Angin pagi berhembus dingin, membawa aroma basah tanah dan jarum pinus yang tajam, menusuk masuk lewat saku jaket tebal Arka. Ia menurunkan koper kain tua dari atas truk tua yang menjadi satu-satunya kendaraan penghubung desa ini dengan dunia luar. Roda kendaraan itu baru saja berputar menjauh, meninggalkan jejak debu merah yang perlahan lenyap ditelan kabut tebal yang seolah tak pernah beranjak dari lembah ini.
Desa Kabut Senja. Nama yang terdengar indah, seolah diambil dari dongeng masa kanak-kanak, namun saat Arka menatap ke depan, ia merasakan sesuatu yang lain—sesuatu yang berat, seperti ada sepasang mata tak kasat mata yang mengawasi setiap gerak-geriknya sejak ia melangkah masuk ke batas desa.
Kabut di sini bukan sekadar uap air biasa. Warnanya keabu-abuan, tebal seperti kapas basah, menggantung rendah di antara deretan rumah panggung kayu beratap rumbia yang berbaris rapi mengikuti kontur bukit. Suasana begitu sunyi, terlalu sunyi.
Hanya terdengar suara aliran sungai kecil di kejauhan dan desiran angin yang menyelinap di sela-sela pepohonan tua yang menjulang tinggi, seolah menjadi penjaga gerbang yang abadi. Arka menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa bersih namun entah mengapa meninggalkan rasa pahit di tenggorokan. Ia merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin, lalu meraih kembali kopernya, melangkah masuk lebih dalam.
Belum sempat ia berjalan jauh, suara pintu kayu yang berderit keras memecah keheningan. Dari balik jendela-jendela kecil, bayang-bayang tubuh manusia bergerak cepat, lalu menghilang seketika saat Arka menoleh. Ia melihat seorang lelaki tua duduk di beranda rumah terdekat, memotong bambu dengan pisau besar. Lelaki itu berhenti bekerja begitu saja saat melihat Arka mendekat. Matanya yang kecil dan berkerut menatap tajam, tidak menyapa, tidak tersenyum—hanya diam, memindai Arka dari ujung rambut hingga ujung sepatu berlumpur itu dengan pandangan yang penuh kecurigaan.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Arka, mencoba melemparkan senyum paling ramah yang ia miliki. Ia berhenti beberapa langkah di depan rumah itu, berusaha tidak terlihat mengancam, “maaf mengganggu. Saya Arka. Saya peneliti sejarah dari kota. Apakah boleh saya bertanya di mana letak rumah Ki Surya? Saya membawa surat rekomendasi dari dinas kebudayaan.”
Lelaki tua itu tidak menjawab seketika. Ia memutar bilah pisaunya di udara, membiarkan sinar matahari yang nyaris tak tembus kabut memantul di permukaan logamnya yang kusam. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergerak pelan, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti gesekan kayu kering.
“Peneliti Sejarah.”
Lelaki itu mengulang kata-kata itu dengan nada yang terasa mengandung makna tersendiri, bukan rasa hormat, melainkan rasa jijik atau mungkin ketakutan. Ia meludah ke samping, ke tanah yang tertutup lumut tebal.
“Banyak yang datang bertanya. Sedikit yang pulang membawa jawaban. Lebih baik kamu balik saja, Nak. Jangan mencari apa yang tidak ingin ditemukan.”
Arka mengernyitkan dahi, kebingungan namun rasa penasaran dalam dadanya justru semakin memuncak. “Maaf, Pak, apa maksudnya ya? Saya hanya ingin mendokumentasikan adat istiadat dan sejarah lisan desa ini. Desa Kabut Senja dikenal sebagai salah satu desa adat yang paling terjaga keasliannya. Saya hanya ingin mencatatnya sebelum hilang ditelan waktu.”
“Waktu?” Lelaki tua itu tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa kehangatan. Ia menunjuk ke arah lereng gunung di kejauhan, di mana kabut terlihat paling tebal dan gelap, “di sini, waktu tidak berjalan seperti di kotamu. Di sini, waktu hanya diam. Dan hal-hal yang seharusnya mati, tetap hidup dalam bayang-bayang. Kau dengar nasihat orang tua ini, Nak. Cari tempat menginap malam ini, istirahat, lalu besok pagi-pagi sekali, ikuti jalan yang kau lewati tadi. Pergi dari sini.”
Sebelum Arka sempat bertanya lebih lanjut, seorang wanita paruh baya muncul di balik pintu, menarik lengan lelaki tua itu masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat dan ketakutan. Pintu ditutup rapat dan dikunci, meninggalkan suara 'klik' yang terdengar sangat jelas di tengah keheningan pagi itu.
Arka berdiri terpaku, menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat. Aroma kayu bakar dan bumbu masakan samar tercium dari cerobong asap rumah itu, bau yang seharusnya hangat dan mengundang rasa nyaman, namun di sini justru terasa mencekam.
“Pasti hanya takhayul desa biasa,” gumam Arka pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan hati kecilnya yang mulai merasa tidak tenang. Ia mengangkat kembali koper beratnya, “mereka hanya tidak terbiasa dengan orang luar. Aku harus tetap fokus.”
Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak berbatu. Semakin ia masuk ke dalam desa, semakin ia merasakan ketidakwajaran suasana di sana. Warga desa yang berpapasan dengannya akan langsung membuang muka, berjalan memutar, atau berbisik-bisik satu sama lain sambil menunjuk ke arahnya. Ia melihat anak-anak yang seharusnya riang bermain, justru diam dan menatapnya dengan mata lebar, lalu berlari masuk ke dalam pelukan orang tua mereka seolah Arka adalah makhluk buas yang baru lepas dari kandang.
Namun, di balik sikap dingin dan curiga itu, desa ini memiliki keindahan yang memukau. Pepohonan besar berdaun hijau pekat tumbuh di setiap sudut, sungai kecil dengan air sebening kaca membelah pemukiman, dan bangunan-bangunan tua dengan ukiran rumit yang tak pernah ia lihat di tempat lain berdiri kokoh. Warnanya masih cerah, terawat baik, seolah waktu benar-benar berhenti berjalan di sini.
Arka teringat catatan dalam berkasnya: Desa Kabut Senja, terisolasi, masyarakat tertutup, memegang teguh tradisi leluhur sejak berabad-abad lalu.