Itu pukul 00:54 dini hari ketika kendaraan yang digunakan Rani terdengar mendekati rumah. Wajah perempuan itu tampak lelah dan mengantuk saat tiba di teras. Dia langsung memarkirkan motor maticnya. Tidak lupa menutup pintu pagar sebelum masuk rumah melalui pintu dapur di belakang karena yakin pintu depan sudah dikunci. Walaupun disebut perumahan, tapi di sana tidak ada security yang menjaga. Hanya petugas LINMAS yang tidak setiap hari berkeliling kompleks.
Rani terkejut saat melewati gazebo karena melihat Bapak sedang merokok di sana. Sebenarnya canggung. Tapi Rina berusaha untuk tampak tenang. Bapak pun tidak berbicara apapun melihat anak perempuannya pulang larut malam. Rina langsung menghampiri Bapak.
"Kuncinya, Pak," ucap Rina datar seraya menyodorkan benda itu.
"Mmm." Bapak masih merokok saat menunjuk tempat di sampingnya dengan wajahnya yang dibuat serius.
Tanpa basa-basi, Rani langsung meletakkannya di samping cangkir kopi yang sudah kosong dan hanya tersisa ampas. Dia sempat melirik beberapa puntung rokok di asbak. Entah sudah berapa lama Bapak duduk di sana. Lalu tanpa mengucap permisi, Rina lekas melangkah ke taman menuju pintu dapur.
Rupanya, pintu dapur tidak tertutup. Malah terbuka lebar. Rani bisa melihat kamar belakang yang dihuni babi peliharaan Bapak itu dari taman saat berjalan di sana. Mungkin Bapak sedang mengawasinya. Padahal dia sempat berpikir kalau Bapak terduduk di gazebo karena mengkhawatirkan dan menunggu dirinya pulang. Perempuan yang memiliki rambut Bapak itu sudah telanjur senang walau tidak mau menunjukkannya.
Rani masuk melalui pintu dapur itu. Dia tergelitik untuk melihat ke arah "kandang" itu dan melihat penghuninya yang sedang tertidur dengan melipatkan keempat kakinya di atas kasur busa dekil. Rani menyungging. Dari sana dia langsung naik tangga beton yang berada tepat di depan dapur sebelum lorong menuju ruang keluarga.
"Kamu belum tidur, Put?" tanya Rani saat melihat adiknya itu masih terbaring di ranjangnya dengan ponsel yang menyala di tangan. Dia kemudian melangkah ke ranjangnya setelah menutup kembali pintu kamar dengan pelan karena takut membangunkan Maya yang sudah tidur pulas.
Putri terbangun duduk. "Belum, Kak," jawabnya. Wajahnya tampak murung. Sekilas dia melihat kakak tertuanya itu beranjak duduk di tepi ranjang, seperti ada yang ingin dibicarakan. Kemudian dia melihat kembali ponselnya.
"Ada apa?"
Putri tampak menggulir layar di ponsel. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia menunjukkannya pada Rani dengan memberikan langsung benda itu.
"Apa ini?" Mata Rani mengamati. "Mencari anggota—K-POP Dance Cover Community," Rani bergumam membaca. "Kamu ingin ikut daftar?"
Putri mengangguk pelan.
"Ya sudah, besok minta antar sama ibu, atau sama bapak?"
Putri mendelik pada kakaknya itu. Rani tersenyum paham. Bapak tidak mungkin mau, sebab seluruh rumah tahu bahwa Bapak tidak akan pernah mau mengurusi urusan perempuan.
"Ya sudah. Besok kakak antar ke sana. Dekat kok ini."
Tanpa mengucapkan sedikit kata-kata, Putri mengangguk senang.
Rani pun mengembalikan ponsel Putri dan gegas berdiri. Dia kemudian membuka jaketnya dan menggantungkannya di gantungan baju di belakang pintu. "Sekarang tidur dulu, Put. Sudah malem. Jangan main hape melulu."
Mendengar itu, Putri langsung mematikan ponselnya dan kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Sementara, Rina mengambil handuk dan berjalan keluar untuk pergi ke kamar mandi.
Putri sebenarnya sudah berumur 14 menuju 15 tahun. Umur yang seharusnya cukup dewasa untuk mengerti arti bersosialisasi di lingkungan sekitar atau pun sekolah. Tetapi, sedari kecil anak gadis itu tidak punya banyak teman. Sebelum pindah ke Bandung pun temannya di rumah lama hanya sebatas tetangga yang kalau tidak diajak bermain, Putri tidak akan keluar rumah. Satu-satunya teman yang bisa membuatnya senang adalah ponsel dengan ratusan video dan lagu koreanya. Di media sosialnya hanya ada sosok lelaki dan perempuan korea dengan wajah-wajah yang kecantikan dan ketampannya tampak tidak realistis. Blackpink dan BTS adalah grup yang dia paling sukai. Hampir semua lagunya dia tahu. Selama beberapa minggu belakangan, lagu merekalah yang sering menggaung di kamar, yang dihuni tiga anak perempuan Bapak.
"Kakak matikan lampunya ya, Put," bisik Rani sekembalinya dari kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban dari gadis itu. Rani pun lekas mematikan lampu kamar dan beranjak ke ranjangnya.
****