami mengadakan kolaborasi pentas seni. Baru kali ini sih, sampai mengundang sekolah sebelah, biasanya hanya warga sekolah.

Aku dan Nadia menatap nanar maha karya kelas kami. Diantara banyaknya karya yang lebih menarik dan kreatif, kelas kami lebih memilih untuk menjual donat yang sudah dihias terlalu imut.

"Emang ada yang mau beli donat kayak gini, Nad?" tanyaku kepada Nadia yang tengah memperhatikan satu persatu donat yang di bungkus satu pcs berisi 4 biji itu dengan telaten.

"Kurang yakin sih gue, Ra. Mana imut banget lagi, orang yang mau makan aja jadi enggan, iya nggak?" sahutnya bingung.

"Clara, Nadia, kalian yang promosiin jualan kita," ucap Reza, yang mau tidak mau harus dituruti, karena ia sendiri akan mengisi penampilan kelas kami, sepertinya janjinya kemarin, bernyanyi.

"Yang lainnya bagian melayani pembeli, dan menjaga kebersihan area stand kita. Biar kelas kita menang, kalian setuju kan, kalau tahun ini kelas kita yang jadi pemenang stand terbaik?" ucapnya, memberikan instruksi.

"Setuju!" teriak kami kompak.

Setelah acaranya dimulai satu persatu pembeli mulai berdatangan ke stand kami membuat aku dan Nadia semakin semangat untuk promosi.

Tidak sampai setengah hari, donat kami terjual habis, hal itu membuat kami semua bersorak kegirangan. "Nggak expect sih gue, Ra," ucap Nadia bangga. "Lo lihat aja tuh, stand kelas sebelah, belum habis setengah dong," ucapnya meledek.

"Tapi donatnya habis emang karena enak, kan? Bukan karna tadi si Reza teriak bilang 'Bukan manusia kalau nggak beli donat kelas kami' kan?" Suara Kenzo mengundang tawa satu kelas kami.

"Mana gue tahu, gue aja nggak ada nyicipin," sahut Nadia.

"Ini parah, sih. Dimana-mana anggota duluan yang nyicip baru bisa dijual. Nggak tanggung jawab sih gue kalau yang beli donat tadi pada kenapa-kenapa," ucap Kenzo bergurau.

Kami semua tertawa terbahak-bahak.

Lihat selengkapnya