Kalian pernah tidak, membayangkan, atau bahkan merasakan kalau rumah yang harusnya menjadi tempat berteduh paling nyaman, seketika berubah menjadi tempat yang paling menakutkan dan menyeramkan.
Semua hal yang tadinya begitu dekat dan akrab tiba-tiba berubah menjadi asing, kosong, hampa. Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Itu yang aku rasakan sekarang. Setelah kejadian malam itu, aku lebih banyak mengurung diri dikamar. Aku menghindari ayah dan bunda. Hanya Chiwa, dan Wildan yang ku izinkan masuk ke kamar.
Kalau Aldi, aku memutuskan untuk tidak menghubunginya dulu, karena aku pikir, aku butuh sembuh dulu dari sakit yang datangnya justru dari orang tuaku sendiri.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Ra? Ini Sherly. boleh masuk nggak?"
"Masuk aja," jawabku dengan malas.
"Gimana mau masuk, pintunya di kunci?"
Mau tidak mau, aku harus bangkit dari tempat tidur untuk membukakan pintu, "Mau ngapain?" tanyaku dingin, melihat Sherly datang dengan beberapa paperbag di tangannya.
"Ah elah, sama temen sendiri sinis gitu lo, nggak ramah banget," balasnya mengomel.
"Nih, gue bawain makanan, sama donat kesukaan lo. Belum makan kan lo dari kemarin?" tanyanya sambil memperhatikan piring berisi nasi, lengkap dengan lauknya di atas mejaku yang masih belum ku sentuh sama sekali.
"Nggak mau!" jawabku cepat kemudian kembali merebahkan tubuhku di kasur kesayanganku.
Tentu saja Sherly tidak tinggal diam, dia langsung menarik tanganku, memaksaku untuk duduk. "Jangan tidur lagi."
"Sher, apaan sih. Orang lagi nggak mau ngapa-ngapain," jawabku marah.
"Lo makan dulu, udah di bawain juga, bilang makasih kaga lo," balasnya tidak santai.
Sherly mulai membukakan kotak nasi yang dia bawa, "Capek muter-muter nyari nasi goreng kesukaan lo, nggak mungkin nggak dimakan dong, ya," ucapnya sedikit memaksa. Aku akhirnya memakan nasi goreng yang dia bawa. Bukan karena lapar, tapi takut dia semakin mengomel kalau aku tidak memakannya.
"Gue udah tau semuanya," ucapnya tiba-tiba, membuat aku langsung menghentikan acara makan ku.
"Dari awal udah yakin sih gue, Ra. Kalau endingnya bakalan kayak gini," lanjutnya.
"Tau darimana?" tanyaku heran. "Kok kamu nggak pernah bilang sama aku?"
"Ya ... sebenarnya pikiran gue aja sih," ucapnya kemudian mengatur posisi duduknya. "Karna ... bunda kan emang gitu orangnya, selalu membandingkan ... kekuasaan," ucapnya dengan suara yang sangat pelan.