Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #8

Dua Versi Sejarah

Air sungai yang dingin dan keruh itu terus menyeret tubuh Arka menjauh, berputar-putar di antara bebatuan tajam, dan akar-akar pohon yang menjulur ke permukaan. Setiap kali kepalanya muncul ke atas air, ia masih bisa mendengar suara tawa Ki Surya—suara yang berat, bergema, dan penuh kemenangan yang terbawa angin hingga ke tengah aliran sungai. Kalimat terakhir pemimpin desa itu menancap kuat di benaknya, berputar berulang kali seperti mantra jahat: Separuh lagi adalah jebakan, kau sudah menjadi bagian dari permainan ini selamanya.

Rasa sakit di sisi kiri dadanya semakin menyengat, darah yang merembes keluar bercampur dengan air sungai, meninggalkan jejak samar yang segera dibawa arus hilang tak berbekas. Tubuhnya terasa berat, kaku karena dingin, dan matanya mulai kabur seolah ada kabut tebal yang menutupi pandangannya dari dalam. Ia berusaha berpegangan pada akar pohon yang menjuntai, menarik dirinya ke pinggir, namun tenaganya sudah habis terkuras habis oleh lari panjang, ketakutan, dan kenyataan pahit yang baru saja ia telan.

“Separuh kisah,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh air. “Apa maksudnya? Naskah itu jadi tidak lengkap? Lalu apa yang sebenarnya kubawa ini?”

Kesadarannya perlahan melayang, terangkat tinggi di atas permukaan air, dan kegelapan akhirnya menyergapnya sepenuhnya saat tubuhnya menghantam tumpukan ranting dan pasir di tikungan terakhir sungai itu, jauh di luar batas wilayah Desa Kabut Senja.

Saat Arka membuka matanya kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma yang sangat berbeda. Bukan bau tanah lembap, bukan bau anyir darah kering, bukan bau kemenyan yang menyengat. Melainkan bau rumput segar, bunga liar, dan sedikit asap kayu bakar yang samar namun hangat. Cahaya matahari yang terang namun lembut menembus kelopak matanya, membuatnya harus berkedip berkali-kali untuk menyesuaikan penglihatan.

Arka berbaring di atas tumpukan jerami kering yang empuk dan di dalam sebuah gubuk kayu sederhana namun bersih. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang rapat dan di sampingnya ada perapian kecil yang apinya sudah padam, menyisakan bara merah yang masih sedikit panas. Arka mencoba bergerak, namun rasa sakit yang hebat di dadanya membuatnya meringis keras. Ia menunduk, melihat luka robekan di sana sudah dibersihkan dan dibalut kain bersih berwarna putih, dengan ramuan daun-daunan yang ditumbuk halus menempel di sekitarnya.

“Kamu sudah bangun rupanya.”

Suara perempuan yang lembut terdengar dari arah pintu gubuk. Arka mengangkat kepalanya perlahan, menatap sosok yang berdiri di sana.

Seorang gadis muda, mungkin seusianya atau sedikit lebih muda, berdiri memegang seember air dan seikat daun di tangannya. Rambutnya hitam panjang dikepang satu, kulit wajahnya berwarna sawo matang dengan sorot mata yang tajam dan cerdas, namun ada bayangan kesedihan dan kelelahan yang mendalam di balik tatapannya. Pakaiannya sederhana, kain sarung dan kebaya lusuh, tapi cara ia berdiri dan menatap Arka menunjukkan bahwa ia bukan gadis desa biasa yang penurut dan pasrah.

“Siapa kau?” tanya Arka.

Arka mencoba duduk, bersandar pada dinding bambu, tangan kanannya segera meraba saku bagian dalam jaketnya yang basah dan robek. Hatinya mencelos sejenak. Naskah itu masih ada. Masih tergenggam erat, meski basah dan lembap. Ia menghela napas lega, lalu kembali menatap gadis itu dengan waspada.

“Namaku Naya,” jawab gadis itu tenang, ia berjalan mendekat dan meletakkan bawaannya di lantai.

Gadis bernama Naya itu berjongkok di samping Arka, menatap luka di dada pemuda itu dengan teliti.

“Aku menemukanmu terhanyut di pinggir sungai kemarin sore. Kamu terbawa arus deras hampir sampai ke muara dan tersangkut di jembatan bambu tua milik kakekku. Kamu demam tinggi, mengigau, terus berteriak tentang kabut, tentang Ki Surya, dan tentang naskah.”

Mata Naya melirik sekilas ke arah saku jaket Arka yang menonjol, lalu kembali menatap wajah pemuda itu. Ada kilatan rasa ingin tahu yang besar, namun juga ketakutan yang ia coba sembunyikan.

“Kamu dari Desa Kabut Senja bukan? Hanya orang dari sanalah, atau orang yang sangat bodoh, yang berani mendekati hutan terlarang dan sungai itu.”

