Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #2

Rumah Incaran Bapak untuk Will

Jalanan Kota Bandung tampak ramai pada jam pulang kerja di Sabtu sore. Dengan motornya, Bapak menyalip mobil-mobil yang tersendat-sendat mengular. Sesekali Bapak harus berhenti karena di depan sana para pemotor bergumul menunggu si tukang pengatur jalan dadakan di pertigaan mendahulukan mobil yang keluar menuju jalur utama demi selembar dua ribuan per kendaraan. Saat melihat pedagang buah-buahan di pinggir jalan, Bapak kemudian berbelok ke kios itu.

Rumah Bapak agak jauh dari pusat Kota Bandung. Setelah satu jam berkendara, dari jalan utama itu Bapak berbelok ke sebuah gang besar menuju kompleks perumahan yang terletak di kaki gunung yang merupakan salah satu Gugus Gunung Bandung. Sengaja Bapak membeli rumah di kompleks tersebut lebih dari setahun lalu agar dekat dengan hutan yang berada tidak jauh di belakang rumah. Walaupun disebut kompleks, rumah-rumah di sana adalah rumah sederhana, termasuk rumah Bapak yang bisa ditempati oleh enam penghuni, termasuk satu peliharaan.

Setiap melewati gapura bertuliskan nama kompleks itu Bapak selalu teringat bagaimana dirinya bisa menghuni rumah tersebut dan memboyong keluarganya dari Bekasi ke sana.

Dahulu waktu masih kuliah, ketika pulang mendaki dari Gunung Ciremai, Bapak diundang untuk mengunjungi rumah temannya itu. Tempatnya asri penuh pepohonan, teduh, sejuk, tenteram, dan—entah diksi apa yang bisa menggambarkan suasana lingkungan itu secara sempurna bagi Bapak. Waktu pertama kali melihat tempat tinggal temannya itu, Bapak terkesima dan tidak percaya ada rumah seistimewa itu dengan lingkungannya yang menakjubkan.

Bapak berpikir betapa beruntungnya orang-orang yang punya rumah di kaki gunung dekat dengan hutan, tidak seperti rumahnya yang ada di kota yang panas, bahkan saat sedang tidak terkena matahari pun akan terasa gerah dan harus mengandalkan kipas angin atau AC yang terkadang tidak banyak membantu.

Ketika diajak melihat panorama kota Bandung dari punggung gunung yang tidak jauh dari rumah itu, Bapak semakin terpesona. Pemandangannya sangat cantik, terlebih di malam hari, Bapak merasa iri dan jujur mengungkapkan pada temannya itu tetapi langsung ditanggapi dengan tawa.

“Nantilah kalau rumah ini sudah diwariskan sama saya, saya jual sama kamu.” Temannya itu bercelatuk dan ditanggapi canda oleh Bapak. Namun, celetukan itu tertanam di kepala Bapak dan menjadi harapan serius di benaknya.

Entah apa temannya mau menjualnya atau tidak nantinya, Bapak memilih untuk menabung sejak mendapatkan pekerjaan pertamanya agar bisa membeli rumah itu. Walaupun beberapa kali harus dikuras untuk kebutuhan keluarga dan anak-anak.

Barulah saat lahir Will, Bapak berkontak lagi setelah sekian lama tidak berkomunikasi dengan temannya itu. Meski sudah lupa pernah mengatakan tersebut, temannya menyambut baik. Tetapi sayangnya dia tidak sedang ingin menjualnya. Bapak tetap gigih meminta sampai mungkin temannya itu jengah. Lima tahun kemudian, ketika musibah itu datang, Bapak mengontak untuk yang ke-puluhan kalinya dan akhirnya temannya itu mau memberikan rumah itu dengan harga yang mahal. Bahkan bapak harus menjual vespa kesayangannya agar bisa menambah uang tabungan itu.

