Bab Pembantaian

Song Rinrin
Chapter #15

Jebakan di Gua Batu

Angin malam di sekitar gedung perpustakaan tua itu berbau apek kertas lapuk, debu batu yang kering, dan aroma anyir samar yang membuat tenggorokan terasa perih—bau darah lama yang tak pernah benar-benar hilang dari tanah ini. Pepohonan beringin tua di sekelilingnya menjulang tinggi, dahannya keriting saling bertaut membentuk atap gelap, daunnya berdesir pelan seolah berbisik memperingatkan setiap langkah yang diambil Arka dan Naya. Semakin dekat mereka ke celah batu di bagian belakang gedung, semakin berat pula udara yang dihirup, seolah ada beban tak kasat mata yang menekan dada, membuat napas terasa pendek dan sesak.

“Ini dia,” bisik Arka, jarinya menyentuh permukaan batu besar yang tertutup lumut kering. Di bawah sentuhannya, samar terlihat kilatan merah tipis yang merambat dari kulitnya masuk ke pori-pori batu, membuat lumut itu perlahan layu dan rontok.

“Pintu masuk samping yang tertulis di peta. Tidak ada kunci, tidak ada tanda, hanya harus digeser.”

Naya berdiri di sampingnya, tangannya mencengkeram erat ujung kain selendang yang ia gunakan sebagai pembungkus belati batu hitam pemberian Kakek Karto. Matanya bergerak cepat memindai setiap sudut gelap, telinganya menangkap suara apa pun di balik desiran angin.

“Terlalu tenang, Arka. Sejak kita tinggalkan rumah Kakek Karto, tidak ada satu pun suara langkah, dan tidak ada tanda kehadiran mereka. Seolah-olah jalan ini memang sengaja dibiarkan terbuka lebar untuk kita lewati.”

Arka berhenti sejenak, menatap gadis itu. Ia tahu naluri Naya tajam, selama ini gadis itu selalu peka terhadap bahaya yang belum terlihat matanya. Namun tarikan di dadanya, rasa dorongan yang kuat seolah ada bagian dari dirinya yang memanggil pulang ke bawah sana, membuatnya tak bisa berhenti sekarang.

“Kita tidak punya jalan lain. Benda kunci itu ada di sini. Kakek Karto bilang hanya dengan itu kita bisa menghentikan Ki Darmaji. Kalau kita mundur sekarang, mereka akan mengejar kita sampai ke ujung dunia.”

Dengan kedua tangannya yang gemetar karena campuran tenaga dan kecemasan, Arka mendorong batu besar itu. Bunyi gesekan kasar yang panjang memecah keheningan, membuat bulu kuduk meremang. Di baliknya, lubang gelap menganga lebar, hawa panas bercampur bau belerang langsung menyembur keluar, menerpa wajah mereka dengan rasa berat yang mencekik. Tangga batu yang curam dan licin menurun jauh ke bawah, hilang dalam kegelapan pekat yang tak bisa ditembus cahaya bulan.

Mereka menyalakan dua batang lilin kecil. Nyala apinya bergoyang hebat tertiup angin dari dalam, namun tetap menyala, menerangi dinding gua yang penuh ukiran kuno—gambar pengorbanan, rantai darah, dan wajah-wajah yang menatap tajam ke arah siapa pun yang lewat. Semakin dalam mereka turun, dinding alami perlahan berubah menjadi batu potongan rapi berwarna hitam pekat, di sela-selanya mengalir cairan merah gelap yang berkilau seperti minyak, bergerak pelan seolah memiliki nyawa sendiri.

“Lihat ukiran ini,” Naya berhenti, menunjuk ke dinding di sebelahnya, “gambar pemuda yang membawa belati hitam, gadis di sisinya, dan sosok yang menunggu di tengah ruangan. Semuanya sudah ada di sini, terukir ratusan tahun lalu. Mereka sudah tahu kita akan datang.”

Arka mendekatkan lilinnya. Benar saja, setiap garis, setiap bentuk, persis seperti apa yang mereka alami sekarang. Di bagian bawah gambar itu, ada ruangan bundar dengan benda bersinar di tengahnya.

“Itu tempatnya. Benda kunci itu ada di sana,” ucap Arka, jantungnya berdegup kencang.

Mereka melanjutkan perjalanan, melewati lorong berliku yang semakin sempit dan panas. Suara gemericik air berirama terdengar dari kejauhan, disertai bisikan-bisikan samar yang memanggil nama Arka berulang kali—lembut, menggoda, namun menyembunyikan ancaman mematikan. Akhirnya lorong melebar menjadi ruangan bundar yang sangat luas, langit-langitnya tinggi hingga tak terlihat ujungnya.

Di tengah ruangan, di atas meja batu besar, tergeletak benda kuno berkilauan campuran emas dan merah, persis seperti yang diceritakan Kakek Karto. Namun saat Arka melangkah maju, Naya langsung menarik lengannya kuat-kuat.

“Tunggu! Jangan melangkah sembarangan! Lihat lantainya!”

Arka menunduk. Seluruh permukaan lantai batu berukir pola rumit membentuk lingkaran dan garis bersambung, dengan celah-celah tersembunyi dan lubang kecil di setiap ujungnya.

“Pola jebakan kuno,” gumamnya, ingatannya kembali pada catatan sejarah yang pernah ia baca, “salah langkah satu kali saja, seluruh ruangan bisa runtuh, atau tombak akan keluar dari lantai.”

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa tarikan di dalam darahnya memandu. Ia bisa merasakan batu mana yang berdenyut seirama dengan dirinya, dan mana yang memancarkan bahaya dingin. Perlahan ia melangkah, meliuk menghindari celah, diikuti rapat oleh Naya yang matanya tak lepas dari sekeliling.

Saat tinggal selangkah lagi menyentuh benda itu, seluruh ruangan berguncang hebat. Jalan masuk tertutup rapat oleh lempengan batu tebal, jeruji besi tajam meluncur keluar dari celah lantai, memisahkan Arka di tengah lingkaran dan Naya di sisi luar. Dinding-dinding berputar pelan, menutup setiap celah pelarian.

Lihat selengkapnya