Tahun 1926.
Udara pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar dingin biasa yang menusuk hingga ke tulang, melainkan hawa yang berat, lembap, dan berbau sesuatu yang basah, sesuatu yang amis dan manis sekaligus—bau yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang pernah berdiri berdekatan dengan kematian.
Kabut turun lebih awal dari biasanya, turun begitu rendah hingga menyelimuti atap-atap rumah panggung, menelan pepohonan besar, dan membalut seluruh Desa Cemara Lawang dalam selimut putih tebal yang tak berujung.
Ki Agung berdiri di beranda rumah adat terbesar, tangannya yang keriput dan penuh urat nadi menggenggam sebilah keris tua yang sarungnya berukiran naga berkelok. Matanya yang tua namun tajam menatap lurus ke arah alun-alun desa yang mulai dipenuhi warga. Di belakangnya, berdiri lima orang lelaki berbadan tegap, berpakaian serba hitam dengan kain kepala yang menutupi sebagian wajah mereka, hanya menyisakan mata yang memancarkan ketegasan yang dingin.
“Mereka sudah berkumpul, Ki,” suara salah satu lelaki itu terdengar rendah, bergetar namun penuh keyakinan, “semua sudah sesuai rencana. Tidak ada yang mencurigai. Mereka mengira ini hanya upacara doa syukuran panen raya.”
Ki Agung mengangguk pelan, napasnya keluar dalam gumpalan uap putih yang cepat hilang ditelan kabut. Ia mengusap gagang keris itu perlahan, jari-jarinya menyusuri ukiran-ukiran yang telah ia kenal seumur hidupnya. Ada beban berat di bahunya, beban yang sudah ia pikul sejak malam ia menerima pesan dari “Para Penjaga.
Pesan yang mengatakan bahwa demi menyelamatkan desa ini, satu pengorbanan besar harus dilakukan. Bukan persembahan hewan, bukan tanaman, melainkan pengorbanan manusia, pembersihan total atas kelompok yang dianggap membawa racun, dan pemikiran yang menyimpang dari ajaran leluhur.
“Ketidaktahuan mereka adalah keamanan kita, Dika,” jawab Ki Agung pelan. Ia menoleh sedikit, menatap wajah lelaki muda di sampingnya, “Ingatlah apa yang aku katakan padamu kemarin malam. Apa yang akan kita lakukan hari ini bukanlah pembunuhan. Ini adalah penyucian. Ini adalah cara agar nama Cemara Lawang tetap harum dan dijaga para roh pelindung. Kelompok Kuno itu, mereka sudah terlalu jauh melangkah. Mereka ingin mengubah aturan, ingin membuka gerbang yang seharusnya tetap tertutup selamanya. Jika dibiarkan, seluruh desa ini akan musnah tersapu bencana.”
Dika menunduk hormat. “Saya mengerti, Ki. Demi keselamatan bersama. Darah yang tumpah hari ini akan menjadi benih yang membuat tanah ini semakin subur dan kuat. Kami siap menjalankan perintah.”
“Bagus.” Ki Agung berbalik kemudian melangkah turun dari beranda. Kayu tua itu berderit pelan di bawah berat tubuhnya, “pastikan tidak ada yang lolos. Tidak ada yang dibiarkan hidup untuk menceritakan apa yang terjadi di sini. Dan yang paling penting, hancurkan semua catatan, semua naskah, dan semua tulisan yang berhubungan dengan mereka. Bakar, kubur, atau tenggelamkan ke dasar sungai. Seolah mereka tidak pernah ada di dunia ini.”
Langkah kaki Ki Agung memecah keheningan pagi. Di bawah sana, ratusan warga sudah duduk bersila di atas tikar anyaman yang dibentangkan di tanah. Wajah-wajah itu tampak damai, penuh harap, bahkan tersenyum satu sama lain. Ibu-ibu membawa bekal makanan, anak-anak berlari kecil mengejar satu sama lain di antara celah orang dewasa, sementara para tetua adat duduk di barisan paling depan dengan wajah khusyuk.
Tidak ada satu pun dari mereka yang sadar bahwa bayangan maut sedang berdiri tepat di belakang punggung mereka dan menyeringai di balik kabut tebal itu. Namun, di sudut alun-alun yang paling gelap, di dekat pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti ular raksasa, sekelompok kecil orang duduk terpisah.
Ada sekitar dua puluh orang, terdiri dari tua, muda, perempuan, dan anak-anak. Pakaian mereka berbeda, tidak sewarna warga lain. Wajah mereka tidak tenang; ada kekhawatiran yang nyata tergambar di mata mereka. Mereka adalah Kelompok Kuno—kelompok yang memegang warisan tulisan dan pengetahuan tertua desa, kelompok yang mulai menyadari bahwa ajaran yang diajarkan Ki Agung belakangan ini telah menyimpang jauh dari apa yang tertulis di naskah leluhur.
Tua Resi, pemimpin kelompok itu, seorang lelaki berusia lanjut dengan janggut panjang memutih sedang menggenggam tangan cucu perempuannya yang masih kecil. Tangan lelaki itu dingin dan berkeringat dingin. Ia menatap ke arah Ki Agung yang kini berjalan tegap menuju tengah lapangan sambil memegang sebilah tongkat kayu yang dihiasi bulu-bulu burung langka.
“Ada yang salah, Kakek,” bisik gadis kecil itu, matanya yang besar berbinar takut. Ia merapatkan tubuhnya ke lengan Tua Resi, “udara di sini rasanya seperti saat Ayah memotong leher kambing kurban. Bau besi, Kek. Aku mencium bau besi dan darah.”
Tua Resi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seketika. Ia mengelus kepala cucunya pelan, berusaha tersenyum meski hatinya hancur berkeping-keping.
“Tidak ada apa-apa, Sayang. Mungkin hanya sisa bau pembuatan peralatan pertanian kemarin. Duduklah dan diam di sini, dekat Paman. Jangan pergi ke mana pun, mengerti?”
Namun, di dalam hati tua Resi, badai besar sedang mengamuk. Ia tahu. Ia sudah mendengar bisik-bisik dan melihat tatapan mata warga desa yang berubah menjadi curiga serta dingin belakangan ini. Ia tahu bahwa penemuan mereka beberapa bulan lalu—sebuah naskah kuno yang menceritakan asal-usul sebenarnya desa ini dan kekuasaan yang diwariskan telah mengancam posisi Ki Agung.