Dan di sanalah keluarga Bapak kini berada, di rumah yang sejak 20 tahun lamanya dia incar. Namun, setelah sekian lama berlalu, lingkungan itu menjadi tampak jauh berbeda semenjak pertama dan terakhir kalinya Bapak berkunjung itu. Karena sekarang lokasi itu sudah begitu banyak perubahan. Lingkungan tetap asri tetapi sudah menjadi perumahan sederhana yang terbilang padat. Bahkan pemandangan gunung di belakang rumah sudah hampir tidak terlihat karena dihalangi rumah lain. Di sekelilingnya pun sudah dipagar tembok. Suasana luas yang dulu terasa di lingkungan tersebut hilang. Tapi Bapak tetap membelinya. Itu semua demi Wll.

Waktu Bapak bercerita pada Ibu tentang rumah itu, Ibu sedikit berpikir bahwa sedari dulu Bapak adalah orang yang bersikeras agar keinginannya itu bisa terwujud. Seperti kerasnya Bapak menginginkan anak laki-laki.


***


Hari itu Bapak pulang kerja lebih siang dari biasanya. Di boncengan motornya tergantung dua kantong keresek penuh buah-buahan: Pepaya setengah matang, pisang, manggis, dan juga yang lainnya. Baunya sudah tercium dari pintu pagar oleh tiga perempuan berbeda usia yang ada di gazebo tepi rumah.

Tidak lama setelah memarkirkan motornya tepat di sebelah mobil, Bapak memanggil nama anak laki-lakinya. Tapi yang muncul dari rumah adalah istrinya.

“Bu, ini pepaya bagus. Manis,” katanya begitu masuk, menyodorkan kantong plastik itu. Bapak langsung menaruh helmnya di atas jok dan mulai memanggil kembali nama anak laki-lakinya.

“Will, Wiiiill!” teriaknya sambil berjalan. Pandangannya mencari.

“Will lagi main, Pak.” Ibu menerima keresek tanpa senyum. “Mau mandi dulu?”

“Tolong sediakan air panas saja dulu, Bu. Sekalian potong-potong pepayanya buat Will sama Bapak. Sisanya kasih sama mereka.” Pinta Bapak seraya menunjuk anak-anak perempuannya hanya dengan menoleh sekilas.

Pandangan Bapak masih mencari-cari. Langkahnya ditujukan ke halaman belakang yang berada tepat di sebelah gazebo. “Wiiiill!” teriaknya memanggil.

Hingga tiba-tiba sesuatu bergerak di balik pot-pot tanaman. Daun-daun di atasnya bergetar. Bapak menyungging lalu menghampirinya. Namun sebelum tiba di sana, seekor babi berbulu hitam keabu-abuan muncul dari sana dan langsung berlari menuju Bapak. Bukannya berlari, tetapi Bapak malah menyambut binatang itu dengan tangan terbuka dan memasang raut bahagia.

“Wiiiilll!”

Babi itu langsung berdiri, meloncat-loncat di depan bapak. Kakinya yang pendek menghantam tanah berumput. Bapak berlutut untuk memeluknya. Sementara itu tiga perempuan yang ada di gazebo memandang sinis pada pria yang sudah terlentang di sebelah babi itu dan mengusap-usap. Suara khas binatang meng-oik-oik itu terdengar lantang, tingkahnya tampak ceria seakan mengajak Bapak bermain.

Hingga Bapak bangun dan berdiri, binatang itu langsung berlari seperti minta dikejar. Bapak pun mengejar. Dengan kaki-kaki pendeknya babi itu berlari mengelilingi taman, ke belakang pot-pot, hingga ke area gazebo mengganggu aktivitas yang sedang dikerjakan Rani, Putri, dan Maya hingga mereka merasa terusik.

Bapak akhirnya bisa menangkap binatang kesayangannya ketika dia kembali berlari ke tengah taman. Bapak menjatuhkan diri agar bisa menggelitiknya. Mereka berteriak seru, asyik berdua, yang membuat Rani menoleh ke arah asal suara lalu memasang wajah dengki.

Lihat selengkapnya