Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #9

Tanda Bahaya!

Di dalam gubuk bambu itu, udara terasa menekan dada, seolah berat seluruh dunia bertumpu pada atap kecil yang rapuh itu. Arka masih memegang naskah itu erat-erat di dadanya, kertas basah dan rapuh itu terasa semakin panas, seolah ada nyala api kecil yang berdenyut di balik serat-seratnya. Di luar, suara lengkingan panjang itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat, lebih tajam, menembus celah-celah anyaman bambu hingga membuat bulu kuduk mereka meremang hebat. Suara itu bukan suara manusia, bukan suara hewan, melainkan suara gesekan tulang dengan tulang, suara jeritan yang tercekik, dan suara bisikan ribuan mulut yang berbicara bersamaan namun tak satu pun kata yang bisa dimengerti.

Bersahutan dengan itu, dari arah hutan di sebelah timur, terdengar suara tawa rendah, berat, dan bergema—tawa yang penuh kemenangan namun juga penuh ancaman, seolah orang yang tertawa sedang melihat mangsanya terperangkap di jaring yang sudah dipasang bertahun-tahun lalu.

Naya menarik napas panjang, tangannya gemetar hebat saat ia meraih lengan Arka, menarik pemuda itu menjauh dari jendela. Wajahnya yang pucat kini tampak lebih putih dari kabut di luar sana, matanya membelalak lebar menatap pintu gubuk yang mulai tertutup bayangan kelabu.

“Mereka sudah sampai. Dua kubu itu, mereka mengikutimu. Sejak kau menyeberangi sungai, jejak darahmu menjadi peta jalan bagi mereka. Darahmu bercampur dengan air, bercampur dengan tanah, dan sekarang seluruh alam di sekitar sini tahu kau ada di sini,” tutur Naya khawatir.

Arka menelan ludah yang terasa pahit dan kering. Ia menatap gadis itu dengan pandangan bingung dan ketakutan.

“Dua kubu? Maksudmu, sosok bertopeng putih milik Ki Surya dan siapa lagi yang tertawa itu?”

“Itu mereka. Keturunan Kian. Kelompok yang disebut Pengembara,” jawab Naya cepat, matanya bergerak liar mengamati sekeliling dinding gubuk seolah ada yang bisa menembus masuk kapan saja, “mereka sama berbahayanya. Ki Surya ingin mengambil naskah itu kembali dan membunuhmu agar rahasia tetap terkubur. Sedangkan Pengembara, mereka ingin kau hidup, ingin kau selamat, ingin kau sampai ke ujung perjalananmu karena hanya kau yang bisa menyatukan kedua bagian kunci itu dan membangkitkan kekuatan yang mereka sembah. Kau bukan sekadar buruan, Arka. Kamu adalah piala yang diperebutkan dua kekuatan besar yang sama-sama mengerikan.”

Arka mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding bambu yang dingin dan lembap. Pikirannya berputar kacau. Ternyata ia hanyalah benda berharga yang dicari dua kelompok yang sama-sama memiliki kepentingan gelap. Ia tidak tahu lagi siapa yang harus dipercaya, mana yang benar, mana yang salah. Semuanya kabur.

“Aku harus pergi dari sini,” tegas Arka.

Arka mulai melangkah ke arah pintu, namun Naya langsung menariknya kembali dengan kekuatan yang tak disangka-sangka.

“Gila? Kamu mau pergi ke mana? Ke dalam kabut itu? Kamu tidak akan bisa berjalan sepuluh langkah saja sebelum salah satu dari mereka menangkapmu! Di luar sana bukan lagi hutan biasa, Arka. Di luar sana wilayah mereka. Hukum alam di sana sudah diubah oleh seratus tahun sihir dan darah.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Menunggu di sini sampai mereka merobohkan gubuk ini dan membunuh kita berdua?” bentak Arka, rasa takutnya berubah menjadi frustrasi yang meledak, “aku membawa masalah ini kepadamu, Naya. Seharusnya kamu membiarkanku hanyut terbawa arus sampai mati kemarin. Kamu tidak seharusnya menyelamatkanku!”

Naya menatapnya tajam, matanya berkilat marah bercampur sedih.

“Dan membiarkan mereka menang begitu saja? Tidak! Aku menyelamatkanmu bukan karena aku bodoh, atau karena aku percaya omonganmu tentang kebenaran. Aku menyelamatkanmu karena aku tahu satu hal. Selama kamu masih hidup, keseimbangan itu masih ada. Selama kamu punya pilihan, kekuatan itu belum jatuh ke tangan siapa pun. Jika kau mati kemarin, Ki Surya sudah mengambil naskah itu, membakarnya, dan melanjutkan kekuasaannya selamanya dengan tenang. Atau jika, Pengembara yang menemukannya lebih dulu, mereka sudah memaksamu membuka kotak itu dan menghancurkan semuanya. Kamu adalah penyeimbang, Arka. Dan sekarang, kamu harus bertahan hidup sampai kita menemukan jalan keluar yang sebenarnya!”

Tiba-tiba saja, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat dari jalan utama. Bukan langkah kaki hantu atau makhluk halus, melainkan langkah kaki manusia yang nyata, disertai suara mesin kendaraan yang menderu pelan di jalan berbatu. Cahaya lampu sorot yang terang menusuk kabut kelabu itu, membuat bayangan-bayangan di luar bergerak liar dan kacau seolah takut pada cahaya itu.

