Tanah berguncang hebat, retakan-retakan besar menjalar ke segala penjuru, memisahkan bukit, hutan, dan desa menjadi kepingan-kepingan yang terangkat ke udara. Di tengah pusaran debu dan cahaya itu, suara jeritan, benturan, dan hancurnya benda keras bercampur menjadi kehancuran yang memekakkan telinga.
Namun, di tengah kekacauan itu, Arka tidak mati. Ia tidak hilang ditelan cahaya dan tubuhnya tidak hancur oleh lukanya sendiri. Saat ia menancapkan batu tajam itu ke dadanya, saat darahnya membasahi akar merah dan tanah yang terkutuk itu, ia tidak merasakan kematian. Sebaliknya, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Rasa sakit yang membakar, dingin yang menusuk sampai ke tulang, dan aliran energi yang begitu dahsyat melesat masuk ke dalam setiap pembuluh darahnya, seolah seluruh kekuatan yang selama ini dikumpulkan selama seratus tahun itu tiba-tiba beralih dari benda mati ke dalam tubuhnya yang hidup.
Arka terlempar ke belakang, menabrak dinding gua yang mulai runtuh, lalu terguling jatuh ke tanah yang bergetar hebat. Di sampingnya, Naya juga terlempar jauh, tubuhnya menghantam tumpukan batu hingga terdengar bunyi benturan keras. Namun ia segera bangkit kembali meski kakinya terhuyung dan wajahnya penuh luka goresan.
“Arka! Arka, kau masih hidup? Apa yang kamu lakukan tadi? Kamu menyerapnya? Kamu mengambil semuanya?” teriak Naya di tengah suara gemuruh alam.
Arka berusaha berdiri, tangannya menekan dada yang terluka, namun ia terkejut merasakan bahwa lukanya sudah menutup sendiri hanya menyisakan bekas merah menyala yang berdenyut kencang di bawah kemejanya. Saat ia mengangkat kepalanya, pandangannya berubah total. Segala sesuatu di sekelilingnya tampak lebih tajam, lebih terang, dan ia bisa melihat aliran energi berwarna merah gelap yang keluar dari tanah, dari pepohonan, bahkan dari tubuh manusia yang berlarian ketakutan.
“Aku tidak tahu. Aku pikir aku akan menghancurkannya. Aku pikir aku akan memutus rantai itu selamanya. Tapi, kalimat terakhir di buku itu adalah rantai itu tidak putus, hanya berpindah tangan. Aku kira itu hanya kiasan,” jawab Arka, suaranya terdengar berat dan berbeda.
Ia menatap tangannya yang terbuka, kulitnya tampak sama seperti biasa, namun ada kilatan samar berwarna merah yang berkelebat di bawah permukaan kulitnya setiap kali ia mengepalnya. Kekuatan itu tidak hilang. Ia tidak hancur. Ia kini ada di dalam diri Arka. Ia menjadi bagian dari daging dan darahnya.
Di depan mulut gua yang kini sebagian besar runtuh dan terbuka lebar, debu tebal mulai turun perlahan. Dari balik kabut debu itu, muncul sosok-sosok yang berjalan tegak. Mereka tidak lari. Mereka tidak berteriak ketakutan. Mereka berjalan dengan langkah kaku.
Mereka adalah pengawal desa, pasukan bertopeng putih yang dulu menjadi senjata Ki Surya. Namun kini, topeng putih mereka telah berubah menjadi merah darah dengan ukiran garis-garis hitam yang mengerikan. Jubah mereka yang dulu bersih kini koyak-koyak dan kotor, namun di tangannya, mereka memegang senjata tradisional yang tajam dan berkilau: golok, kebatin, dan tombak bambu yang ujungnya dilapisi zat berwarna gelap yang menetes perlahan ke tanah serta membakar rumput yang disentuhnya.
Di barisan paling depan berjalan Ki Surya. Ia tidak hancur. Ia tidak mati. Wajahnya yang tua dan keriput kini tampak lebih muda, lebih keras, dan lebih kejam. Matanya yang cokelat tua kini bersinar merah terang, sama persis dengan cahaya yang dulu ada di dalam Hati Tanah. Ia tidak lagi terlihat seperti pemimpin adat yang bijaksana. Ia terlihat seperti makhluk yang baru saja mendapatkan kekuatan baru, kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Kau benar, Arka. Kau benar-benar anak yang cerdas. Kau melakukan persis apa yang kami harapkan, meski kau melawan kami. Kau pikir dengan melukai dirimu sendiri, kau akan menghentikan ini? Kau pikir dengan membiarkan darahmu bercampur kau akan memusnahkan kekuatan itu? Tidak, Nak, kau baru saja menyempurnakannya,” ucap Ki Surya, suaranya bergema di udara yang masih bergetar, suara itu terdengar gembira namun juga penuh ancaman dingin.
Ki Surya mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah Arka.
“Kekuatan itu tidak bisa hidup di benda mati selamanya. Ia butuh wadah hidup. Ia butuh darah yang murni, darah yang bercampur, dan darah yang rela berkorban. Kau baru saja menyerahkan dirimu sendiri secara sukarela. Kau sekarang adalah wadah itu. Kau adalah pembawa rantai itu. Dan karena kau yang memegangnya sekarang maka kewajiban kami adalah mengambilnya kembali dengan paksa, apa pun yang terjadi padamu.”
Pengawal-pengawal di belakang Ki Surya melangkah maju serentak, menghentakkan kaki mereka ke tanah hingga menimbulkan getaran kecil. Jumlah mereka puluhan, berbaris rapi, mengelilingi mulut gua sehingga tidak ada jalan keluar sama sekali. Di mata mereka tidak ada lagi kemanusiaan, tidak ada lagi rasa takut, hanya ketaatan buta dan keinginan untuk membunuh siapa saja yang dianggap menghalangi tujuan pemimpin mereka.
“Kalian ingin membunuhku sekarang?” tanya Arka, ia melangkah maju selangkah, berdiri di samping Naya.
Anehnya, rasa takut yang biasa ia rasakan kini hilang. Digantikan oleh rasa panas di dada dan rasa percaya diri yang aneh, seolah ia tahu setiap gerakan musuh sebelum mereka melakukannya.
“Setelah seratus tahun menyiapkanku? Setelah membuatku lahir dan tumbuh hanya untuk ini? Kalian akan membunuh wadah yang baru saja kalian sempurnakan?”
Ki Surya tertawa dingin. “Siapa bilang kami akan membunuhmu? Kami hanya akan melumpuhkanmu. Kami hanya akan mengikatmu. Kau akan hidup, Arka. Kau akan hidup selamanya di bawah tanah, di tempat yang kami siapkan khusus untukmu. Kau akan menjadi sumber kekuatan abadi kami. Darahmu akan kami ambil setetes demi setetes untuk memberi makan desa ini, untuk memberi makan kekuasaan kami, sampai akhir zaman.”
Ki Surya memberi isyarat dengan tangan kanannya.
“Tangkap mereka. Bawa pemuda itu utuh. Gadis itu bunuh saja. Dia tidak lagi berguna. Darahnya sudah kami ambil semua!”
Dua orang pengawal yang berbadan besar dan berotot melangkah maju lebih dulu. Mereka tidak berbicara dan tidak mengancam. Mereka hanya bergerak cepat, seperti binatang buas yang melihat mangsa. Salah satu dari mereka mengayunkan golok lebar ke arah Naya, gerakannya cepat dan mematikan, ujung besinya membelah udara hingga terdengar suara siulan tajam.