Angin malam di pinggiran kota bertiup dingin, membawa aroma hujan yang baru saja reda dan bau aspal basah yang bercampur dengan debu tanah dari bukit-bukit di sekitarnya. Di sebuah rumah kontrakan sempit di sudut jalan yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk lampu kota, Arka duduk bersandar di dinding tembok yang dingin. Kain perban yang melilit dadanya masih basah oleh darah segar, meski rasa sakit itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain—denyutan panas yang teratur, seolah ada jantung kedua yang berdetak di bawah kulitnya.
Di sampingnya, Naya sedang membersihkan sisa kotoran dan luka di lengannya dengan air bersih yang mereka bawa dari hutan, wajahnya masih pucat namun matanya tetap waspada, tak berhenti menatap ke arah jendela yang tertutup rapat.
Suara kalimat terakhir yang tertulis di buku tua itu masih berputar terus di kepala Arka, bergema lebih keras daripada suara apa pun: Mereka sudah keluar dari hutan.. Mereka datang ke tempatmu.
“Kau yakin tidak ada yang mengikutimu ke sini?” tanya Naya pelan
Ia meletakkan kain basah ke samping, lalu menatap Arka lekat-lekat. “Jalur rahasia itu panjang dan berkelok-kelok, tertutup tanah, dan semak belukar. Tidak ada orang yang tahu jalan itu selain keturunan kami. Tapi, setelah apa yang kita lihat, aku tidak yakin lagi apa yang bisa mereka lakukan dan apa yang tidak.”
Arka menggeleng pelan, tangannya meremas sepotong pecahan batu merah yang kini selalu ia genggam erat. Benda itu terasa hangat, seolah hidup, dan setiap kali ia menyentuhnya, ia bisa merasakan bisikan-bisikan samar yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.
“Aku tidak tahu, Nay. Dulu aku pikir kota ini tempat paling aman. Tempat di mana logika dan hukum berlaku, tempat di mana cerita hantu dan kekuatan gaib hanya dongeng pengantar tidur. Tapi sekarang rasanya tidak ada tempat yang aman di bumi ini. Di mana pun aku pergi, rasanya tanah ini tahu keberadaanku. Rasanya udara ini membawa berita ke mana aku melangkah.”
Ia berdiri perlahan, berjalan ke arah jendela, mengintip sedikit dari celah tirai yang kusam. Di luar sana, jalanan tampak sepi, lampu jalan berkedip remang, dan kabut tipis mulai turun menyelimuti rumah-rumah di pinggiran bukit. Namun, mata Arka kini melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang biasa—ada aliran samar berwarna merah gelap yang bergerak perlahan di sepanjang jalan raya, mengikuti jalur kendaraan, menyusuri selokan, dan perlahan mendekat ke arah tempat mereka bersembunyi.
“Mereka benar-benar datang. Mereka tidak hanya mengejarku. Mereka membawa kekuatan itu keluar dari desa. Mereka menyebarkannya ke mana-mana,” bisik Arka, suara tenggorokannya tampak kering.
Tiba-tiba saja, ada suara ketukan pelan di pintu depan. Bukan ketukan biasa—iramanya lambat, berat, dan berulang dengan pola yang aneh: tiga kali cepat, dua kali lambat, lalu satu kali panjang. Arka dan Naya saling bertukar pandang, keduanya langsung berdiri tegak, tangan mereka meraih benda keras apa pun yang ada di dekat mereka sebagai senjata seadanya.
“Siapa itu?” bisik Naya, ia bergerak mundur perlahan ke arah dinding samping, menjauh dari jangkauan pintu, “tidak ada yang tahu kita ada di sini. Bahkan pemilik rumah pun, aku sudah bilang aku baru akan pindah besok pagi.”
Ketukan itu terdengar lagi, iramanya sama persis. Dan kali ini, terdengar suara parau, berat, dan bergetar dari balik kayu pintu yang tipis itu.
“Anak muda, aku tahu kau ada di dalam. Dan aku tahu kau membawa sesuatu yang tidak seharusnya kau bawa. Buka pintunya sebelum mereka datang lebih dulu dan kita semua mati sia-sia.”
Suara itu terdengar tua, sangat tua, namun ada nada tegas dan ketakutan yang mendalam di dalamnya. Arka menatap Naya ragu, namun sesuatu dalam suara itu membuatnya teringat nada bicara kakek Naya—nada bicara orang yang sudah lama hidup dalam persembunyian, orang yang tahu banyak rahasia, dan orang yang sudah melihat kengerian itu sejak lama.
Dengan hati-hati, Arka membuka kunci pintu, menariknya sedikit terbuka. Di balik pintu itu, berdiri seorang lelaki tua yang sangat kurus, bungkuk, dan berpakaian kain goni yang sudah lusuh dan berlubang di sana-sini. Rambutnya putih semua, panjang dan kusut, menutupi sebagian wajahnya yang penuh kerutan dan bekas luka panjang yang melintang dari pelipis sampai ke rahang. Matanya cekung, namun bersinar tajam dan waspada, bergerak cepat memindai wajah Arka, lalu ke arah Naya, dan akhirnya jatuh ke tangan Arka yang masih menggenggam pecahan batu merah itu.
Lelaki tua itu tidak menunggu diundang. Ia langsung masuk cepat, melangkah dengan langkah kecil namun pasti, lalu menutup dan mengunci pintu kembali, bahkan menyandarkan kursi berat di baliknya.
“Cepatmatikan lampu!” perintahnya dengan suara berbisik, matanya melirik ke jendela dengan ketakutan.
Naya langsung mematikan lampu, membuat ruangan itu tenggelam dalam kegelapan, hanya diterangi cahaya bulan samar yang masuk dari celah tirai. Lelaki tua itu duduk di lantai dekat sudut ruangan, napasnya berat dan pendek, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan berat.
“Siapa Kakek?” tanya Arka, ia berjongkok di hadapan lelaki itu, berusaha melihat wajahnya lebih jelas, “bagaimana Kakek tahu kami ada di sini? Dan apa maksud kata-kata Kakek tadi?"
Lelaki tua itu mengangkat wajahnya, menatap Arka lekat-lekat, lalu perlahan tersenyum senyum yang penuh kelegaan.