Cahaya di ruangan itu meredup drastis. Arka menoleh cepat ke arah celah-celah dinding kayu yang tadinya menjadi satu-satunya jalan masuknya sinar matahari. Di luar sana, kabut yang tadi hanya menggantung di lereng gunung kini telah turun sepenuhnya. Cahaya siang yang cerah berubah menjadi kelabu suram dalam sekejap mata, membuat ruangan tua itu kini nyaris gelap gulita, hanya diterangi sinar senter kecil di tangan Arka yang masih bergetar hebat.
Udara di dalam gudang itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Bau yang semula hanya bau kertas lapuk dan kayu busuk, kini bercampur dengan aroma lain—aroma besi berkarat dan sesuatu yang amis, persis seperti bau yang pernah ia bayangkan saat membaca tulisan di naskah itu. Arka menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kasar. Ia dengan hati-hati melipat kembali pecahan kertas tua itu, memasukkannya ke dalam saku bagian dalam jaketnya, menekannya erat ke dada, seolah benda itu adalah bara api yang bisa membakar kulitnya.
Kata-kata terakhir penulis naskah itu berputar terus di kepalanya, bergaung seperti bisikan di telinganya: Siapa pun yang membaca ini, pergilah. Karena begitu kau tahu, kau menjadi bagian dari daftar mereka yang harus dibungkam.
“Siapa yang menulis ini?” bisik Arka pelan, suaranya pecah di tengah keheningan yang mencekam. Matanya berkeliling menyapu sudut-sudut gelap ruangan itu, merasakan beratnya pandangan tak kasat mata yang seolah menempel di punggungnya, “apa sebenarnya yang terjadi di sini saat tahun 1926?”
Arka memberanikan dirinya untuk melangkah mundur perlahan, satu langkah demi satu langkah, tanpa membalikkan badan. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras hingga ia khawatir suaranya akan terdengar oleh siapa pun yang berada di luar sana. Saat punggungnya akhirnya menyentuh pintu kayu kasar itu, ia segera memutar badannya, mendorong daun pintu itu terbuka dan melompat keluar secepat kilat, seolah ada tangan keriput yang berusaha menarik kakinya masuk kembali ke dalam kegelapan.
Udara dingin di luar menyambutnya dengan hembusan yang kuat, membuat rambutnya berantakan dan jaketnya berkibar. Kabut sudah begitu tebal hingga ia hampir tidak bisa melihat ujung jari tangannya sendiri. Pemandangan indah desa yang tadi pagi ia kagumi, kini berubah menjadi lautan putih tak berbentuk yang menyesatkan. Di kejauhan, bayangan-bayangan rumah panggung tampak seperti raksasa bungkuk yang diam-diam mengawasi. Arka menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih liar, namun napas yang ia taruh terasa berat dan penuh dengan aroma tanah basah yang pekat.
“Tuan Muda?”
Suara berat dan tenang itu terdengar tiba-tiba dari jarak yang sangat dekat, membuat Arka tersentak hebat hingga ia hampir menjatuhkan senternya. Ia berbalik cepat, tangannya menggenggam erat ujung jaketnya tempat naskah itu tersembunyi. Di sana, berdiri sosok tinggi besar yang dibalut kabut tipis, mengenakan pakaian adat berwarna gelap dengan ikat kepala yang rapi. Wajahnya teduh dan senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, saat mata Arka bertemu dengan mata lelaki itu, rasa dingin yang jauh lebih hebat merambat naik dari tulang belakangnya.
Itu adalah Ki Surya. Pemimpin adat desa.
“Ki Surya,” sapa Arka, berusaha menutupi gugupnya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengatur nada bicaranya agar terdengar tenang, “saya baru saja selesai melihat-lihat koleksi di dalam sana. Tempatnya sangat tua. Penuh sejarah.”
Ki Surya melangkah maju perlahan, langkah kakinya tidak menimbulkan suara apa pun di atas tanah yang tertutup dedaunan kering dan lumut. Ia berhenti tepat di hadapan Arka, cukup dekat hingga Arka bisa mencium wangi kemenyan dan kayu cendana yang kuat dari tubuhnya—bau yang biasanya menenangkan, tapi kali ini terasa menyesakkan dada. Ki Surya mengangkat tangannya yang besar dan kasar, menunjuk ke arah pintu gudang yang masih terbuka di belakang Arka. Matanya menyipit sedikit, menatap celah gelap di dalam sana seolah ia bisa melihat setiap sudut ruangan itu hanya dengan pandangan mata.
“Apa yang kamu temukan di dalam sana, Arka?” tanya Ki Surya. “ada benda menarik yang cukup membuatmu tertegun lama sekalikah di dalam sana? Aku sudah berdiri di sini sejak lima menit yang lalu, memanggilmu beberapa kali, namun kamu tidak menjawabnyasama sekali.”
Darah Arka berdesir. Ia tidak mendengar apa pun. Ia terlalu asyik membaca, terlalu terperangkap dalam kengerian masa lalu yang tertulis di atas kertas itu.
“Hanya banyak debu, Ki,” jawab Arka cepat, berusaha menampilkan senyum paling wajar yang ia bisa. Ia mengusap pelan dada bagian dalam jaketnya, memastikan benda itu tersembunyi baik-baik, “banyak sekali naskah yang sudah rusak parah dimakan usia. Sulit dibaca. Sebagian besar tulisannya sudah pudar atau hilang sama sekali. Saya hanya terkejut betapa tuanya benda-benda yang disimpan di sini.”
Ki Surya tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan, menepuk bahu Arka dengan lembut, namun tekanan di telapak tangan lelaki itu terasa berat, seolah menahan Arka agar tidak bisa bergerak pergi.
“Memang begitu adanya,” ucap Ki Surya sambil mengangguk pelan, “masa lalu itu seperti kabut ini, Nak. Ada banyak hal yang tersembunyi di dalamnya, ada banyak bentuk yang terlihat tapi sebenarnya tidak nyata, dan ada banyak kebenaran yang sebaiknya dibiarkan tertidur selamanya. Membangunkan apa yang sudah lama mati hanya akan membawa masalah baru, percayalah pada kata-kata orang tua ini.”
Ia menarik tangannya kembali, lalu berbalik berjalan menuju arah alun-alun desa, memberi isyarat agar Arka mengikutinya.
“Ayo, berjalan bersamaku. Udara di sini semakin dingin dan kabut semakin tebal. Tidak baik berada terlalu dekat dengan bangunan tua saat suasana sedang begini. Konon, saat kabut turun, roh-roh leluhur suka berjalan-jalan, dan mereka tidak suka diganggu oleh orang asing yang terlalu banyak bertanya.”
Arka mengikuti di belakang Ki Surya, langkah kakinya pelan dan hati-hati. Ia memperhatikan punggung lelaki itu yang tegap dan kokoh. Ada sesuatu yang janggal pada sosok pemimpin desa ini. Di permukaan, ia tampak seperti pemimpin yang bijaksana, ramah, dan penuh wibawa persis seperti deskripsi yang biasa dibaca di buku-buku sejarah tentang pemimpin adat yang baik.