Kalau kalian berfikir itu Aldi, kalian salah. Dia bukan Aldi, karena Aldi tetap pergi, tidak akan ada yang bisa menghalangi langkahnya kali ini. Karena dia pergi dengan membawa rasa sakit dan kecewa yang terlalu besar.
Dia Wildan. Wildan yang tiba-tiba datang dan langsung memelukku.
"Nggak papa kok, Ra. Lo nangis aja dulu, luapin semuanya," ucapnya sambil terus mengelus punggungku, berusaha menyalurkan kenyamanan.
Entah kenapa aku tidak berontak sama sekali. Lebih seramnya aku tidak tahu harus menanggapi situasi ini dengan cara apa. Tubuhku bergetar hebat.
"Ra, kita pulang, ya!" ajak Wildan, suaranya terdengar cemas. Tetapi aku tidak menanggapi perkataannya.
"Kita pulang, oke?" katanya mengulangi kalimat yang sama.
Pulang. Baru kali ini aku membenci kata pulang. Aku tidak mau pulang kerumah. Membayangkan suasana rumah saja aku tidak mau. Bagiku sekarang, rumah sudah seperti ruangan gelap yang dengan sengaja merusak cahaya lampu yang biasa menerangi nya.
Aku menggeleng. "Nggak. Aku nggak mau pulang!"
"Tapi lo butuh istirahat, Ra," ucapnya menimpali.
"Dia pergi," ucapku dengan suara yang bergetar. Aku mendongak menatap wajah Wildan. "Wil, dia pergi," ucapku sambil memilin ujung bajuku dengan yang bergetar.
Wildan merapikan rambutku yang sudah acak-acakan, kemudian menangkup kedua pipiku. "Dia nggak pergi, Ra. Lo tenangin diri dulu," sahutnya lembut.
Aku menatap Wildan kecewa. Tidak pergi? Dia pikir aku bego apa? Aldi sudah jelas-jelas pergi. Bahkan kukira, mereka masih sempat berpapasan tadi. Atau mungkin ini sudah direncanakan oleh mereka? Karena tidak mungkin Wildan menemui ku disini kalau hanya karena kebetulan.
"Kamu bohong. Kamu bohong sama aku, Wil, Aldi udah pergi," ucapku sambil memukuli dadanya, berharap bisa mengurangi rasa sesak yang kurasakan.
Tanpa aba-aba, Wildan langsung menggendong tubuhku keluar dari cafe. Dia mengabaikan tatapan heran dari semua pengunjung.
Dia mengabaikan aku yang berontak minta diturunkan. Hingga akhirnya kami sampai di mobil, Wildan buru-buru memasangkan seatbelt untukku, dan berlari mengelilingi mobilnya menuju kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan, Wildan hanya diam, dia hanya melirik ku sesekali, lalu kembali fokus mengemudi.
Aku kembali berontak ketika mobil Wildan berhenti dirumah ku. Sepanjang perjalanan, aku larut dalam lamunanku hingga aku tidak tahu, mobil Wildan menuju kemana.
"Ayok, Ra," ucapnya mengajakku turun, setelah membantuku melepaskan seatbelt.