Arka dan Naya saling pandang dengan kaget. Naya berlari kecil ke jendela, mengintip dari celah kecil anyaman bambu dengan hati-hati. Napasnya tertahan sejenak, lalu ia menoleh ke Arka dengan ekspresi lega yang samar namun penuh keraguan.

“Mobil patroli, polisi dari kota kecamatan.”

Arka segera bergerak mendekat, ikut mengintip. Di luar sana, di pinggir kabut yang tebal itu, terparkir dua buah mobil jeep berwarna hijau pudar. Beberapa orang berseragam berdiri di sana, memegang lampu sorot besar, mengarahkan cahayanya ke dalam dinding kabut yang tebal itu. Di antara mereka, Arka mengenali sosok tinggi besar yang berjalan mendekati gubuk itu dengan langkah tegas. Itu adalah Pak Haris, kepala kepolisian kecamatan yang pernah Arka temui saat melapor ke kantor dinas sosial beberapa hari lalu, sebelum ia berangkat ke Desa Kabut Senja.

“Mereka datang! Mereka benar-benar datang!” seru Arka dengan rasa lega yang luar biasa. Harapan yang sempat runtuh kini tumbuh kembali dengan cepat.

“Aku mengirimkan surat dan laporan tentang penelitianku dan tentang keanehan desa itu. Aku tidak menyangka mereka akan merespons secepat ini.”

Arka segera membuka pintu gubuk dan berlari keluar serta menerobos uap kabut dingin yang menyentuh kulitnya seperti jarum-jarum kecil.

“Pak Haris! Di sini! Saya di sini!” teriak Arka sambil melambaikan tangan kemudian berjalan cepat mendekati kelompok seragam itu.

Namun, reaksi Pak Haris dan anak buahnya tidak seperti yang dibayangkan Arka. Bukannya berjalan mendekat dengan senyum lega, mereka semua justru mundur selangkah serentak, wajah mereka tampak pucat dan tegang, mata mereka tidak menatap Arka, melainkan menatap sekeliling pemuda itu dengan pandangan ngeri dan waspada, seolah Arka dikelilingi ribuan ular berbisa yang tak terlihat mata.

Pak Haris mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Arka berhenti tepat di tempatnya. Wajah lelaki paruh baya itu keras, kaku, dan penuh ketidaknyamanan.

“Jangan mendekat lagi, Arka! Berhenti di situ saja!” seru Pak Haris penuh peringatan.

Arka tertegun, kakinya terhenti melangkah. “Pak? Ada apa? Saya melapor, kan? Saya katakan ada hal aneh di desa itu, ada ancaman, ada kematian misterius. Saya dikejar, Pak! Ada orang yang ingin membunuh saya!”

Pak Haris menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lelah dan penuh ketakutan. Ia menoleh ke arah anak buahnya yang tampak gelisah, lalu kembali menatap Arka dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kasihan dan ketakutan.

“Kami tahu, Arka. Kami tahu semua itu. Kami menerima suratmu, kami membaca catatanmu, kami mendengar ceritamu. Dan kami juga mendengar hal-hal lain, hal-hal yang seharusnya tidak kamu bawa-bawa ke dunia luar.”

Pak Haris melangkah maju satu langkah, berbicara dengan nada rendah agar hanya Arka yang mendengarnya.

“Kamu tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berhubungan denganmu sejak kamu mulai meneliti desa itu? Mari kita hitung, ya? Pak Sadi, warga desa yang kamu wawancarai pertama kali ditemukan mati kering tanpa darah. Lalu ada Bu Siti, penjaga warung tempat kamu membeli perbekalan sebelum berangkat, kemarin malam dapurnya terbakar sendiri, dia terluka, luka bakar yang cukup parah dan mengigau terus-menerus menyebut namamu. Dan tadi pagi, Pak Darto, petugas arsip yang meminjamkanmu dokumen lama di kantor kabupaten, jatuh dari tangga saat sedang menata berkas-berkasmu, patah tulang leher, dan meninggal seketika.”

Darah Arka serasa menguap dari tubuhnya. Ia berdiri kaku, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Berita-berita itu menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan tinju.

“Apa maksud Bapak? Itu hanya kebetulan, kan?”

“Kebetulan?” potong Pak Haris tajam, matanya menatap tajam ke arah kabut yang perlahan bergerak maju mendekati mereka, “tiga orang yang berhubungan langsung denganmu mati atau celaka dalam waktu kurang dari seminggu? Dan semua kejadiannya aneh, tidak masuk akal, tidak ada penjelasan medis atau logis. Kamu tahu apa yang orang-orang di sini, orang-orang tua di desa-desa sekitar, katakan tentangmu sekarang?”

Pak Haris mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada ngeri.

“Mereka bilang kamu membawa sial. Kamu membawa 'benda' dari tempat terkutuk itu. Kamu membawa pulang sesuatu yang tidak boleh dibawa keluar, dan sekarang benda itu memakan siapa saja yang mendekatimu. Mereka bilang kamu sudah terkena kutukan Desa Kabut Senja, dan kamu menjadi pembawa penyakit maut itu ke sini.”

Arka mundur selangkah, kepalanya terasa pening berat. Di belakangnya, Naya keluar dari gubuk, berdiri diam mendengarkan semuanya dengan wajah sedih.

Lihat selengkapnya