Air itu sedingin es yang baru saja dicabut dari perut gunung. Saat tubuh Arka menembus tirai air terjun kecil itu, hawa dingin langsung menyergapnya, merembes menembus serat-serat jaket tebalnya hingga ke kulit, membuat tulang-tulangnya terasa kaku seketika. Di balik air yang jatuh berderai itu, ada celah batu sempit yang gelap, begitu sempit hingga Arka harus memiringkan tubuhnya dan menarik napas panjang hanya untuk bisa masuk sepenuhnya. Di depannya, cahaya yang sangat redup bergerak menjauh, sepasang mata kecil yang berkilau samar di dalam kegelapan, satu-satunya penunjuk jalan yang ia miliki saat ini.
Di belakangnya, di sisi lain tirai air itu, dunia luar bergemuruh dalam amarah. Suara teriakan Ki Surya terdengar teredam oleh gemuruh air, namun tetap tajam dan mengancam, menembus hingga ke dalam celah batu tempat Arka bersembunyi.
“Cari dia! Dia tidak mungkin pergi ke mana pun! Hutan ini dikepung! Jangan biarkan dia membawa sepotong pun dari apa yang dia temukan!”
Disusul suara gemerisik dedaunan yang berjatuhan, hentakan kaki-kaki berat yang berlari kian mendekat, dan suara gesekan kain putih yang khas—suara dari makhluk-makhluk tanpa wajah yang mengejarnya. Arka menahan napas, menempelkan punggungnya ke dinding batu yang basah dan berlumut, jantungnya berdegup kencang hingga rasanya akan meledak di telinga. Melalui celah-celah air yang jatuh, ia melihat bayangan-bayangan putih bergerak melintas di luar, berputar-putar, tangan mereka yang panjang dan kurus menyambar-nyambar ke udara seolah bisa mencium bau ketakutan dan kebenaran yang ada di dalam dirinya.
“Di sini . . .” bisik suara lirih itu lagi, kali ini lebih dekat, tepat di samping telinganya. Sebuah tangan kecil, kurus, dan luar biasa dingin menyentuh pergelangan tangan Arka, menariknya pelan ke dalam lorong batu yang semakin gelap dan miring ke bawah.
“Jangan bersuara. Jangan menyalakan cahaya. Mereka punya mata di kegelapan, tapi mereka tidak bisa mencium jejak mereka sendiri.”
Arka mengikuti saja, membiarkan dirinya ditarik masuk lebih dalam ke perut bumi. Kakinya menginjak bebatuan licin yang tertutup lumut tebal, sesekali terpeleset di genangan air yang dinginnya menyengat tulang. Udara di sini terasa berat, lembap, dan berbau tanah tua bercampur bau anyir samar—bau yang mulai sangat ia kenal sejak pertama kali membuka naskah kuno itu: bau darah yang sudah lama kering namun tidak pernah benar-benar hilang.
Setelah berjalan menunduk selama apa yang terasa seperti berjam-jam, lorong itu melebar perlahan. Di depan mereka, cahaya remang masuk dari celah-celah batu di atas, menyorot ke ruangan kecil yang tersembunyi di balik akar pohon raksasa yang menjalar menembus dinding gua. Sosok yang menuntunnya berhenti, lalu melepaskan cengkeramannya. Sosok itu mundur beberapa langkah, berdiri diam di pinggir cahaya, sebagian tubuhnya masih tertutup bayangan.
Arka mengusap pelan lengannya yang kesemutan karena dingin dan ketegangan. Napasnya masih memburu, paru-parunya terasa terbakar karena udara yang terlalu lembap dan kurang oksigen. Ia menatap lekat-lekat sosok di hadapannya. Itu adalah seorang anak laki-laki, mungkin berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya terbuat dari kain kasar yang sudah lusuh dan bertambal banyak tempat. Rambutnya panjang dan kusut menutupi sebagian wajahnya. Namun saat anak itu mengangkat kepalanya, Arka tersentak hebat.
Wajah anak itu pucat sekali, seolah darahnya juga sudah tersedot seperti Pak Sadi. Di pipinya ada bekas luka goresan panjang yang sudah mengering menjadi parut putih, dan matanya besar, gelap, dan penuh kebijaksanaan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Mata yang telah melihat terlalu banyak kengerian untuk ukuran umurnya.
“Siapa kau?” tanya Arka berbisik. Arka melangkah maju sedikit, namun berhenti saat anak itu mundur lagi, “kenapa kau menolongku? Kau warga desa ini?”
Anak itu menggeleng pelan, bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergerak pelan. “Namaku Dika. Bukan warga dan bukan orang asing. Aku.hanya sisa.”
“Sisa?” ulang Arka seraya mengernyitkan dahi.
Pikirannya langsung teringat pada tulisan di naskah kuno: Tidak ada yang selamat kecuali aku.
“Maksudmu, kau keturunan dari mereka yang selamat? Dari Kelompok Kuno?”
Dika tidak menjawab langsung. Ia berbalik dan berjalan ke arah dinding gua yang dihiasi goresan-goresan batu kasar, gambar-gambar manusia, gambar matahari terbalik, dan garis-garis merah yang tak terhitung jumlahnya. Di sana, tersimpan tumpukan benda-benda tua, potongan naskah lain, dan sebuah kotak kayu kecil yang terukir indah namun sudah dimakan usia.
“Mereka mengira sudah membunuh semuanya. Mereka mengira sudah menghapus jejak kami sampai ke akar-akarnya,” ucap Dika pelan, “ta-tapi selalu ada yang lolos. Selalu ada yang bersembunyi. Seperti kakek moyangku yang bersembunyi di bawah tumpukan mayat tahun 1926. Seperti aku yang bersembunyi di celah-celah yang tidak pernah mereka periksa. Kami hidup di antara mereka, Arka. Kami melihat segalanya. Kami menunggu orang sepertimu datang.”
Arka tertegun. Ia mendekat, matanya menelusuri goresan di dinding itu. Ini adalah catatan sejarah yang lain. Sejarah yang tidak dicatat oleh Ki Surya dan para pemimpinnya. Ini adalah sejarah korban.