Ki Surya masih berdiri di tengah kerumunan warga yang membeku, tangannya masih menggenggam potongan kayu kecil berukir tiga garis merah itu. Pandangannya yang tajam dan penuh amarah terkunci tepat di bola mata Arka. Warga desa mulai berbisik-bisik, suara mereka samar namun terdengar jelas di telinga Arka.
“Itu tanda Kuno. Pak Sadi . . .dia ternyata masih menyimpannya. Dia masih bagian dari mereka,” bisik seorang wanita tua, suaranya bergetar hebat.
“Apa artinya? Apakah kutukan itu kembali? Dulu kami kira semua sudah bersih, semua sudah selesai. Tapi tanda ini ada lagi dan ada orang asing di sini,” kata yang lain.
Ki Surya perlahan mengepalkan tangannya hingga potongan kayu itu tersembunyi di balik telapak tangannya yang besar. Ia mengangkat dagunya, suaranya berat, bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang ditahan sekuat tenaga agar tidak meledak di sana juga.
“Teman-temanku,” ucap Ki Surya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Arka, “kalian dengar bisikan-bisikan itu. Kalian lihat sendiri apa yang ada di tangan ini. Pak Sadi bukan sekadar orang tua yang tersesat. Dia adalah sisa dari masa lalu yang kami kira sudah kami kubur dalam-dalam. Dia menyimpan rahasia, dia berbicara dengan orang asing, dan dia mencoba membuka kembali luka yang sudah kami jahit rapat-rapat.”
Ia melangkah satu langkah ke depan, membuat warga secara refleks mundur selangkah, memberi ruang bagi pemimpin mereka yang kini tampak begitu mengerikan.
“Kematiannya bukan sekadar peringatan,” lanjut Ki Surya, nadanya meninggi, penuh penekanan yang ditujukan langsung ke hati Arka, “ini adalah hukuman. Hukuman bagi siapa pun yang berani mengkhianati janji suci leluhur. Dan ingatlah baik-baik, roh yang mengambilnya itu tidak akan berhenti sebelum semua jejak kejahatan masa lalu dihapuskan sepenuhnya dari bumi Kabut Senja ini.”
Arka menelan ludah yang terasa pahit dan kering. Ia tahu kata-kata itu ditujukan untuknya. Ki Surya tidak menyebut nama, tapi setiap kalimatnya seolah ditusukkan langsung ke arah dada Arka. Di saku bagian dalam jaketnya, pecahan naskah kuno itu terasa panas membakar kulit, seolah berteriak meminta perhatian. Naskah itu adalah bukti. Naskah itu adalah kebenaran. Dan naskah itulah yang kini membuat nyawanya tergantung di ujung benang tipis.
“Kubur dia sekarang. Tanpa upacara besar. Tanpa doa panjang,” perintah Ki Surya dingin, membalikkan badan dan berjalan pergi, menjauh ke arah rumah adat besar di tengah desa.
Sebelum menghilang di balik tirai kabut, ia berhenti sebentar dan menoleh ke samping, berbicara pada salah satu pengawalnya yang berdiri tegap di pinggir jalan.
“Pastikan tamu kita aman. Dan pastikan dia tidak pergi ke tempat yang tidak seharusnya. Jangan sampai ada lagi yang terganggu atau hilang karena rasa ingin tahu yang berlebihan.”
Pengawal itu mengangguk kaku, matanya yang tajam langsung berpindah menatap Arka dengan pandangan kosong namun mengancam. Arka mengerti arti perintah itu. Ia tidak sedang dijaga demi keamanannya. Ia sedang diawasi. Dikurung. Dan setiap gerak-geriknya kini tercatat rapi di mata-mata Ki Surya.
Malam itu berlalu dengan sangat lambat. Arka kembali ke penginapan kecilnya, mengunci pintu dan jendela rapat-rapat, kemudian menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tipis itu. Di dalam kamar yang remang-remang, diterangi cahaya lampu minyak yang bergoyang-goyang, ia mengeluarkan kembali naskah kuno itu. Tangannya masih gemetar saat ia membentangkannya di atas meja kasar. Aroma kertas tua dan bau amis samar kembali tercium, mengingatkannya pada bau tubuh Pak Sadi yang kering kerontang tadi sore.
Matanya menelusuri setiap baris tulisan tangan yang bergetar itu, hingga berhenti pada bagian yang belum sempat ia baca tuntas.
“Di balik kabut paling tebal, di jantung hutan tua yang tak pernah disentuh sinar matahari, berdiri bangunan yang menjadi saksi bisu hari pembantaian. Di sanalah asal mula kekuasaan mereka. Di sanalah mereka menyimpan semua bukti dosa besar itu. Dan di sanalah tersimpan jawaban mengapa darah harus terus mengalir setiap generasi agar kekuasaan mereka tetap abadi. Jika kau ingin mengungkap kebenaran sepenuhnya, pergilah ke sana. Tapi ingat hanya orang yang sudah tidak takut mati yang berani melangkah masuk. Karena di sana, tidak ada hukum manusia yang berlaku. Hanya ada hukum darah dan kabut.”