Arka menegakkan punggungnya sebisa mungkin, meski rasa sakit masih menyengat. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, mencoba membaca niat di balik wajah tenangnya.

“Kamu tahu desa itu? Kamu tahu siapa Ki Surya?’

Naya tersenyum tipis, senyum yang pahit dan penuh sindiran. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah jendela kecil yang menghadap ke arah utara, ke arah bukit yang tertutup kabut abadi, tempat desa itu bersembunyi.

“Seluruh desa di sekitar sini tahu. Kami tahu Kabut Senja ada di balik kabut itu. Kami tahu ada pemimpin adat bernama Ki Surya yang memimpin dengan tangan besi dan adat kuno. Kami tahu warga desa itu jarang keluar, dan orang luar dilarang masuk. Dan kami tahu, ada sesuatu yang salah di sana. Sesuatu yang gelap, yang tidak berani kami sebut namanya.”

Gadis itu berbalik menghadap Arka, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

“Aku juga tahu bahwa siapa pun yang masuk ke sana, biasanya tidak kembali. Atau jika kembali, mereka tidak ingat apa-apa, atau mati tak lama kemudian dengan cara yang aneh. Tapi, kamu berbeda. Kamu kembali, kamu membawa barang berharga, dan ka,u masih hidup meski sudah berhadapan langsung dengan 'penjaga' mereka.”

Arka tertegun. Ada sesuatu dalam nada bicara Naya yang membuatnya merasa aman, seolah gadis ini bukan musuh, melainkan seseorang yang sudah lama menunggu kedatangan orang sepertinya. Ia memberanikan diri mengeluarkan naskah basah itu, meletakkannya di atas jerami di antara mereka.

“Aku datang ke sana untuk meneliti sejarah dan budaya,” kata Arka perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Naya, “tapi aku menemukan sesuatu yang lain. Aku menemukan sejarah berdarah. Aku menemukan pembantaian tahun 1926. Aku menemukan bahwa Ki Surya dan leluhurnya adalah keturunan pembunuh yang membasmi seluruh penduduk desa saat itu demi kekuasaan. Dan aku menemukan ini. . .”

Arka membentangkan naskah itu perlahan, meski kertasnya lembap dan rapuh. Tulisan berdarah itu masih terlihat jelas, meski warnanya sedikit memudar terkena air. Naya menunduk, menatap tulisan-tulisan itu dengan napas tertahan. Tangannya terangkat perlahan, jari-jarinya yang kurus dan panjang menyentuh tepi kertas itu dengan penuh hormat, seolah menyentuh benda keramat.

“Ini . . . ini tulisan tangan Kakek Buyutku,” bisik Naya pelan, suaranya bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, “aku hafal tulisan ini. Kakekku sering mendeskripsikannya. Dia bilang ada selembar catatan yang ditulis leluhur kami sebelum beliau meninggal, yang disembunyikan agar kebenaran tidak hilang ditelan waktu.”

Arka melongo kaget. “Leluhurmu? Kamu . . . kamu keturunan dari orang yang menulis ini?”

Naya mengangguk kuat, air matanya mulai menetes jatuh membasahi pipinya. Ia duduk bersila di lantai, menatap Arka dengan pandangan yang campur aduk antara harapan dan kesedihan mendalam.

“Iya. Nama penulis naskah ini adalah Kian. Beliau adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian itu. Dia bersembunyi di bawah tumpukan mayat, persis seperti yang dia tulis. Dia berhasil kabur membawa separuh kisah, dan separuh lagi dia sembunyikan di dalam desa, di tempat yang hanya bisa dibuka oleh orang yang membawa kunci ini.”

Jantung Arka berdegup kencang. Kata-kata Ki Surya kembali terngiang: Kau hanya membawa separuh kisah!

“Separuh lagi!” potong Arka cepat, mendekatkan badannya ke depan, “Ki Surya berteriak padaku saat aku hanyut. Dia bilang aku hanya membawa separuh kebenaran dan separuh lagi adalah jebakan. Apa maksudnya, Naya? Apa sebenarnya sejarah yang terjadi di sana? Kenapa ada dua bagian?”

Naya mengusap air matanya, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia berdiri dan berjalan ke sudut gubuk, mengambil sebuah kotak kayu kecil berukir sederhana yang sudah tua. Ia membukanya, mengeluarkan selembar daun lontar yang sudah sangat rapuh dan berwarna cokelat gelap. Ia membawanya ke hadapan Arka dan meletakkannya di samping naskah kertas itu.

“Duduklah dengan tenang, Arka. Karena apa yang akan kuceritakan ini akan mengubah segala hal yang kamu percaya selama ini. Ada dua versi sejarah tentang apa yang terjadi Kabut Senja pada tahun 1926. Dua versi yang saling bertentangan, namun keduanya sama-sama diyakini benar oleh pihak yang berbeda.”

Naya menunjuk ke naskah di depan mereka.

Lihat selengkapnya