Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #7

Sosok Bertopeng Putih Bagian II

 Sosok-sosok lain mulai mendekat, tangan mereka yang panjang dan kurus merentang ingin menyentuh Arka, ingin menyerap darah yang mengalir keluar dari lukanya. Arka meremas naskah di sakunya, berniat menghancurkannya jika terpaksa, agar tidak jatuh ke tangan mereka.

Namun, di detik kritis itu, saat ujung besi itu akan menghantam kepalanya, sebuah benda keras melayang dari kegelapan atas, menghantam tepat di topeng putih sosok besar itu hingga pecah berkeping-keping. Sosok itu meraung kesakitan, mundur terhuyung-huyung.

Dari atas celah batu tempat cahaya masuk, turun seutas tali kasar. Dan di ujung tali itu, turun sesosok bayangan tinggi yang bergerak lincah seperti kucing hutan. Sosok itu mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya tertutup kain, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang memindai keadaan secepat kilat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sosok asing itu melompat ke tengah ruangan, mengeluarkan dua bilah pisau melengkung yang berkilau dingin. Dengan gerakan cepat dan mematikan, ia menebas tangan salah satu sosok bertopeng yang berusaha menangkap Dika, lalu menendang sosok lain hingga terhempas ke dinding batu. Gerakannya bukanlah gerakan biasa. Itu adalah seni bertarung kuno yang sudah lama hilang, seni yang hanya diketahui oleh para penjaga rahasia masa lalu.

“Lari! Sekarang juga!” teriak sosok berjubah hitam itu, suaranya tampak berwibawa.

Sosok itu menangkis serangan demi serangan dari makhluk-makhluk itu, memberi waktu bagi Arka dan Dika untuk berlari.

Arka tidak bertanya, tidak menunda. Ia meraih tangan Dika yang gemetar, lalu berlari sekuat tenaga melewati celah sempit yang terbuka sementara, melompati tubuh-tubuh sosok bertopeng yang jatuh tersungkur, dan naik ke atas melalui jalur tali yang diturunkan. Di belakangnya, suara benturan senjata, raungan kemarahan, dan suara benda pecah bergema kian lama kian menjauh.

Mereka terus memanjat, terus mendaki keluar dari perut bumi, hingga akhirnya kepala mereka menembus permukaan tanah, muncul di balik semak belukar lebat di tebing curam sisi timur desa. Angin segar bertiup kencang di sana, dingin namun terasa begitu lega dibandingkan udara pengap dan berbau kematian di dalam gua.

Arka terguling jatuh ke atas rumput hijau, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun hebat. Luka di sisinya terasa panas dan perih, darahnya masih menetes membasahi tanah. Di sampingnya, Dika terbaring lemas, menangis dalam diam karena kelegaan luar biasa.

Arka berusaha bangkit, menoleh ke arah lubang tempat mereka keluar tadi, berharap sosok berjubah hitam itu juga muncul. Namun, lubang itu tetap sunyi. Hanya keheningan yang menyambut. Sosok itu tidak keluar. Sosok itu menghilang, sama seperti ia muncul tadi, tiba-tiba, misterius, dan meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

“Siapa dia?” tanya Arka pelan.

Arka memegangi lukanya, menatap lubang gelap itu dengan pandangan kosong.

“Dia menyelamatkan kita, dia bertarung melawan mereka sendirian.”

Dika duduk perlahan, mengusap air matanya, wajahnya kembali dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran. Ia menatap ke arah barat, ke arah pusat desa yang tertutup kabut tebal, tempat rumah adat Ki Surya berdiri gagah dan angkuh.

“Itu pasti salah satu dari Pengembara,” jawab Dika lirih, “mereka adalah sisa-sisa kelompok kami yang memilih hidup di hutan, tidak menetap, terus bergerak, terus mengawasi. Mereka jarang menampakkan diri. Tapi mereka tahu kapan harus turun tangan.”

Dika berbalik menatap Arka, matanya yang besar penuh dengan kesedihan dan keputusasaan.

“Arka, dengarkan aku. Kau sudah melihat kekuatan mereka. Kau sudah melihat betapa banyaknya mata-mata mereka. Kau sudah melihat bahwa mereka tidak segan membunuh siapa saja, bahkan anak kecil sepertiku.”

Anak itu mengambil napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara bergetar.

Lihat selengkapnya