"Lo yakin udah nggak ada yang ketinggalan?" tanya Sherly untuk yang kesekian kalinya. Suaranya sedikit khawatir, seakan ingin memastikan kalau aku sudah benar-benar siap untuk pergi.
Aku menghela nafas pelan, kemudian menjawab dengan singkat. "Nggak ada!"
"Yang semangat dong, Ra," ucap Sherly melihat aku yang masih murung.
"Iya."
"Sumpah, ya," ucapnya frustasi. "Kalau masih gini jangan berangkat dulu, deh. Berangkatnya pas lo udah ngerasa baik lagi aja," ucapnya lagi, membuat langkahku berhenti.
Aku menatap Sherly dengan datar. "Nggak bisa, Sher, aku harus pergi sekarang!" jawabku tidak mau dibantah.
"Ra, disana lo sendiri."
"Iya, tau."
Sherly mengacak rambutnya frustasi sambil berdecak sebal. "Gini nih, kalau keras kepalanya udah keluar. Lo aja deh yang ngomong. Kesal gue lama-lama," ucapnya kepada Wildan yang hanya menyimak pembicaraan kami sejak tadi.
"Gue yakin, Clara bisa," ucap Wildan sambil tersenyum menatapku, menunjukkan dukungan dan keyakinannya.
"Kalau nggak, gimana?" tanya Sherly lagi masih ragu.
"Gue yang bakalan nyusulin dia kesana," jawabnya dengan tenang.
"Gue pegang janji lo," ucap Sherly sambil menatap Wildan sinis.
"Attention passengers ...." Terdengar suara yang menandakan pesawat yang ku tumpangi akan segera berangkat.
"Yah ... lo udah harus berangkat, Ra," ucap Sherly dengan wajah sendu.