Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #10

Ritual Malam Bulan Purnama

Semuanya bohong!” teriak Arka tak percaya hingga menjadi kalang-kabut.

Ia meremas naskah di tangannya hingga kertas itu nyaris hancur, rasa marah yang luar biasa bercampur rasa malu menyergap seluruh sarafnya.

“Dua versi sejarah, dua kubu yang saling bermusuhan, semua itu hanya sandiwara. Pertunjukan agar aku percaya ada kebenaran yang harus dibela, ada sisi yang harus dimenangkan. Padahal mereka bekerja sama sejak awal. Mereka membutuhkan seseorang dari luar, seseorang yang polos dan penuh rasa ingin tahu, untuk membawa kembali kunci yang sengaja disembunyikan.”

Naya menutup mulutnya dengan tangan gemetar, air mata ketakutan menggenang di matanya. Ia menatap simbol berdenyut di dinding itu, lalu menatap Arka dengan pandangan yang hancur.

“Kakekku . . . cerita-cerita yang dia wariskan . . . tentang dendam, tentang ketidakadilan, itu semua dibuat-buat?”

Suaranya pecah, penuh rasa sakit karena dikhianati oleh sejarah darahnya sendiri.

“Aku hidup membenci Ki Surya, membenci keturunan mereka, berpikir kami adalah korban yang menunggu keadilan. Ternyata kami hanya bagian dari skenario ini. Kami hanya penjaga yang memastikan kunci itu tidak hilang, sampai ada orang seperti kamu yang datang mengambilnya dan membawanya kembali ke sini.”

Naya menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai tanah, tangannya meremas rumput kering dengan putus asa.

“Mereka memanfaatkan rasa sakit kami. Mereka memanfaatkan kematian leluhur kami sebagai alat pancingan. Dan kau, kau datang dengan segala keberanian dan niat baikmu, kau masuk ke dalam jebakan itu dengan sukarela, Arka. Kamu adalah ikan yang paling besar dan paling mudah ditangkap!”

Arka menunduk, rasa bersalah yang berat menindih dadanya. Ia ingat kembali setiap kejadian, sapaan ramah Ki Surya yang menyembunyikan amarah, ketakutan warga desa yang sebenarnya dipentaskan, kisah tragis Pak Sadi yang mungkin sudah disuruh berbicara demikian, penyelamatan ajaib Dika, hingga pertemuannya dengan Naya. Semuanya tersusun rapi, seperti naskah drama yang sudah ditulis seratus tahun lalu, dan ia hanya memainkan peran yang sudah ditentukan.

‘Kenapa?” tanya Arka lirih, matanya menatap kosong ke lantai, “kenapa mereka harus melakukan semua ini? Kenapa tidak langsung saja mengambil kuncinya? Kenapa harus menunggu seratus tahun?”

Suara tawa besar itu kembali bergema, kali ini tepat di atas atap gubuk bambu itu, membuat seluruh bangunan itu bergetar hebat seolah akan runtuh.

“Karena kekuatan itu punya aturan, Arka! Kekuatan itu tidak mau diambil paksa. Dia mau dipersembahkan. Dia mau dijemput oleh orang yang datang atas kemauan sendiri, dengan keyakinan bahwa dia melakukan hal yang benar, hal yang mulia, hal yang membela kebenaran!”

Suara itu berhenti sejenak, lalu berlanjut dengan nada yang lebih rendah dan penuh keserakahan.

“Dan malam ini, malam bulan purnama terbesar dalam seratus tahun terakhir. Saat posisi bintang dan bulan sejajar persis seperti saat pembantaian itu terjadi, saat itulah persembahan terakhir harus diselesaikan. Kau sudah membawa kuncinya. Kau sudah membawa darahmu sendiri yang sudah bercampur dengan tanah ini. Sekarang, tinggal kau datang ke tempat yang seharusnya. Tinggal kau menjadi bagian dari persembahan itu.”

