Babi Peliharaan Bapak

Hendra Wiguna
Chapter #6

Semuanya Normal


Seonggok amplop tergeletak di atas nakas samping meja televisi. Itu adalah surat undangan dari sebuah klinik psikiatri yang datang dua hari lalu, yang juga berisikan pamflet tentang kesehatan mental terkait. Sudah beberapa kali Ibu berkonsultasi ke sana. Ibu sempat takut apakah dengan membiarkan Bapak seperti itu adalah tindakan yang benar. Apakah itu bisa mengganggu kesehatan mental dirinya ataupun anak-anak. Karena itu, sekitar setahun lalu ibu memeriksakan diri kondisi kesehatan mentalnya ke psikolog. Akan tetapi klinik itu selanjutnya malah merekomendasikan agar Bapak yang harus berkonsultasi.

Berkali-kali Ibu membujuk Bapak agar mau pergi setiap surat undangan itu datang. Berkali-kali juga Bapak menolak. Dia bersikeras kalau dirinya baik-baik saja. Normal katanya. Karena toh, Bapak masih bisa beraktivitas sewajarnya tanpa kondisi yang ibu sebut depresi.

Minggu sore. Matahari setengah tinggi tapi hawa di ruang keluarga tetap dingin. Gorden setengah terbuka, cahaya masuk membentuk garis di karpet yang sudah mulai pudar. Tampak melalui jendela itu Maya sedang bermain di gazebo. Sementara Ibu duduk di sofa, memeluk bantal. Matanya menempel ke foto pernikahan di dinding. Hampir 20 tahun lalu di gereja kecil, Bapak berdiri kaku dengan senyumnya. Tangan bapak menggenggam tangan Ibu erat seolah takut kehilangan. Seolah cahaya lilin-lilin pernikahan baru dinyalakan oleh janji suci.

Ibu mengingat di momen pernikahannya itu, dulu Bapak membuat lelucon sampai semua tamu terpingkal. Sekarang lelucon-leluconnya hanya dia buat untuk babi peliharaannya, walau binatang itu pasti tidak akan mengerti. Dahulu Bapak seringkali tertawa saat bersama Ibu. Sekarang dia hanya mau tertawa saat bermain bersama babi peliharaannya. Seperti hari ini, Bapak menghilang. Ibu sudah hafal ritme hari Minggu Bapak: Bangun subuh, mengurus babi peliharaannya hingga siang. Terkadang mereka menghilang bersama di hutan belakang kompleks. Ibu sama sekali belum pernah mengunjungi tempat itu.

Siang menuju sore, Bapak akhirnya pulang ke rumah setelah seharian berjalan-jalan bersama babinya. Dia berjalan menuju kamar melewati ibu.

"Pak." Ibu memberanikan diri memanggil.

"Iya." Bapak berhenti tepat sebelum masuk kamar.

"Soal klinik psikiatri itu. Sekali saja, Pak, datang ke sana, yuk. Sekali saja."

Raut wajah Bapak langsung berubah keruh. Jengah dengan pertanyaan itu. Napasnya terdengar berhembus berat. "Nggak, Bu. Bapak nggak kenapa-napa."

Bapak kemudian masuk ke kamar dan keluar dengan handuk tersampir di bahu kanannya.

"Ke psikolog itu bukan aib, Pak. Justru itu akan membantu Bapak berpikir realistis."

"Maksud Ibu?" tanya Bapak. Dia masih berdiri di depan pintu kamar. Wajah itu dari keruh berubah kesal, dahinya mengernyit kuat. Tetapi dia segera mengambil napsa untuk menenangkan. "Jadi Ibu pikir Bapak nggak berpikir realistis sekarang?" Bapak mengucapkan itu sambil berjalan ke lorong untuk menuju kamar mandi di dapur

Lihat selengkapnya