Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #5

Apakah Semua Pria Seperti Bapak?


Rani membuka kotak bekal nasi goreng buatan ibu yang langsung mengeluarkan uap panas serta wangi minyak ayam dan bawang goreng yang tercium menggiurkan. Di atas meja, sudah ada dua botol minuman teh manis dingin. Dia melirik adiknya yang terduduk di sampingnya dengan kotak bekal yang masih tertutup rapat. Putri sepertinya masih bersedih akan kegagalan audisinya. Mereka kini sedang beristirahat di depan toko ritel ternama yang biasa terlihat di berbagai sudut jalan besar.

"Kamu yakin mau ikut les tari itu?"

"Iya. Kak."

"Memang tadi mereka bilang apa, sih, Put?" Rani benar-benar penasaran. Sudah berkali-kali sebenarnya Rani bertanya sebelum datang duduk beristirahat di sana. Tapi Putri belum mau menjawab.

Putri masih terdiam. Tapi tak lama kemudian dia mulai berbicara. "Katanya gerakan aku masih kaku, Kak. Masih terkesan centil dan lebay. Kayak tukang joget-joget di tiktok," ucapnya.

"Hah? Tiktok apaan?"

"Ada lah pokoknya. Itu aplikasi baru yang biasanya buat orang-orang tampil joget-joget sama acting, Kak."

"Oh. Jahat betul, ya, mereka."

"Nggak apa-apa, Kak. Memang benar, kok, Putri masih kurang gerakan menarinya. Makanya Putri mau les tari di studio itu." Putri termenung. "Kira-kira Bapak ngizinin nggak ya?"

Rani menoleh pada putri. "Jangan pikirin Bapak. Bapak nggak akan peduli, Put. Kalau ibu pasti ngizinin," ucap Rani. Putri tersenyum. "Ya sudah. Nanti kakak bantu daftar ke studio itu. Bisa daftar online juga, kan?" tanya Rani. Putri mengangguk. "Nanti daftar di rumah sekalian bilang dulu ke Ibu. Sekarang kamu makan dulu, Put. Pasti kamu lapar, kan. Makanya tadi gerakannya kurang. Badan kamu lemas." Maksud Rani Becanda. Tetapi tidak ada sedikitpun tanggapan dari adiknya itu.

Putri pun lekas membuka kotak bekal makannya dan langsung menyantapnya sambil menikmati salah satu sudut Kota Bandung yang baru pertama kali kunjunginya berdua.

Siang menjelang saat mereka sudah menyelesaikan santap siangnya dengan bekal yang seharusnya buat sarapan pagi. Selanjutnya dua gadis belia itu memilih tetap duduk di sana, menyemil beberapa snack yang dibelinya di toko tersebut, dan berbincang. Termasuk berbincang perihal Bapak. Putri yang sebelumnya tidak pernah mempertanyakan itu, sekarang bisa bebas menuangkan pikiran-pikiran yang selama ini dipendanya tentang Bapak ke wadah obrolan itu bersama kakak.

Sepertinya pemikiran mereka sama karena pernah merasakan hal yang sama tapi enggan mempertanyakannya. Perbincangan itu sampai pada titik kesimpulan yang pasti: bahwa Bapak tidak peduli pada anak-anak perempuannya dan lebih sayang—perhatian pada anak laki-lakinya.

"Mungkin hilangnya Will itu karma dari Tuhan, ya, Kak."

"Eh. Kamu jangan bilang begitu, Put. Walaupun Bapak kurang perhatian sama kita. Tapi Bapak tuh masih mau bertanggung jawab sama kita. Buktinya kita masih disekolahkan. Yah walaupun...." Rani sejenak terdiam.

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya