Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #1

Anak Laki-laki Itu Akan Bernama Will


Bapak menginginkan anak laki-laki itu adalah keharusan. Bahkan sejak masih kuliah pada tahun 1997, di masa-masa pacaran dengan Ibu, Bapak bersikeras, jika punya anak akan diberi nama Will sesuai tokoh film favoritnya, Will Smith, aktor kulit hitam dari film Man in Black. Tapi Ibu menolak. Menurut Ibu, nama itu terdengar aneh.

Ibu sangat mengingat percakapan tersebut karena itu adalah kencan pertama bersama Bapak tepat setahun setelah pertama masuk kuliah. Saat itu mereka sedang berkeliling kota mengendarai vespa kesayangan milik Bapak. Pergi ke bioskop menonton film yang dibintangi aktor favoritnya itu. Setelahnya makan mie ayam berdua tidak jauh dari bioskop itu. Perbincangan pertama mereka adalah tentang betapa inginnya Bapak punya anak laki-laki.

“Kenapa harus dia? Kenapa tidak Leonardo Decaprio? Lebih ganteng. Atau Arnold Schwarzenegger, lebih gagah.”

“Boleh, boleh. Asalkan nama laki-laki,” ucap Bapak. Wajahnya yang tampak semringah.

“Mmm. Memang nggak mau punya anak perempuan?” tanya Ibu kemudian. Alis matanya terangkat menunggu jawaban. Namun, mendengar pertanyaan itu, mimik wajah Bapak perlahan berubah, seperti tidak berniat menjawab apa-apa. “Biasanya sih, kalau orang punya keinginan yang menggebu-gebu itu tandanya dia ada sesuatu yang harus dibuktikan atau dia ada sesuatu yang sama sekali belum pernah didapatkan. Kamu yang mana? Pasti yang pertama ya kan?” Ibu lanjut bertanya.

Namun, entah kenapa suasana menjadi canggung ketika Bapak memilih untuk tetap diam dan langsung mengambil sendok untuk mulai mengaduk mie ayam di hadapannya. Ibu pun merasa segan untuk bertanya lagi dan berpikir apakah pertanyaan seperti itu tidak wajar untuk diajukan di kencan pertamanya dengan Bapak.

Keinginan terbesar Bapak itu baru Ibu pahami saat dirinya berkunjung ke rumahnya. Ibu disambut ibu—ibunya Bapak—dan neneknya. Mereka bercerita kalau Bapak adalah satu-satunya laki-laki di rumah. Selain Ibu dan neneknya, dia juga punya kakak perempuan, sedangkan kakeknya sudah meninggal dan bapaknya meninggalkan mereka saat keduanya masih kecil. Ibu sempat curiga kalau keinginan punya anak laki-laki itu berasal dari dirinya yang ditinggalkan bapaknya.

Saat kuliah, Bapak suka sekali mendaki gunung. Walaupun hobi itu sudah Bapak lakukan sejak SMA, tetapi Bapak lebih aktif di komunitas pencinta alam saat kuliah. Bapak akan selalu bercerita tentang petualangannya itu setiap kali pulang dari gunung pada Ibu. Wajahnya tampak antusias. Di akhir setiap cerita selalu ada kalimat yang sama: “Nanti, kalau aku punya anak laki-laki, aku akan mengajaknya mendaki sejak kecil. Biar dia tahu kalau Indonesia itu indah.”

Tahun 2001 Bapak dan Ibu menikah. Sepuluh tahun pertama pernikahan, rumah itu hanya diisi suara anak perempuan. Tahun 2002 lahir Rani. Tahun 2005 lahir Putri. Tahun 2008 lahir Maya. Mereka bahagia, tetapi Ibu tahu, di dalam diri Bapak ada ruangan yang tidak pernah bisa diisi oleh suara anak perempuan. Ruangan itu bernama Will.

“Bapak!” Suara anak laki-laki memanggil.

Panggilan itu terdengar ketika Bapak sedang mencuci mobil di halaman rumah. Tentu saja Bapak menoleh. Rupanya itu anak tetangga. Ibu melihat binar mata Bapak saat melihat anak itu. Senyum itu lebar tetapi kosong.

Hingga akhirnya, pada tahun 2011, setelah tiga anak perempuan di rumah, di usia yang sudah tidak muda lagi, tiba-tiba ada yang tumbuh di perut Ibu. Ibu sangat senang bisa hamil untuk yang keempat kalinya, sebab sebelumnya dokter bilang sangat rentan baginya untuk punya anak lagi karena rahim ibu bermasalah. Dan ketika dokter bilang itu adalah anak laki-laki, betapa senangnya dirinya, apalagi Bapak saat mendengar kabar tersebut.

Bayi itu lahir kurus tetapi kata dokter paru-parunya kuat. Ia menangis, memecah subuh. Binar di wajah Bapak bersinar terang seperti menemukan cahaya setelah terjebak dalam goa kesabaran. Di ruang bersalin yang dingin, Bapak menandatangani formulir kelahiran, dengan yakin ia menulis huruf kapital di kolom nama: WILL PRATAMA.

Will tumbuh menjadi anak laki-laki yang diinginkan Bapak. Sejak itu, poros rumah bergeser pelan. Foto di dinding yang dulu menampilkan tiga wajah anak perempuan, lama-lama didominasi satu wajah anak laki-laki. Setiap ada tamu datang, yang diceritakan selalu perkembangan Will. Hari ini ia sudah bisa memanjat kursi. Besok ia sudah bisa menyebut nama gunung yang ada di poster kamar Bapak.

Memasuki usia lima tahun, Bapak mulai menyiapkan rencana yang sudah dia simpan dua puluh tahun untuk Will: mendaki gunung. Kali ini bukan angan. Ia membeli sepatu kecil ukuran 28, ransel mini warna biru, botol minum dengan gambar kompas. Wajahnya semringah ketika berada di toko peralatan mendaki gunung bersama Will. Setiap malam, sebelum tidur, ia menggelar foto-foto puncak di lantai kamar dan menunjukkannya kepada Will. Ia bercerita tentang udara yang tipis, tentang batu yang licin, tentang rasanya sampai di atas dan melihat dunia mengecil di bawah.

Lihat selengkapnya