Tiba-tiba saja, dinding bambu di sekeliling mereka mulai runtuh satu per satu, bukan karena dihantam, tapi karena ujung-ujung bilahnya berubah menjadi debu halus yang beterbangan tertiup angin. Kabut merah itu masuk membanjiri ruangan, mengelilingi tubuh mereka, dan di bawah kaki mereka, tanah itu sendiri mulai berubah, berwarna merah tua, lembap, dan berbau anyir darah yang sangat pekat.

Di luar sana, pemandangan yang terbuka membuat jantung Arka nyaris berhenti berdetak. Seluruh wilayah yang tadinya hutan belantara, ladang, dan sungai, kini telah berubah sepenuhnya. Kabut merah itu telah menyebar jauh melampaui batas Desa Kabut Senja, menutupi langit hingga bulan purnama yang besar dan bulat di atas sana tampak seperti bola api raksasa yang menggantung rendah, berwarna merah darah menyala terang.

Di bawah cahaya bulan yang mengerikan itu, ribuan sosok berjalan beriringan dari segala arah, bergerak menuju satu titik pusat: bukit batu besar di tengah hutan terlarang, tempat reruntuhan bangunan tua yang pernah Arka kunjungi.

Warga desa yang tadinya tampak takut, diam, dan menderita, kini berjalan dengan kepala tegak, wajah mereka kosong namun penuh kegembiraan yang aneh. Di antara mereka, berjalan sosok-sosok bertopeng putih yang jumlahnya tak terhitung lagi, kini topeng mereka tidak lagi putih bersih, melainkan bercorak merah menyala dengan ukiran mata yang terbuka lebar. Dan di barisan paling depan, berjalan Ki Surya, mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat dengan hiasan benang emas yang berkilauan di bawah cahaya bulan darah.

Di sebelah kanannya berjalan Dika, anak kecil yang menyelamatkan Arka, wajahnya tidak lagi ketakutan, melainkan dingin dan penuh rasa hormat. Mereka semua berjalan menuju tempat itu, bersenandung lagu monoton yang nadanya naik turun mengerikan, lagu yang sama persis dengan ukiran-ukiran di dinding bangunan tua itu.

“Mereka semua ada di sana,” tutur Naya, berdiri gemetar di samping Arka, matanya tak lepas dari pemandangan mimpi buruk di hadapannya, “kedua kubu, warga desa, Pengembara, semuanya bersatu. Seperti yang tertulis di naskah itu. Mereka tidak pernah berpisah. Mereka hanya menunggu waktunya.”

Arka merasakan ada tarikan kuat dari dalam dadanya, seolah ada tali tak kasat mata yang mengikat jantungnya dan menariknya ke arah bukit batu itu. Naskah di tangannya semakin panas, hampir membakar kulitnya, dan ia tahu bahwa jika mereka tidak bergerak sekarang, kekuatan itu akan menyeret mereka paksa.

“Kita harus pergi ke sana,” ucap Arka tiba-tiba. Ia menoleh ke Naya, menatap mata gadis itu lekat-lekat, “kita harus melihatnya sampai selesai. Kita harus tahu apa sebenarnya yang akan mereka lakukan. Selama kita masih hidup, selama kita masih tahu kebenaran aslinya, masih ada kemungkinan untuk menghentikan ini.”

Naya mengangguk pelan, menyeka sisa air matanya. Rasa sedih dan kecewa kini berganti menjadi kemarahan yang dingin. Ia menggenggam tangan Arka erat-erat.

“Aku ikut. Sampai kapan pun. Karena jika ini benar-benar berakhir buruk, aku ingin melihat wajah mereka semua saat mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa seenaknya mengatur hidup dan kematian orang lain.”

Arka dan Naya bergerak menyusup di balik bayangan pepohonan yang kini tampak hitam legam di bawah cahaya bulan merah itu. Kabut merah itu tidak lagi menghalangi pandangan, justru seolah menjadi penutup yang melindungi mereka selama mereka tidak bergerak di jalur utama. Semakin dekat mereka ke bukit batu itu, semakin kuat aroma darah dan logam yang tercium, dan semakin keras suara nyanyian ritmis yang memenuhi udara.

