Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #11

Silsilah yang Terputus

Suara raungan dan tawa ribuan makhluk yang baru saja dibebaskan itu menggema di mana-mana, hingga menembus telinga dan membuat setiap inci tubuh terasa sakit dan mual. Awan merah darah yang tadinya hanya berkumpul di atas bukit itu kini menyebar dengan kecepatan menakutkan, menutupi seluruh langit hingga tidak ada lagi tempat yang tersisa bagi cahaya bintang atau sinar bulan. Udara terasa panas, lembap, dan sangat pekat, penuh bau belerang, besi berkarat, dan bau daging yang terbakar samar-samar.

Arka berlari sekuat tenaga, tangan kanannya mencengkeram lengan Naya erat-erat seolah takut gadis itu akan ditarik pergi oleh kekuatan gelap yang mengamuk di belakang mereka. Napasnya tersengal-sengal, paru-parunya terasa terbakar setiap kali ia menghirup udara yang kian hari kian berat itu. Di belakang mereka, suara runtuhan batu yang berjatuhan, pohon-pohon raksasa yang tercabut hingga ke akar-akarnya, dan jeritan kematian warga desa bercampur menjadi satu kengerian.

“Kita tidak bisa lari ke arah sungai, Arka!” teriak Naya di sela-sela napasnya yang memburu, suaranya nyaris tak terdengar ditelan suara gemuruh alam. 

Naya menunjuk ke arah kanan, ke jalan setapak sempit yang menanjak curam ke arah pegunungan di utara. 

“Air sungai itu berasal dari sumber di bukit tempat benda itu berada! Kalau kita masuk ke sana sekarang, kita akan tersedot langsung ke dalam pusat kekacauan itu!”

Arka tidak menjawab, hanya mengangguk dan mengubah arah larinya mengikuti Naya. Ia tahu gadis itu benar. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah itu, air itu, dengan udara di sana, kini telah menjadi bagian dari amukan makhluk yang baru saja ia lepaskan. Setiap langkah yang mereka ambil terasa semakin berat, seolah ada tangan-tangan tak kasat mata yang menarik ujung kaki mereka ke bawah, meminta mereka berhenti, meminta mereka kembali ke tempat asal mereka.

“Semua ini salahku,”tuur Arka menyesal, air mata keputusasaannya bercampur keringat dan debu di wajahnya,” aku pikir aku menghentikan mereka. Aku pikir aku memutus ikatan mereka agar kekuatan itu tidak bisa dikuasai lagi. Tapi aku malah melepaskan iblis itu ke dunia bebas.”

Naya mempererat genggamannya pada tangan Arka, menatap tajam ke depan, berusaha mencari celah di antara semak belukar yang kini tampak berwarna kelabu dan layu seketika.

“Jangan bicara seperti itu sekarang! Menyesal tidak akan mengembalikan apa pun! Kita harus bertahan hidup dulu, Arka! Kita harus tahu kebenaran yang sesungguhnya sampai ke akar-akarnya, karena aku yakin masih ada satu hal lagi yang mereka sembunyikan. Ada satu kunci terakhir yang belum kita temukan. Dan kunci itu mungkin satu-satunya cara untuk mengembalikan semuanya seperti semula.”

Mereka terus mendaki, menembus kegelapan yang semakin pekat, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik dinding tebing batu yang curam. Naya menarik Arka masuk ke dalam, memaksa mereka berdua bersembunyi di balik tumpukan batu besar yang ada di sana. Napas mereka sama-sama berat dan tidak teratur, tubuh mereka gemetar bukan hanya karena dingin atau lelah, tapi karena ketakutan mendalam yang merayap di setiap urat saraf.

Dari mulut gua yang sempit itu, mereka bisa melihat ke bawah, melihat pemandangan yang dulu adalah hutan hijau subur dan desa yang tampak damai, kini berubah menjadi lautan kabut merah yang bergolak. Di tengah pusaran itu, di tempat bangunan tua itu berdiri, kini hanya tersisa lubang besar yang menganga hitam, memancarkan cahaya merah samar yang berdenyut seperti jantung raksasa.