Arka menarik napas panjang, membiarkan kata-kata itu meresap jauh ke dalam pikirannya. Hati nuraninya berperang hebat dengan rasa takut yang melumpuhkan. Logikanya berteriak agar ia segera pergi, lari sejauh mungkin dari desa terkutuk ini sebelum ia berakhir sama seperti Pak Sadi. Kering, kaku, dan tanpa setetes darah pun tersisa di pembuluhnya. Namun, sisi lain dalam dirinya, sisi peneliti yang haus kebenaran, dan sisi manusia yang marah melihat ketidakadilan, menahannya di sini.
Pak Sadi mati karena berbicara padanya. Pak Sadi mati karena mencoba memberinya petunjuk. Jika ia lari sekarang, kematian lelaki tua itu sia-sia. Dan kebenaran tentang pembantaian tahun 1926 akan tetap terkubur selamanya, dikuasai oleh keturunan pembunuh yang kini memimpin desa ini dengan wajah suci.
“Aku harus pergi ke sana. Hutan Larangan. Di situlah letak kuncinya. Di sanalah aku akan menemukan bukti yang bisa menjatuhkan mereka,” bisik Arka tegas.
Ia melirik ke arah celah jendela yang tertutup rapat. Di luar sana, ia tahu ada pengawal yang mengawasi rumah ini. Ia tahu setiap jalan utama dijaga ketat. Tapi desa ini tua, dibangun di atas tanah yang berlekuk-lekuk dan berbukit. Pasti ada jalan lain. Jalan sempit yang terlupakan, jalan yang hanya diketahui oleh mereka yang berani menyusup di balik bayang-bayang.
Arka menunggu hingga suara ayam jantan berkokok pertama kali, tanda malam mulai berakhir namun kegelapan masih memegang kendali sepenuhnya. Ia mengenakan jaket tebal berwarna gelap, menyembunyikan segala benda yang berkilau, dan memasukkan naskah kuno itu ke dalam saku bagian dalam yang tertutup rapat. Dengan hati-hati, ia mengangkat jendela belakang yang menghadap ke arah sungai kecil, arah yang berlawanan dari posisi pengawalnya. Engsel kayu itu berderit pelan, suara yang terdengar sangat keras di tengah keheningan, namun segera tertutup oleh gemuruh air sungai yang mengalir deras di bawah sana.
Ia melompat turun, mendarat di atas tumpukan daun kering dan tanah basah yang lembap. Udara pagi itu sangat dingin, membuat napasnya berubah menjadi uap putih kecil yang cepat hilang ditelan kabut. Arka merangkak rendah, menjauh dari bangunan penginapan, bergerak mengikuti aliran sungai yang membelah lembah dan mengarah lurus ke utara, ke arah Hutan Larangan yang ditunjuk Ki Surya kemarin.
Semakin jauh ia melangkah, semakin lembap udara di sekitarnya. Kabut di sini bukan lagi sekadar uap air. Rasanya seperti berjalan di dalam air, tebal, berat, dan sulit dilihat. Pohon-pohon di pinggir sungai berubah bentuk, menjadi lebih besar, lebih tua, dengan akar yang menjalar ke mana-mana. Suara burung dan serangga lenyap sama sekali. Keheningan di sini begitu pekat hingga Arka bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergaung di telinganya.
Hutan ini berbeda. Bukan sekadar hutan biasa. Ada aura yang terasa berat, seolah udara di sini lebih padat, lebih tua, dan penuh dengan ingatan-ingatan kelam yang tersimpan di setiap batang kayunya. Arka terus berjalan, menendang ranting-ranting kecil yang kering, matanya berkeliling waspada, memindai setiap bayangan yang terbentuk aneh oleh kabut.
Setelah berjalan sekitar satu jam, melewati semak belukar yang mencakar kulitnya dan akar pohon yang menghalangi jalan, pemandangan di depannya tiba-tiba terbuka. Di sana, di tengah tanah yang sedikit lebih tinggi dan kering, berdiri reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah, tertutup lumut tebal dan tanaman merambat yang melilit erat seolah berusaha menelan bangunan itu kembali ke dalam bumi.
Arka berhenti melangkah, napasnya tertahan oleh keheranan sekaligus rasa ngeri.
Bangunan itu tidak besar, namun bentuknya sangat aneh. Tidak seperti rumah adat biasa yang banyak ia lihat di desa. Bangunan ini memiliki dinding yang terbuat dari batu-batu besar yang disusun rapi tanpa perekat, kokoh dan abadi. Sisa-sisa tiang penyangga yang masih berdiri tegak di beberapa sudut tampak beratap batu datar, dan di setiap permukaan yang masih terbuka, terukir pola-pola yang rumit, berulang, dan asing baginya.