“Aku harus pergi dari sini,” gumam Arka pada dirinya sendiri, mencoba mengusir rasa takut yang mulai menguasai akal sehatnya, “aku butuh tempat untuk berpikir, butuh cahaya, dan butuh suasana yang tidak seperti dikepung oleh kematian.”
Ia berbalik arah, berjalan cepat menuju penginapan sederhana yang disediakan desa untuk tamu. Penginapan itu terletak agak terpisah dari pemukiman utama, di pinggir aliran sungai kecil yang airnya mengalir jernih dan berisik. Setidaknya, suara air itu sedikit menenangkan hati, mengalahkan keheningan mencekam yang menyelimuti seluruh Kabut Senja.
Sesampainya di kamar kecil berbau kayu cendana itu, Arka mengunci pintu dari dalam, menyandarkan punggungnya di sana seolah ada yang berusaha mendorong masuk dari luar. Ia mengeluarkan naskah kuno itu, membentangkannya di atas meja kayu yang permukaannya halus dan dingin.
Di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang, tulisan-tulisan berdarah itu kembali menatapnya. Matanya menelusuri baris demi baris, hingga ia berhenti pada satu bagian yang sebelumnya terlewatkan karena tertutup lipatan kertas.
“Dan, hukuman bagi siapa pun yang berani membuka rahasia ini, atau membantu orang asing mengetahuinya adalah sama. Tubuhnya akan tetap utuh, tak ada luka, tak ada goresan. Namun darahnya akan ditarik keluar hingga tetes terakhir, disedot oleh roh penjaga rahasia, mengalir masuk ke dalam tanah untuk memberi makan akar pohon tua. Tidak ada yang bisa menjelaskan kematian itu. Tidak ada yang bisa mengobati. Itu adalah kematian yang sunyi, kematian yang membawa pesan: Diamlah, atau kau pun akan kering dan mati.”
Arka menelan ludah. Tangannya gemetar saat ia membaca ulang kalimat itu.
Tubuh utuh, tapi darah habis tersedot.
Pikirannya langsung melayang ke lelaki tua yang ditemuinya saat pertama kali tiba di desa ini. Lelaki tua yang memotong bambu, yang menatapnya dengan curiga namun sempat memberikan peringatan tulus. Lelaki tua itu namanya Pak Sadi. Ia adalah orang pertama yang berbicara panjang lebar dengan Arka, orang pertama yang mengatakan bahwa Arka sebaiknya pergi sebelum terlambat.
“Pak Sadi,” bisik Arka, rasa cemas mulai menjalar hebat di dadanya, “dia berbicara denganku. Dia memberitahuku hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan. Jika aturan mereka sekejam ini . . .”
Belum sempat pikiran itu selesai terbentuk sepenuhnya, suara teriakan histeris memecah keheningan malam yang baru saja mulai turun. Suara itu berasal dari arah pemukiman, melengking tinggi dan penuh kepanikan, kemudian disusul oleh suara-suara gaduh, pintu-pintu dibuka paksa, dan keributan yang bergerak cepat mendekat ke arah penginapan Arka.
Arka segera melompat berdiri, membuka pintu dan berlari keluar. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan tebal, ia melihat sekelompok warga desa berlarian membawa obor yang apinya bergoyang-goyang diterpa angin. Cahaya kuning kemerahan itu menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari mengerikan di tanah.
Di tengah kerumunan, ia melihat Ki Surya berjalan tegak, wajahnya tampak serius namun entah mengapa tetap tenang, terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja mendengar musibah menimpa warganya.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Arka menyambar lengan seorang wanita yang berlari lewat di hadapannya.
Wanita itu pucat pasi, matanya melotot ketakutan, tubuhnya gemetar hebat seolah sedang menggigil kedinginan parah.
“Pak Sadi . . . Pak Sadi . . .” wanita itu hanya mampu mengulang nama itu berulang kali, suaranya pecah dan nyaris tak terdengar, “dia . . . dia mati. Tapi caranya, caranya mengerikan sekali.”
Jantung Arka serasa berhenti berdetak. Ia melepaskan lengan wanita itu dan berlari mengikuti arah kerumunan itu. Kakinya terasa berat, seolah ada magnet besar yang menariknya ke bawah tanah, namun rasa penasaran bercampur rasa takut mendorongnya terus maju. Ia harus melihatnya. Ia harus memastikan apakah firasat buruknya benar adanya.
Rumah Pak Sadi kini dikelilingi puluhan warga yang berdiri berdesak-desakan namun menjaga jarak aman, tidak ada yang berani melangkah masuk ke halaman. Arka menerobos masuk, dan di sana, tepat di beranda tempat lelaki tua itu duduk memotong bambu pagi tadi, ia melihat sosok yang duduk bersandar pada tiang kayu.
Itu adalah Pak Sadi. Posisi duduknya sama persis seperti pagi tadi. Tubuhnya tegak, kepalanya sedikit menunduk ke dada, tangannya masih memegang gagang pisau besar yang kini tergeletak di samping kakinya. Dari kejauhan, ia tampak seperti orang yang sedang tidur atau sedang beristirahat sambil duduk. Namun, begitu Arka mendekat, aroma yang menyengat langsung menusuk hidungnya—bukan bau darah segar seperti yang biasa tercium di tempat pembunuhan, melainkan bau kering, bau debu, dan sesuatu yang amis yang sudah lama membusuk.
Arka berhenti tepat di depan jenazah itu.
“Tubuh Pak Sadi utuh. Tidak ada satu pun luka di lehernya, tidak ada sayatan di dadanya, tidak ada lubang peluru, tidak ada memar, tidak ada tanda-tanda perkelahian. Tapi, kenapa?” gerutu Arka bingung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Pakaiannya masih rapi, bersih, sama persis seperti pagi tadi aku lihat. Tapi, kulit lelaki tua itu, kulitnya menempel rapat pada tulang, kering, keriput, berwarna abu-abu pucat yang mengerikan, persis seperti kulit mayat yang sudah dikubur berbulan-bulan dan baru saja digali kembali. Tapi, wajahnya yang pagi tadi masih merah merona dan penuh semangat saat aku melihatnya, kenapa sekarang malah terlihat cekung ke dalam, matanya terbuka lebar namun kosong, bola matanya pun putih kelabu tanpa ada sedikit pun cairan atau warna merah di dalamnya.
Dia kering. Benar-benar sepenuhnya kering,” katanya kembali tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Ini . . . ini mustahil!” seru Arka kembali tampak syok.
Ia mendekatkan tangannya perlahan, ragu-ragu, hingga jari-jarinya menyentuh lengan jenazah itu. Kulitnya dingin, keras, dan kering seperti kayu mati. Tidak ada rasa hangat, tidak ada rasa lembap, tidak ada denyut nadi. Kosong. Benar-benar kosong.