“Lihatlah ke bawah sana,” bisik Naya, matanya menatap lekat-lekat ke arah lubang besar itu, matanya menyipit seolah berusaha mengenali sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan itu, “lihat apa yang terjadi pada Ki Surya dan orang-orang yang mengikutinya.”

Arka menajamkan pandangannya. Di bawah sana, di pinggiran kabut merah itu, ia melihat sosok-sosok yang tadinya berkuasa, yang tadinya tampak gagah dan penuh wibawa, kini berlarian ke sana kemari seperti hewan yang ketakutan. Ki Surya sendiri terlihat jelas, jubahnya yang megah sudah koyak-koyak dan kotor, ia merangkak menjauh sekuat tenaga, wajahnya yang angkuh kini berubah menjadi wajah penuh kepanikan.

Di belakangnya, sosok tua yang mengaku sebagai keturunan Kian, yang menjadi mitranya selama ini, kini tergeletak diam di tanah, tubuhnya perlahan menyusut dan mengering seolah seluruh cairan dalam tubuhnya tersedot keluar oleh udara itu sendiri.

“Mereka dimangsa oleh kekuatan yang mereka sembah sendiri. Mereka pikir mereka bisa mengendalikannya. Mereka pikir mereka adalah tuannya. Ternyata mereka hanya peternak yang akhirnya dimakan oleh ternaknya sendiri,” ucap Arka dengan suara parau, rasa ngeri bercampur rasa jijik memenuhi dadanya.

Naya mengangguk pelan, lalu ia berbalik dan merangkak masuk lebih dalam ke gua itu, menyalakan sebatang lilin kecil yang entah dari mana ia dapatkan. Cahaya kuning lemah itu menerangi dinding gua yang kasar dan berlumut, namun ada satu bagian dinding yang berbeda. Bagian itu terasa lebih halus, lebih rata, dan ada ukiran-ukiran samar yang hampir tertutup tanah dan lumut tebal.

“Saat aku masih kecil, kakekku pernah membawaku ke sini. Beliau bilang tempat ini adalah tempat perlindungan terakhir. Tempat di mana kebenaran asli disimpan, jauh dari jangkauan mata-mata Ki Surya dan keturunannya. Kakekkku juga bilang, jika suatu hari kebohongan itu terbongkar dan kekacauan terjadi, maka di sinilah kita akan menemukan jawaban terakhir yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan kita semua,” kata Naya perlahan, jari-jarinya yang kurus dan dingin menyentuh ukiran itu dengan penuh perhatian.

Arka mendekat, tertarik oleh nada suara Naya yang berubah menjadi serius dan penuh harap. Ia ikut berjongkok di samping gadis itu, menatap ukiran-ukiran di dinding itu. Itu adalah silsilah keluarga. Sebuah pohon besar yang bercabang banyak, dengan nama-nama yang ditulis rapi menggunakan pahatan batu yang sudah sangat tua.

“Ini silsilah pendiri desa. Inilah orang yang selama ini dianggap sebagai pendiri desa, pemimpin yang bijaksana, pelindung adat, dan leluhur langsung dari Ki Surya. Sejarah resmi desa mengatakan bahwa garis keturunannya tidak pernah putus, diteruskan dari anak ke anak, dari cucu ke cucu, sampai ke pemimpin saat ini,” ucap Naya, jarinya menelusuri nama paling atas yang ditulis dengan huruf besar dan tebal: KI AGUNG BANYU PERKASA. 

Arka mengangguk, mengingat kembali apa yang pernah ia baca di dokumen-dokumen sejarah yang ia temukan. 

“Semua catatan menyebutkan bahwa Ki Surya adalah keturunan ke-tujuh dari Ki Agung. Darah murni pendiri desa. Itulah alasan utama mengapa dia dianggap berhak memimpin, mengapa dia punya hak istimewa untuk menjaga rahasia, dan mengapa kekuasaannya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.”