Saat mereka akhirnya sampai di balik semak belukar rapat di pinggiran reruntuhan bangunan tua itu, pemandangan yang terbuka di hadapan mereka membuat napas mereka tertahan sepenuhnya.

Reruntuhan yang dulu tampak sepi, tua, dan terlupakan itu kini telah berubah menjadi panggung upacara yang megah dan mengerikan. Seluruh dinding batu yang penuh ukiran itu kini bersinar terang dengan cahaya merah yang sama, setiap garis dan lekukan ukiran itu berdenyut, seolah hidup dan bernapas. Di tengah ruangan, tepat di atas lubang persegi panjang yang dalam yang pernah dilihat Arka, kini berdiri sebuah altar batu besar yang tinggi, dihiasi bunga-bunga berwarna hitam dan lilin-lilin yang apinya berwarna biru muda.

Di sekeliling altar itu, berbaris rapi ratusan orang: Ki Surya dan para tetua desa di depan, diikuti oleh warga desa, diikuti oleh sosok-sosok bertopeng putih, dan di bagian belakang, berjejer para Pengembara berjubah gelap yang dipimpin oleh sosok yang mirip Kian itu. Semuanya berdiri diam, tangan mereka disatukan di depan dada, mata mereka menatap lurus ke arah altar dengan tatapan penuh pemujaan yang fanatik.

Dan di tengah altar itu, tepat di bawah sinar bulan merah yang jatuh tegak lurus ke sana, tergeletak kotak kayu tua berukir tiga garis merah. Kotak yang pernah Arka temukan dan tinggalkan saat dikejar. Kotak itu kini terbuka sedikit, dan di dalamnya terlihat kilauan benda yang berdenyut kuat, memancarkan gelombang energi yang membuat tanah di bawah kaki Arka bergetar terus-menerus.

“Itu . . . itu Hati Tanah!” bisik Naya di samping telinga Arka, “benda yang konon menjadi sumber segalanya. Benda yang mereka sembah sebagai Dewa.”

Ki Surya melangkah maju satu langkah, jubahnya bergesekan dengan lantai batu hingga menimbulkan suara gesekan yang tajam. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke arah bulan merah, lalu mulai berbicara dengan suara lantang dan bergema, suara yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia biasa, melainkan suara yang berat, dalam, dan penuh kuasa.

“Darah yang tumpah seratus tahun lalu, kami kembalikan kepadamu!” seru Ki Surya, matanya menyala terang, “janji yang diucap seratus tahun lalu, kami penuhi hari ini! Kami bukan pembunuh, kami bukan pengkhianat! Kami adalah pelayan setia yang menjaga pintu ini tetap tertutup sampai waktunya tiba!”

Di sebelahnya, sosok yang mirip Kian itu maju selangkah, juga mengangkat tangan, bersahutan dengan suara yang sama persis nadanya, seolah mereka berdua adalah satu jiwa dalam dua tubuh.

“Kami menciptakan ketakutan agar tidak ada yang berani mengganggumu! Kami menciptakan kebencian agar darah terus mengalir dan memberimu makan! Kami menciptakan sejarah palsu agar orang luar yang kami butuhkan akan datang dengan sukarela, membawa bagian dari dirimu yang kami sembunyikan!”

Arka menatap tak percaya. Ia melihat gerakan tangan mereka, cara mereka membungkuk, cara mereka menggerakkan jari-jari mereka mengikuti pola ukiran di udara. Itu bukan gerakan penghormatan kepada roh leluhur. Itu bukan gerakan memohon berkah dari para pendahulu yang sudah tiada.

Gerakan itu adalah gerakan menguasai. Gerakan memerintah. Gerakan yang biasa dilakukan oleh para penyihir kuno saat mereka sedang memanggil kekuatan gelap dan memintanya untuk tunduk dan melayani mereka.

Lihat selengkapnya