Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #3

Sepotong Memori dari Vespa Hitam Loreng milik Bapak


Konon katanya, Vespa itu adalah warisan turun temurun. Dari kakeknya Bapak yang membelinya dari seorang kolektor, diberikan ke bapaknya Bapak, lalu ke Bapak. Sebenarnya Kakeknya punya beberapa, tapi disimpan di dalam garasinya dengan menggantungkannya menggunakan troli dan rantai seolah itu benda bersejarah di museum otomotif. Bapak pernah melihatnya sekali waktu kecil. Namun, Bapak tidak terlalu tertarik. Walaupun begitu, Bapak tetap menerima warisan itu dari bapaknya. Dan digunakannya sejak dirinya SMP karena bapaknya itu hampir tidak pernah ada di rumah untuk bekerja di suatu tempat yang jauh.

Kendaraan klasik itu disebut-sebut kesayangan Bapak oleh perempuan-perempuan yang ada di rumahnya: neneknya, Ibunya, dan kakaknya. Tetapi Ibu sangsi. Sebab Bapak lebih memilih menjual vespa itu demi rumah incarannya demi bisa memelihara Will.

Sekarang, setelah pindah ke Bandung, Bapak membeli motor matic keluaran terbaru khusus untuk mobilisasi keluarga di rumah. Meski seringnya dipakai Bapak bekerja. Bapak sangat jarang sekali memakai mobil, sebab kendaraan roda empat itu adalah milik Ibu yang diberikan orang tuanya. Rani pernah meminta dibelikan motornya sendiri, tetapi Ibu menolak. Alasannya, anak sulungnya itu masih belum butuh sebab untuk bepergian, dia bisa diantar Ibu atau menggunakan motor Bapak. Padahal Rani harus menunggu Bapak pulang setiap kali ingin pergi jalan atau sekedar nongkrong bersama teman-temannya.

Warung depan kompleks ramai seperti biasanya. Apalagi itu adalah malam minggu. Letaknya yang berada tepat di samping gapura dan menghadap langsung ke belokan jalan besar, membuatnya sesekali tersorot lampu kendaraan yang lewat, juga suara mesin terdengar jelas sekilas menderu. Rani duduk di bangku bersama teman perempuannya berbincang ringan sambil menyantap camilan dan jus alpukat kesukaan-nya, sementara empat teman laki-laki sedang bermain gim di atas sofa butut. Warung itu sudah jadi basecamp mereka. Di depannya, tukang cuangki sedang melayani pembelinya.

“Biasanya lu ikutan main, Dit.”

“Nggak ah, lagi malas,” jawab Dita.

“Iya, Dit. Nanti sudah ini main bareng. Masa nggak ikutan,” sahut Ijal. Sepertinya karakter heronya sedang mati.

“Nggak ada kuota aku teh, Jal. Aku nebeng wifi kamu atuh ya?” pinta Dita.

Lelaki berambut lurus itu mendelik. “Kalau aku nge-hotspot-in kamu, ya aku nge-lag nanti.”

Dita tertawa. “Ya makanya.”

“Kalau lu mau main, pake wifi gue saja, Dit,” Rani menawari.

Tetapi Dita menolak. Wajahnya tampak kecut sambil menggeleng. Lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir.

“Kenapa?” Tanya Rani merasa aneh.

“Nggak apa-apa,” ucap Dita. Sebentar mereka diam. Sebentar saja karena selanjutnya mereka berbincang kembali.

Sampai suara berisik mesin vespa tua berhenti tepat di depan warung. Standar samping diturunkan. Seorang laki-laki tinggi, berjaket kulit coklat turun. Dia menghampiri lemari pendingin yang terpajang di depan warung dan membukanya. Diambilnya sebotol minuman teh. Setelahnya lelaki berambut gondrong belah dua itu menuju kasir untuk membayar sekalian membeli rokok. Rani yang melihatnya kemudian menyenggol Dita dan menunjukkan ke arah warung dengan dagunya.

“Cakep, ya?” bisik Rani.

“Apa yang cakep?” Dita Heran. Barulah ketika lelaki berwajah oriental dengan kumis tipis itu keluar dari warung, Dita paham maksudnya. Lelaki itu berdiri di depan warung, membuka botol, dan meneguknya langsung. “Oo, iya, cakep pisan, Ran.”

Rani melirik Dita yang tampak terpesona oleh lelaki itu. Merasa aneh, Rani menyenggol sahabatnya itu dengan sikut. Dia tahu lelaki memang cakep, tapi yang dia maksud itu adalah kendaraan yang terparkir di depannya. Rani hanya bisa menggeleng oleh kelakuan Dita. Lelaki itu kemudian kembali menaiki Vespa Sprint hitam itu, lalu melaju pergi setelah sempat tersenyum ke arah Rani dan Dita.

“Cakep pisan si Aa, ih.” Dita tersenyum.

“Iya.” Rani menyungging. “Vespanya juga cakep,” tambahnya.

“Iya, bagus sih. Tapi suaranya kok gitu, ya? Berisik.”

Rani tertawa kecil. “Iya memang begitu. Apalagi Vespa tua. Tapi harganya mahal, Dit.”

“Oh, ya?” tanya Dita. “Tahu dari mana?”

Ketika ditanya soal itu, Rani terdiam sebentar. Termangu. “Dulu Bapak gue punya Vespa. Tapi sudah dijual.”

“Yah. Kenapa dijual?”

Lihat selengkapnya