Naya tersenyum miring. Ia menggerakkan jarinya turun ke bawah, mengikuti garis keturunan itu sampai ke percabangan yang berbelok tajam, tertutup lumut tebal yang harus dikupasnya perlahan agar tulisan di bawahnya terlihat jelas.

“Begitulah yang mereka ajarkan. Begitulah yang mereka tulis di semua buku sejarah, di semua papan nama, di semua cerita lisan. Tapi lihatlah ini, Arka. Lihatlah baik-baik apa yang tertulis di sini, di silsilah asli yang tidak pernah mereka perlihatkan kepada siapa pun selama seratus tahun ini.”

Di bawah nama Ki Agung Banyu Perkasa, ada dua cabang besar. Cabang kiri tertulis: PUTRA PERTAMA: KI DARMAWAN—PENERUS TAKHTA. Cabang kanan tertulis: PUTRA KEDUA: KI HARJA—PENJAGA ADAT.

Naya menunjuk ke cabang kiri itu, ke nama Ki Darmawan.

“Menurut sejarah resmi, Ki Darmawan meninggal muda tanpa keturunan, dan karena itu kepemimpinan diteruskan oleh cucu dari Ki Harja. Itu alasan yang mereka berikan mengapa garis keturunan langsung Ki Agung terputus dan berpindah ke saudara mudanya. Tapi lihat tulisan kecil di sebelah nama Ki Darmawan ini.”

Arka menyipitkan matanya, membaca tulisan yang sangat kecil dan samar itu, tulisan yang seolah sengaja dibuat kecil agar tidak ada yang memperhatikannya.

“Dibuang, diasingkan, dan dihapus namanya dari catatan resmi karena menentang rencana ayahnya.”

Arka merasakan jantungnya berdegup kencang lagi. Potongan teka-teki mulai menyusun dirinya sendiri di kepalanya.

“Menentang ayahnya? Ki Darmawan menentang Ki Agung? Tapi bukannya Ki Agung itu pahlawan yang menghentikan kekejaman Kian? Bukannya Ki Agung itu orang baik yang berkorban demi menyelamatkan desa?” 

“Itu bohong!” potong Naya keras, suaranya bergema di dalam gua sempit itu. Ia menggeser jarinya lebih jauh ke bawah, melewati beberapa nama yang dicoret kasar, sampai berhenti di sebuah nama yang tertulis jelas namun terpisah jauh dari garis utama.

“Dengar ceritanya sampai habis, Arka. Inilah sejarah yang sebenarnya, sejarah yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun kecuali kepada penjaga ingatan seperti kakekku dan leluhurku. Seratus tahun yang lalu, memang ada dua orang berpengaruh: Ki Agung dan Kian. Tapi mereka bukan musuh. Mereka memang bersekongkol, seperti yang kita duga. Tapi tujuan awal mereka bukan untuk menyelamatkan desa dan bukan hanya untuk menguasai kekuatan. Mereka berdua sama-sama terobsesi dengan kekuatan purba Hati Tanah itu. Mereka berdua tahu bahwa benda itu bisa memberikan kekuasaan abadi, tapi mereka juga tahu ada syaratnya. Harus ada persembahan darah besar dan harus ada pemimpin yang darahnya benar-benar murni keturunan penjaga tanah asli.”

Naya menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar karena emosi.

“Ki Agung adalah keturunan asli penjaga tanah itu. Kian hanyalah pembantunya, orang kepercayaannya yang cerdas dan pandai sihir. Rencana awal mereka adalah melakukan pembantaian besar-besaran untuk memberi makan benda itu, lalu Ki Agung akan mengambil kekuasaannya dan menjadi penguasa abadi, dibantu oleh Kian. Tapi di tengah jalan, putra sulung Ki Agung, Ki Darmawan, mengetahui rencana jahat ayahnya itu. Dia marah besar, dia menentang, dia berusaha menghentikan ayahnya dan Kian. Dia bilang kekuatan itu terkutuk, dia bilang itu akan memakan mereka semua suatu hari nanti.”

Lihat selengkapnya