Tiga tahun berlalu dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku melangkah ragu memasuki gerbang sekolah ini, mencari kelas, dan mengenal wajah-wajah baru. Dan kini perpisahan sudah didepan mata.
"Cantik!" Puji, Aldi ketika aku baru saja keluar dari mobil Wildan.
"Ceweknya siapa dulu?" jawabku sambil terkekeh.
Setiap tahun, acara perpisahan disekolah ku seperti sebuah pesta pernikahan, dimana ada dua pasang pengantin dari jurusan IPA dan IPS, menandai berakhirnya masa sekolah dan memulai babak baru dalam hidup.
Aula sekolah berdengung dengan riuhnya murid-murid. Para siswi bermandikan kecantikan dalam balutan kebaya, sedangkan siswa laki-laki gagah dalam jas hitam. Dress code kebaya dan jas untuk perpisahan kali ini menghidupkan suasana formal yang meriah.
Aku terpilih sebagai pengantin perempuan dan Rahman, dari kelas XII-IPA1 sebagai pengantin laki-laki. Kami berdua perwakilan dari jurusan XII-IPA.
Aku mengamati sekeliling, wajah-wajah yang kukenal selama tiga tahun terakhir kini tampak lebih dewasa, sedikit sendu, tetapi tetap memancarkan semangat.
"Nyaman nggak sama bajunya?" tanya Aldi, kemudian memberikan kipas portabel mini karena suasana aula terasa sangat gerah.
Aku menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Al. Nyaman kok, bajunya pas, nggak terlalu sempit."
Acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah. Beliau menyampaikan pesan penuh makna, mengingatkan kami tentang masa-masa indah yang telah kami lalui dan tantangan yang akan kami hadapi dimasa depan.
Acara demi acara terus berlalu, kini tiba acara pernikahan. Aku dan Rahman berjalan perlahan di red carpet menuju panggung. Dari pinggir ada adik kelas yang melempari kami dengan kelopak bunga yang indah, membuat suasana menjadi semakin meriah.
Setelah sampai diatas panggung, proses sungkeman berlangsung yang diiringi dengan suasana haru.
"Jangan terlalu terbawa, Ra. Ini masih simulasi, kalau mau official, tunggu gue jadi dokter dulu," ucap Reza berbisik kepadaku.
Aku reflek menggeplak kepalanya, membuat Rahman, yang berdiri disampingku terkekeh.
Reza kemudian beralih sungkeman kepada Rahman. "Anak orang jangan lo unboxing, bro. Ini cuman simulasi," ucapnya dengan santai.
"Anjir!" ucap Rahman reflek membuat semua orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.
Setelah acara upacara adat selesai, aku kembali duduk di aula bersama Aldi. "Definisi setelah sah, asing," ucap Reza dari atas panggung membuat satu lapangan tertawa. Ada saja memang tingkah konyolnya. Di antara semua murid kelas XII, hanya Reza yang masih ceria seperti biasanya, seperti bukan acara perpisahan, karena wajahnya tidak menunjukkan perasaan sedih sedikitpun.
Acaranya berlangsung sangat lama, sampai-sampai ada beberapa siswi yang makeup nya luntur karena keringat. Untung saja Aldi menyiapkan kipas portabel, jadi aku tidak terlalu kepanasan.
Acara selanjutnya yaitu pemberian penghargaan untuk murid-murid yang pernah mengharumkan nama baik sekolah. Aku maju kedepan bersama Aldi, dan siswa siswi lainnya.
Aldi juga ikut maju karena ia pernah memenangkan olimpiade sains, dan sekolah kami mendapatkan peringkat pertama.
Selanjutnya acara pemberian medali untuk semua siswa siswi kelas XII. yang sudah menerima medali langsung keluar dari aula karena acaranya selesai sampai disana.
Sampai giliranku, aku langsung berpamitan kepada guru-guru yang telah berjasa membimbingku selama tiga tahun ini.
"Semoga Clara jadi anak yang sukses dan bisa membanggakan kedua orang tua, aamiin," ucap Bu Henny sembari memelukku.
"Aamiin, makasih, Bu."
"Khusus kelas XII-IPA2, jangan ada yang pulang dulu, kita berkumpul di ruangan kelas sebentar," ucap Reza dari panggung.
Apalagi yang di rencanakan makhluk halus itu kali ini?
Dikelas sudah ramai, tinggal beberapa orang yang belum lengkap. "Ada acara apalagi, Nad?" tanyaku kepada Nadia.