Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #12

Pembantaian 1926: Korban atau Penjahat?

Tanah di bawah kaki Arka bergetar begitu hebat hingga ia terhuyung ke belakang, punggungnya membentur dinding gua yang dingin dan kasar. Kata-kata Ki Surya masih berputar di kepalanya, menembus jauh ke dalam setiap sudut ingatan dan keyakinan yang pernah ia miliki. Kabut hitam yang tadinya hanya menggantung di langit kini mulai turun perlahan, melata rendah di permukaan tanah seperti sungai lumpur yang gelap, dan menyelimuti segala sesuatu yang disentuhnya dalam keheningan yang mencekam.

Di mulut gua, Ki Surya masih berdiri tegak, meski separuh tubuhnya sudah tampak transparan, seolah perlahan melebur menjadi asap. Senyum mengerikan itu masih terukir jelas di wajahnya, senyum kemenangan abadi yang membuat setiap inci kulit Arka merinding. Di belakangnya, ribuan bayangan yang dulu adalah warga desa, pasukan bertopeng, dan pengikut setia, kini bergerak maju selangkah demi selangkah, mata mereka semua bersinar dengan cahaya merah redup yang sama, menatap lurus ke arah Arka dengan tatapan yang bukan lagi benci atau hormat, melainkan tatapan kepemilikan—tatapan benda yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.

Naya berlari mendekat, tangannya gemetar hebat saat ia mencengkeram lengan Arka, berusaha menariknya menjauh dari dinding silsilah yang kini tampak seperti dinding penjara daripada catatan sejarah. Wajah gadis itu pucat pasi, bibirnya bergetar tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, matanya menatap Arka seolah sedang melihat makhluk asing, bukan lagi teman yang ia selamatkan dan percayai.

“Apa maksudnya semua ini? Darahku bercampur? Aku keturunan mereka juga? Lalu siapa aku sebenarnya? Apakah aku pahlawan? Apakah aku penjahat? Atau aku hanya bagian dari racikan darah yang mereka siapkan seratus tahun lalu?” teriak Arka tak bisa mencerna semuanya dengan baik dan penuh kekecewaan.

Ki Surya tertawa pelan, suara tawanya bergema di dalam gua sempit itu, berbalik arah berulang kali hingga terdengar seperti ribuan suara yang menertawakan kebingungan Arka.

“Siapa dirimu? Kau adalah kami, Arka! Kau adalah buah dari persatuan dua kekuatan yang saling bertarung sekaligus saling membutuhkan. Kau adalah bukti bahwa selama seratus tahun ini, kami tidak pernah berpisah, kami tidak pernah benar-benar bermusuhan. Dendam itu hanyalah topeng. Kebencian itu hanyalah sandiwara. Dan sejarah hanyalah cerita yang kami tulis ulang sesuka hati kami, agar anak cucu kami terus berjalan di jalur yang sudah ditentukan.”

Ki Surya menunjuk ke arah tumpukan batu di sudut gua, tempat Naya dulu menemukan kotak kayu berisi daun lontar.

“Di sana. Di balik batu besar itu. Ada kotak lain. Kotak yang jauh lebih tua, jauh lebih berat, dan jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah kau temukan. Di dalamnya tersimpan satu-satunya dokumen asli yang tidak pernah kami ubah, tidak pernah kami sentuh, dan tidak pernah kami biarkan siapa pun baca sampai hari ini. Sampai saat kau ada di sini.”

Arka menatap ke arah batu besar itu, lalu menatap Naya. Gadis itu mengangguk pelan, meski ketakutan terlihat jelas di matanya. Mereka berjalan mendekat, mendorong batu berat itu ke samping hingga terdengar suara gesekan kasar yang memekakkan telinga. Di baliknya, terlihat sebuah peti kayu jati yang hitam dan keras, berukir penuh simbol-simbol yang sama persis dengan yang ada di Hati Tanah, namun ukiran ini tampak lebih tua, lebih tajam, dan lebih mengerikan.

Dengan tangan gemetar, Arka membuka tutup peti itu. Bunyi engsel yang berkarat berbunyi nyaring, memecah keheningan yang mencekam. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku tebal yang terbuat dari kulit hewan yang tidak dikenal, berwarna cokelat tua gelap, halaman-halamannya terbuat dari kertas tipis yang hampir hancur dimakan usia, namun tulisan di atasnya masih terbaca jelas, ditulis dengan tinta emas yang belum pernah pudar sedikit pun.

Di halaman paling depan, tertulis satu kalimat besar yang membuat napas Arka tercekat.

“Catatan Peristiwa Besar Tahun 1926. Ditulis oleh Ki Agung Banyu Perkasa, Pemimpin Desa Kabut Senja.”

“Ini tulisan tangan Ki Agung sendiri. Semua naskah yang aku baca selama ini, semua cerita yang aku dengar, semuanya saling bertentangan. Tapi ini adalah catatan langsung dari orang yang berada di sana saat itu. Orang yang melakukan semuanya,” gumam Arka, jari-jarinya menyentuh kertas itu dengan hati-hati.

Naya mendekat, mencondongkan tubuhnya, matanya terpaku pada tulisan-tulisan emas itu. “Bacalah, Arka. Bacalah semuanya. Mungkin di sini kita akan menemukan jawaban yang sebenarnya. Mungkin di sini kita akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Arka mulai membaca, suaranya pelan namun jelas, bergema di dalam gua yang mulai semakin dingin itu. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti pukulan keras yang menghantam keyakinan yang selama ini ia bangun.

Arka berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Ia menatap Naya dengan bingung. “Apa maksudnya? Selama ini aku baca Ki Agung membantai orang-orang hanya demi kekuasaan, hanya karena mereka menentang aturannya. Tapi tulisan ini, dia bilang dia melakukannya karena terpaksa, demi keselamatan semua orang.”

“Lanjutkan,” desak Naya pelan, tangannya mencengkeram ujung baju Arka, “bacalah sampai habis.”

Arka mengangguk, kembali menunduk ke halaman berikutnya.

Jantung Arka berdegup kencang. Potongan demi potongan teka-teki mulai menyusun dirinya, namun bentuknya jauh berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Arka tersentak hebat, napasnya tertahan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Naya dengan mata melotot penuh keterkejutan.

“Mereka yang dibantai itu, kelompok yang dipimpin Kian. mereka berencana membunuh seluruh desa. Mereka berencana mengorbankan semua orang hanya demi kekuatan magis itu!”

Naya diam terpaku, wajahnya pucat, air mata mulai menetes kembali di pipinya. “Ta—tapi cerita yang aku warisi, cerita yang aku dengar dari kakekku adalah sebaliknya. Cerita yang kami bilang Ki Agung yang haus darah, Ki Agung yang membantai orang-orang tak berdosa. Lalu mana yang benar?”

Lihat selengkapnya