"Sebelum pergi, kamu masih ada wishlist nggak, Ra?" Aldi bertanya.
Aku berfikir sejenak, mengingat-ingat kembali hal apa yang ingin ku lakukan bersama Aldi. "Ke toko buku, foto studio, nonton, makan ramen," jawabku cepat, membuat Aldi terkekeh.
"Satu-satu sayang," ucapnya sambil mencubit hidungku pelan.
"Kalau nggak sempat gimana?" tanyaku.
"Nanti kita kan ketemu lagi, di Bali," jawabnya.
Perkataannya membuatku sumringah. Aku mulai membayangkan, duduk diatas pasir putih sambil menyaksikan matahari tenggelam bersamanya.
Ah, namanya juga manusia. Suka sekali membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Giliran tidak sampai terjadi, jadi kecewa karena ekspektasi sendiri.
Tapi dia Aldi. Aku tahu, dia akanĀ menepati janjinya untuk menemui ku di Bali nanti. Karena aku tahu, dia akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia.
"Lagi bayangin apa, sampe senyum-senyum gitu, hayoo," ucapnya menggodaku.
"Lagi bayangin kalau kamu nyamperin aku ke Bali, pasti aku senang banget," ucapku, senyumku masih belum luntur sama sekali.
"Iya. Di tunggu ya, Tuan putri," ucapnya membuatku terkekeh.
Setelah lulus, Aldi berhenti bekerja part time, karena dia sudah melemparkan beberapa lamaran untuk beberapa perusahaan yang membutuhkan tenaga full time. Jadi, selama menunggu lamarannya diproses oleh tim perusahaan, dia mempunyai lebih banyak waktu luang untuk menemani aku.
Seperti hari ini, aku dan Aldi mengabiskan waktu bersama karena seminggu lagi, aku harus pergi dari kota yang penuh cinta ini.
"Udah, yuk!" Aldi meraih tanganku setelah membayar makanan kami, sementara aku menunggunya diluar.
"Jadikan mau mampir di rumah?" tanyaku ketika Aldi sedang membantuku memakai helm.
"Jadi sayang," ucapnya lembut.
Untuk pertama kalinya Aldi mampir sebentar di rumahku setelah mengantarku pulang. Tetapi setelah telah tiba di rumah, raut wajah bunda berubah setelah melihat Aldi.
"Hai, Tante," Aldi menyapa dengan sopan.
"Ya."
Bunda hanya menyapa Aldi sebentar kemudian langsung masuk meninggalkan kami berdua di halaman, tanpa mempersilahkan Aldi untuk masuk atau mampir sebentar.
"Aku ... langsung aja ya, Ra. Takut keburu Maghrib." Aldi sepertinya menyadari raut wajah bunda, dan ia memilih untuk pamit untuk pulang.
Aku menatapnya dengan perasaan tidak enak. "Jangan di pikirin ya, Al. Bunda emang gitu. Tapi karna belum kenal aja, kok," ucapku tidak enak.
Aldi tersenyum pedar. "Nggak papa. Yaudah ya, bye!" Aku terus memperhatikan sampai akhirnya motor Scoopy kesayangannya itu menghilang dibalik pagar.
Aku menghela nafas pelan, Kemudian masuk ke rumah.